Pagi di hari kesepuluh pernikahan mereka berganti dengan atmosfer yang jauh lebih berat dari hari-hari sebelumnya. Rania Ayu Putri tidak pulang ke rumah mewah keluarga Wicaksono hingga fajar menyingsing. Ia menghabiskan sisa malam dengan duduk membisu di atas kursi besi koridor rumah sakit, menatap bayangan tubuh ayahnya melalui dinding kaca—tubuh ringkih yang kini bernapas dan bertahan hidup sepenuhnya berkat bunyi ritmis mesin penyokong hidup yang disewa dengan uang suaminya. Baru pada pukul tujuh pagi, setelah memastikan perawat selesai mengganti cairan infus dan memosisikan tubuh ayahnya dengan nyaman, Rania melangkah masuk kembali ke kediaman Wicaksono. Langkah kakinya terdengar pelan dan teratur di atas lantai koridor depan. Tubuhnya teramat lelah, matanya menyiratkan kurang tidur y

