Part 17

1897 Kata

Langit semakin menghitam, pun dengan angin yang belaian dinginnya kian menusuk. Di dalam mansion, sepasang orangtua tengah menanti kabar sang buah hati. Sang ibu yang terus merintih dalam doa, sedangkan sang ayah hanya bisa duduk di samping sang ibu sambil memberikan pelukan ketenangan. "Mase, putraku, Aslan. Mengapa mereka menculiknya? Apa salahnya? Mase, bagaimana keadaannya? Apa mereka tidak lupa memberi Aslan s**u? Apa mereka memperlakukannya dengan baik? Mase, kumohon bawa dia kembali. Mase, aku bisa gila. Mason...," racau Cassie sambil terus mengeluarkan air mata. Sejak tadi, tak ada yang bisa Cassie lakukan selain menangis dan menangis. Ia bahkan tidak mau makan. Seharian ini ia hanya meringkuk bagai janin di ranjang milik Aslan sambil memegang mobil-mobilan kesukaan Aslan. "Saba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN