Lori mengabaikan sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ia mendengus pelan seraya meletakkan ponselnya di atas meja. Ada perasaan lega yang masuk ke dalam jiwanya saat ia mendapatkan sebuah pesan yang berasal dari Chris. Pria itu mengatakan kalau dia akan pergi ke luar negeri untuk mengurusi perusahaannya yang ada di sana.
Setidaknya kepergiaan pria itu untuk saat ini sedikit membantunya dalam melancarkan aksinya untuk meyakinkan Jordan bahwa ia bukanlah wanita yang gila harta walau ia menggeluti profesi sebagai wanita bayaran. Ia melakukan semua itu demi menghidupi keluarganya. Caranya memang salah, namun, apalagi yang bisa ia lakukan saat ini selain menggeluti pekerjaan haram itu.
Lori melirik jam dinding yang tergantung di ruang tamu rumah Jordan. Ia mengembuskan napas lelah. Sudah hampir lima jam lamanya ia hanya duduk di tempat tersebut tanpa melakukan apa pun. Sungguh, ia tak tahu lagi harus pergi kemana. Ia sudah tak tinggal di apartemennya lagi karena setelah Jordan kembali dari Skotlandia, pria itu memaksanya untuk tinggal di rumahnya saja. Dan barang-barangnya pun sudah berada di rumah ini semua.
Lagipula, apartemennya itu sudah di tempati oleh orang lain yang ingin menyewanya. Harganya yang tergolong murah serta ruangannya yang lumayan bersih dan lengkap, membuat banyak orang berlomba-lomba untuk menyewa apartemen yang ada di sana.
"Makanlah dulu. Aku tahu sejak pesta pernikahan kalian selesai, kau belum juga makan," ujar Chloe seraya meletakkan roti isi dan segelas minuman di atas meja. Ia kemudian mengambil duduk di hadapan Lori.
Lori menatap Chloe salah tingkah. Rasanya ia malu jika harus berhadapan dengan gadis yang satu ini. Kejadian tadi malam pasti langsung membuat adik tiri Jordan itu mencapnya sebagai wanita tidak benar. Ia yakin jika gadis itu juga sangat membencinya karena ia telah membohongi Jordan.
"Tidak usah sungkan. Aku tidak membencimu seperti Jordan. Aku tahu kalau kau berada di bawah kuasa Rosita," ucap Chloe dengan senyum tulus yang bertengger di bibirnya.
"Sungguh, aku tidak enak denganmu. Maafkan aku karena telah membuat keluargamu jadi berantakan seperti ini."
Chloe kembali menunjukkan senyumnya. "Sebelum kau datang, keluarga ini juga sudah berantakan. Jadi, jangan merasa kalau semua ini terjadi karena kesalahanmu. Di mataku, kau hanyalah korban, sama seperti Jordan."
Lori menyatukan kedua alisnya, tampak tak mengerti dengan perkataan Chloe barusan. "Maksudmu? Sungguh, aku tidak mengerti. Aku melihat kalau keluarga kalian ini adalah keluarga yang begitu harmonis."
Chloe terkekeh pelan. "Ternyata kau juga telah di butakan dengan sikap mereka selama ini," ucapnya seiring dengan tubuhnya yang ia condongkan sedikit ke depan agar bisa menatap Lori lebih dekat. "Jangan melihat orang hanya dari penampilan luarnya saja, Lori. Apa yang di perlihatkan Rosita selama ini hanyalah sebuah tipuan. Dia melakukan semua kebaikan itu agar kebusukannya tak terdeteksi oleh orang-orang. Dan keluarga kami yang kau bilang begitu harmonis ini juga merupakan tipuan," ia tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya kemudian mengubah posisi duduknya kembali ke posisi awal.
Betapa terkejutnya Lori ketika mengetahui fakta tersebut. Sejauh yang ia tahu, Rosita adalah wanita baik dengan keluarga harmonis yang selalu mendukungnya. Semua orang tahu mengenai dirinya. Rosita adalah istri ketiga yang di nikahi oleh ayah Jordan. Dan ia adalah satu-satunya wanita baik yang di nikahi oleh pria itu karena sebelumnya suaminya itu menikahi wanita yang tidak benar sebanyak dua kali.
Saat itu Lori percaya-percaya saja dengan cerita tersebut. Ia juga sudah membuktikan kalau Rosita memang wanita yang baik. Dan itu terjadi sebelum wanita itu menjebaknya. Untuk saat ini, Rosita tak lebih dari sekadar iblis di matanya.
Cerita Chloe barusan juga semakin menguatkan pemikirannya sendiri kalau Rosita memang bukanlah wanita yang baik.
"Sudahlah jangan terlalu memikirkan hal tersebut. Sekarang kau makan saja dulu. Tidak baik menunda-nunda jam makan."
Lamunan Lori buyar ketika Chloe berbicara kepadanya. Ia mendongak dan lagi-lagi kembali mendapatkan senyum tulus yang terukir di bibir gadis itu. Ia mengangguk kaku lantas memakan apa yang telah Chloe bawakan untuknya.
"Lori, besok aku akan pergi ke Leicester," Chloe kembali membuka suaranya setelah Lori menyelesaikan makannya.
"Untuk apa?"
