Bab 19

1277 Kata

Tiga hari telah berlalu sejak perjamuan makan malam di kediaman utama Wicaksono. Rumah besar itu seolah berubah menjadi kotak kaca raksasa yang kedap suara—megah, berkilau, namun menyesakkan bagi siapa pun yang terjebak di dalamnya. Ritme kehidupan di sini bukan ditentukan oleh kasih sayang, melainkan oleh rutinitas yang dingin dan kaku. Rania Ayu Putri telah belajar untuk tidak lagi mencari hangat di tempat yang hanya menyediakan api untuk membakar. Pagi itu, udara di ruang makan terasa jauh lebih tipis dari biasanya. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, menyinari perabotan mahal yang tertata sempurna, namun tidak mampu mencairkan kebekuan di meja makan. Raka Aditya Wicaksono duduk di kepala meja dengan wibawa yang menekan, jemarinya yang panjang dan kokoh memegang tablet perusahaan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN