"Mas anterin Ara ke apartemen Nashwa aja ya" ucap Ara saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kamu ada masalah dirumah?" Tanya Baim sembari fokus ke jalan
Ara menggeleng pelan, "Nggak mas, cuma lagi pengen main sama Nashwa aja" kilahnya berbohong
"Yaudah"
Mereka pun sudah sampai di gedung apartemen Nashwa, Ara di antar hanya sampai di depan gedung seperti permintaanya.
"Benar nggak mau mas anter ke dalam?" Tanya Baim.
Ara mengangguk pasti, "Iya mas"
"Ya sudah hati-hati ya" ucap Baim tak lupa ia memberi satu kecupan di dahi sang wanita, setelahnya Ara turun dari mobil sembari melambai tangan hingga mobil sang kekasih tak lagi terlihat.
Ara berjalan masuk kedalam gedung apartemen Nashwa namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang saat ia berbalik ternyata..
"Kamu..?!" pekiknya tertahan karena seperkian detik selanjutnya tangannya ditarik oleh orang itu kesatu tempat yang jauh dari keramaian.
"Lepaskan aku Tama!"
"Kenapa pergi ?" Tanya pria itu dingin menatap tajam dua bola mata wanita didepannya.
"Kenapa aku harus beritahu kamu!" jawab Ara sengit.
Tama menghela napas, "Aku khawatir"
Deg.. Mampus.
'Kenapa!! bisa nggak lo enyah aja dari hidup gue aja! gue muak dengan perasaan abu abu gue !! SETAN !' Maki Ara dalam hatinya saat ia akan mau move on pria itu kembali membawa sebuah harapan.
"Jangan khawatir, karena kita bukan berada di titik untuk saling khawatir satu sama lain" ungkap Ara
"Gimana kabar kamu?" Tanya pria itu lagi
"Aku mencoba baik-baik aja setelah kejadian itu, dan berhenti jangan datang lagi"
"Kamu mau aku pergi?"
"Iya"
"Yakin?"
Ara menghela napasnya, "IYA TAMA! IYA ! PERGI!" pekiknya kuat namun bodohnya pertahanan dirinya yang lemah bulir air mata mulai menetes dipelupuk matanya pertanda bahwa ia tak kuat.
"Baik, aku akan pergi" ucap pria itu memutuskan dan setelahnya mereka terpisah dengan pria itu memilih untuk meninggalkan wanita itu seorang diri seperti permintaannya.
Setelah kepergian Tama, Ara terduduk lemah. Bulir air mata yang tadi hanya menetes satu satu kini semakin lama semakin deras. Menandakan bahwa lkepergian pria itu membuatnya terluka.
Nashwa yang baru datang dari arah lain melihat sahabatnya terduduk lemas gitu sontak berlari mendekat dan memeluknya penuh hangat.
"Kenapa Ra?"
"D-dia pergi Wa.." ucapnya di sela tangisnya yang terdengar miris.
"Dia siapa?"
"Dia..."
"Yaudah kamu nangis dulu nanti kita lanjut cerita setelah kamu tenang ya"
Setelah kurang lebih tiga puluh menit menangis kini Ara sudah sedikit baikan, Nashwa yang mengerti lantas langsung menuntun sahabat karibnya itu masuk kedalam gedung apartemen dan membawa masuk ke dalam apartemennya yang berada di lantai tujuh.
"Kamu berantem sama Kak Baim?" Tanya Nashwa saat mereka sudah berada didalam aparetemen miliknya bersama dengan Ara yang ada didekatnya.
wanita muda itu menjawab dengan menggeleng lemah.
"Jadi kenapa lagi Ra?"
"Gue ketemu dengan Tama" ungkapnya sambil tersedu sedu
"Kok Bisa?"
"Dia datang kesini? kenapa?" Tanya Nashwa lagi.
"Mana gue tau"
"Jangan-jangan dia nyari lo lagi"
"Sok istimewa banget gue, lo tau kan dia dulu gimana ke gue"
"Ya bisa aja, kalian kan.." Nashwa tak melanjutkan ucapannya
"Kami apa?"
"Nggak nggak ada" geleng Nashwa cepat.
"Terus gue mau tanya kenapa lo nangis? sesedih itu lo ketemu dengan dia?"
"G-gue..
"Gue apa Ra?"
"G-gue.. ngusir dia dari hidup gue Wa.."
"What! Kenapa? lo sudah bosan hidup? kata lo dia penyemangat hidup lo dan jangan lupakan dia yang sudah ngeperawanin lo ARABELLA!!"
"Gimana si lo, katanya lo ngedukung gue sama mas Baim kok sekarang malah bela Tama? ngak punya pendirian ya lo!" ucap Ara penuh emosi
"Bukan gitu, sekarang ceritanya sudah beda! dan satu lagi ada pertanyaan penting yang harus lo jawab sama gue!" Nashwa menarik tubuh Ara mendekat bahkan badan sahabatnya itu sudah balikan agar menghadap tepat dengannya.
"Apa? kok gue takut ya"
"Jawab yang jujur! lo waktu ngelakuin itu sama Tama pakek pengaman nggak?" Tanya Nashwa penuh penekanan, Ara yang diberi pertanyaan malah terdiam sepertinya ia sedang berpikir.
"Jawab gue ARABELLA! Jangan diam"
"Gue lupa Wa, lo kan tau waktu ngelakuin itu gue nggak sadar" ucapnya sendu, sungguh Ara lupa akan hal itu.
Nashwa yang sudah kesal menonyor kepala temannya tanpa ampun, "Kok Bisa gue punya teman sebodoh lo ya!"
"Gimana ni?"
"Berdoa aja semoga nggak jadi bayik!" ucap Nashwa penuh penekanan setelahnya ia keluar dari kamar, setelah kepergian Nashwa Ara diam seribu bahasa ia mengingat ingat kapan ia terakhir haid dan menulis memo itu di dalam ponselnya untuk menjadi pengngatnya sekarang.
'Plis jangan jadi ya, semoga cacingmu itu nggak aktif didalam sini' ucapnya absurd sembari tangannya mengelus perut ratanya itu.
**
Satu minggu kemudian tepatnya hari ke lima belas setelah kejadian pada malam itu, Ara masih menginap diapartemen Nashwa ia pamit dengan orang tuanya dengan alasan bahwa apartemen Nashwa dekat dengan kantor kerjanya padahal ia sedang ingin menengkan diri di tempat sahabatnya, walaupun mereka kalau bertemu seperti Tom and Jery karena jarang sering ribut namun ketahuilah kasih mereka benar-benar tak tertandingi.
Dengan tubuh lemas Ara berjalan sempoyongan menuju dapur, disana Nashwa sedang sibuk memasak dengan celemek pink menggantung ditubuhnya.
"Tumben kebo sudah bangun" cibir Nashwa saat Ara berjalan menuju kulkas yang dekat dengannya.
"Gue bukan kebo asal anda tau" jawab Ara sambil meminum air yang ia dapat dikulkas "Eh gue lihat di ruang tamu ada banyak makanan, ada acara apa nanti malam?"
"Oh itu dari mas Baim, tadi dia mampir katanya buat lo"
"WHAT!" tersembur semua air yang ada di dalam mulutnya.
"GILA YA LO!!" Pekik Nashwa kesal karena semburan air dari mulut Ara berimbas ke masakan yang sedang ia buat.
"Kenapa lo terima!"
"Gue nggak enak nolak lagian lo gue bangunin juga nggak bangun bangun ya udah gue ambil aja" ucapnya sembari mencoba menyelamatkan nasi gorengnya.
"b*****t BANGET LO!"
"Yaudah makan aja lagian mubazir dibuang"
"Lo nyuruh gue makan, tapi lo malah masak nasi goreng! waras lo"
"Ini untuk ayang beb dia lagi mau makan nasi goreng buatan aku"
"Gue agak aneh kok bisa ya si Rio makan masakan lo"
"Anjir tolong ya masakan gue ini paling enak katanya"
"Iya deh, kalau sudah bucin mah mau bangkai pun rasanya kek pizza" cibir Ara.
"Besok-besok jangan terima lagi ya" ucapnya sembari berjalan ke kursi makan yang terletak tak jauh dari tempat Nashwa memasak.
"Kenapa?"
To Be Continue