"Aku bekerja di sana. Kemarin aku cuti karena Jordan akan pulang. Dan besok aku sudah harus kembali ke sana."
"Tidak bisakah kau tetap di sini sampai situasi yang sedang terjadi saat ini sedikit membaik?" tanya Lori penuh harap. Pasalnya, jika ia harus tinggal di sini hanya dengan Jordan dan Rosita, ia tak tahu akan jadi apa dirinya setelah ini. Selain itu, ia tak mungkin menyewa apartemen lagi ataupun kembali ke desanya. Ia tak punya banyak uang untuk itu.
Chloe tampak menghela napas panjang. "Aku tidak bisa, Lori. Soal Rosita kau tenang saja. Dia tak pernah tinggal di sini. Dia punya rumah sendiri dan hanya akan datang bila ada perlunya saja. Kau hanya akan tinggal bersama Jordan."
Lori memang tak akan tinggal dengan Rosita, dan itu sedikit membuatnya bisa bernapas dengan lega. Namun, ia juga tak akan sanggup jika hanya tinggal berdua saja dengan Jordan. Pria itu sudah berubah menjadi seseorang yang dingin dan tak tersentuh. Ia tak yakin akan sanggup hidup bersamanya.
"Percaya padaku, Lori. Kau akan baik-baik saja jika kau memilih untuk tetap tinggal bersama Jordan."
"Aku tidak tahu, Chloe. Dia sudah berubah."
Chloe beranjak mendekati Lori. Ia mengambil duduk di samping wanita itu. Kedua tangannya menggenggam tangan Lori dengan kedua matanya yang menatap wanita itu dengan lekat. "Aku mohon, Lori. Bertahanlah di sisinya. Jordan sedang mengalami kehancuran yang luar biasa. Untuk saat ini aku tak bisa berada di sisinya. Hanya kau yang akan terus berada di dekatnya. Kau harus bertahan dan perjuangkan apa yang harus kau perjuangkan."
Lori memejamkan matanya sejenak, memikirkan semuanya dengan matang. Dan yang ada di pikirannya saat itu hanyalah bertahan. Lagipula, pilihannya saat ini hanyalah bertahan. Ia sudah terlanjur mencintai pria itu. Ia ingin sekali mewujudkan kebahagiaan yang sudah ia bayang-bayangkan sejak pertama kali ia melihat senyum Jordan. Ia belum berjuang dan mulai detik ini ia akan memulai perjuangannya.
"Aku akan bertahan di sisinya," ucap Lori mantap yang membuat senyum Chloe kembali muncul di bibirnya.
Sejak awal Chloe tahu bahwa Lori adalah wanita yang baik. Hanya saja keadaannya yang kurang beruntung membuat ia rela melakukan apa pun demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia yakin jika wanita yang sudah menjadi kakak iparnya ini akan membawa kebahagiaan bagi Jordan.
Sejak awal, Chloe tak pernah ikut campur dengan urusan pribadi Jordan. Namun, untuk kali ini, ia akan ikut andil dalam urusan pribadi kakaknya itu. Ia akan membantu Lori untuk mendapatkan cintanya, dan ia juga akan membantu Jordan untuk mendapatkan kebahagiaannya.
•••••
Malam semakin larut, tetapi Lori tak juga mendapati kehadiran Jordan. Ia sudah menunggu kepulangan Jordan berjam-jam lamanya sejak pagi tadi saat pria itu tak memedulikan penjelasannya dan meninggalkannya begitu saja. Setelah ia mengobrol dengan Chloe, ia memutuskan untuk kembali menunggu Jordan. Ia masih ingin menjelaskan semuanya kepada pria itu dan akan mencoba untuk memulai perjuangannya.
Suara pintu yang terbuka, membuat Lori segera menoleh ke arah pintu utama. Ia mendesah lega saat mendapati Jordan yang berada di sana. Ia melihat pria itu sempat menaikkan sebelah alisnya saat beradu pandang dengannya. Namun setelah itu, pria itu melewatinya begitu saja, sama seperti tadi pagi. Dan Lori kembali merasakan sakit yang amat sangat di bagian dadanya saat Jordan kembali mengabaikannya.
Lori mendesah pelan dan berusaha untuk menegarkan hatinya. Ia tersenyum kecil untuk mengurangi rasa sakit yang bersarang di dadanya. Tidak, ia tidak akan menyerah sebelum Jordan kembali menjadi pria lembut yang pernah ia kenal.
Lori berjalan mengikuti langkah Jordan yang berada di depannya. "Jordan," panggilnya pelan, berharap Jordan mau melihat ke arahnya. Namun, lagi-lagi pria itu kembali tak memedulikan kehadirannya. Ia tetap berjalan ke depan tanpa mau melihat ke belakang, melihat ke arahnya.
Lori mendesah pelan saat ia melihat Jordan yang sudah masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintunya begitu saja. "Sleep tight," lirihnya dengan senyum mirisnya seraya menahan rasa perih yang menghantam kuat dadanya. Ia kemudian berjalan ke kamarnya yang terletak di samping kamar Jordan yang sudah ia tempati sejak Jordan membawanya ke rumah ini.
Sudah larut malam, sepertinya Jordan lelah akibat aktivitasnya satu harian ini. Dan Lori pun lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dan kembali mencoba peruntungannya pada esok hari.