Trak! Bunyi dua besi beradu ini telah mengalihkan pandangannya. Pemuda sebaya denganku itu tak lagi menatap meja sewarna kayu yang berada tepat di hadapan batang hidungnya. Netranya bergulir perlahan. Menyelisik dan membaca setiap gerakan yang kubuat dari setiap langkah kaki ini hingga pada seringai keji di wajahku. "Hallo, Sean." Dia bergidik. "akhirnya gue bisa ketemu sama lo sedekat ini. Apa lo puas sekarang?" Sean tampak kesulitan menelan ludahnya sendiri. Dia tak menjawab pertanyaanku. Aku balik memberikan sorotan sayu dengan nada kebencian yang teramat besar lewat kedua manik hitam ini. Sean tampak setengah mati menyembunyikan rasa was-wasnya di depanku. Tak kusangka, dia memiliki kemampuan akting yang luar biasa. Mata orang i***t di luar sana akan teperdaya oleh wajah tegas y
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


