Bab 11

2070 Kata
Seperti pagi biasanya, kali ini Lori juga melakukan hal yang sama setiap paginya; menyiapkan sarapan untuknya dan juga untuk Jordan. Walau pun ia tahu jika pria itu tak akan pernah mau menyentuh sarapan yang sudah ia buat, ia akan tetap membuatnya dengan senang hati dan berharap suatu hari nanti Jordan mau memakan sarapan yang selalu ia sajikan untuk suaminya itu. Ia tersenyum kecil begitu melihat sarapan yang telah ia buat sudah tersusun rapi di meja makan. Namun, senyumnya tak berlangsung lama ketika ia merasakan sakit yang begitu dahsyat di bagian perut bawahnya. Entahlah, ia sudah merasakan hal yang sama sejak kemarin. Saking sakitnya, Lori sampai membungkukkan sedikit badannya dengan sebelah tangan yang memegang pinggiran meja makan dan satu tangannya lagi memegang bagian perutnya yang terasa sakit. Jordan yang saat itu baru ingin memasuki ruang makan, langsung bergerak cepat ketika ia melihat Lori yang tengah membungkuk di iringi dengan suara rintihan yang keluar dari mulut wanita itu yang menyiratkan kesakitan. Ia segera memegang tubuh Lori dengan rasa panik yang mulai membuatnya cemas. "Kau kenapa?" tanyanya. Lori menahan rintihannya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian mendongak dan matanya langsung bertemu pandang dengan Jordan. "Jo," ucapnya lemah. Jordan tak menanggapi ucapan Lori. Ia segera membawa wanita itu ke kamarnya dengan cara memapah tubuhnya. Perlahan tapi pasti, Lori mulai melangkahkan kakinya di bantu dengan Jordan yang terus berada di sisinya. Sesampainya mereka di kamar Lori, Jordan langsung membantu wanita itu untuk berbaring di ranjangnya. Ia kemudian mengambil duduk di pinggir ranjang. Satu tangannya meluncur ke dahi Lori yang sudah di penuhi dengan bulir-bulir keringat. Dengan lembut ia menghapus peluh yang membanjiri dahi wanita itu. Dan semua itu terjadi begitu saja. Jordan bahkan tak sadar dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini. Ia sangat khawatir dengan kondisi Lori. Lori memejamkan matanya saat merasakan jari-jari Jordan mengusap dahinya dengan lembut. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Bukan menangis karena rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerang dirinya, ia bahkan sudah melupakan rasa sakitnya. Ia ingin menangis karena terharu dengan sikap Jordan yang begitu lembut seperti ini. Sungguh, ia merasa sangat bahagia ketika ia melihat Jordan yang sudah kembali menjadi Jordan yang ia kenal dulu. Lori membuka matanya dan langsung bersitatap dengan Jordan yang saat ini tengah menatapnya. Jari-jari pria itu masih berada di dahinya, masih mengusapnya dengan lembut. "Jordan," ia berucap pelan dengan mata yang berkaca-kaca karena tak sanggup menahan rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. "Apa masih terasa sakit?" tanya Jordan seraya menarik tangannya dari dahi Lori. Lori menggeleng pelan dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Sudah tidak. Kau bisa pergi sekarang. Kau harus bekerja, bukan?" "Aku izin hari ini." "Kenapa?" "Aku ingin pergi ke desamu. Bersamamu. Tetapi sepertinya aku akan menundanya karena kondisimu sepertinya tidak memungkinkan untuk pergi ke sana." Lori menyatukan kedua alisnya, tampak bingung dengan ucapan Jordan barusan. "Untuk apa kau ke desaku?" "Aku ingin menemui Ibu mertuaku. Orang yang bahkan tak ku ketahui rupanya sampai dia berada di dalam tanah," jawabnya dengan senyum manis yang terukir di bibirnya. Lori tersenyum penuh haru. Sungguh, Jordan yang ia kenal benar-benar telah kembali. Sisi lembut pria itu telah kembali menampakkan dirinya. Dan senyuman itu, senyuman yang membuatnya jatuh cinta kepada pria itu juga telah kembali. "Aku akan menemanimu untuk bertemu dengan ibuku," ucap Lori seraya bangkit dari tidurnya. Jordan langsung menahan Lori yang sudah ingin beranjak dari tempat tidurnya. "Tidak-tidak. Kita masih bisa berangkat besok. Kau istirahat saja." Lori kembali mengulas senyum di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Jo. Sakit yang kurasakan saat ini hanya sebentar, dan setelah itu hilang begitu saja." "Kau sudah memeriksakannya?" Lori menggeleng pelan. "Aku rasa ini hanya sakit biasa yang selalu datang ketika menjelang datang bulan," ia tersenyum di akhir kalimatnya. Mencoba untuk meyakinkan Jordan bahwa ia baik-baik saja. "Bagaimana? Jadi pergi tidak?" tanyanya kemudian. Jordan mengangguk tersenyum. "Bersiaplah, aku tunggu di bawah," ujarnya lantas beranjak meninggalkan Lori di kamarnya. Sepeninggal Jordan, Lori langsung melompat-lompat kecil di atas ranjangnya saking senangnya dengan perubahan signifikan yang terjadi pada Jordan. Benar dugaannya bahwa ia masih mempunyai kesempatan yang besar untuk membuat pria itu menjadi pria yang ia kenal dulu. Hatinya saat ini pun terus melonjak kegirangan. Betapa bahagiannya ia saat ini. Hanya satu hal lagi yang harus ia lakukan setelah ini. Ia harus mengubah Jordan menjadi pria yang sesungguhnya. Pria yang hanya menyukai wanita tanpa peduli dengan para pria di luar sana. Dan ia akan menjadi satu-satunya wanita yang nantinya akan di cintai oleh Jordan. Lori segera turun ke bawah untuk menghampiri Jordan yang sedang menunggunya setelah ia mengganti pakaiannya. Ia sudah ingin beranjak ke ruang tamu begitu kakinya sudah berada di ujung tangga, namun ia malah menjalankan kakinya menuju ruang makan karena telinganya menangkap suara denting sendok yang beradu dengan piring. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Jordan yang tengah menikmati sarapan yang ia buat. Hatinya kembali melonjak bahagia karena keinginannya selama ini sudah terealisasikan. "Jordan," panggil Lori seraya berjalan mendekati Jordan yang duduk memunggunginya yang belum juga menyadari kehadirannya. Jordan segera menoleh ke arah Lori begitu ia menangkap suara wanita itu. "Kau sudah selesai? Maaf aku memakan sarapan yang kau buat. Aku lapar sekali." Lori terkekeh pelan seraya mengambil duduk di hadapan Jordan. "Aku memang membuatnya untukmu, Jo." Jordan tersenyum salah tingkah seraya menggaruk leher belakanganya. "Kau tidak makan?" "Tidak. Aku masih kenyang. Lanjutkanlah sarapanmu, aku akan menunggumu," sahut Lori dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya. Jordan mengangguk kemudian kembali melanjutkan sarapannya. Sungguh, baru kali ini ia merasakan masakan Lori, dan rasanya sungguh luar biasa sampai-sampai membuatnya enggan untuk menyudahi sarapannya yang belum habis begitu saja walau pun ia sudah terlanjur malu dengan Lori karena memakan sarapan buatannya padahal hari-hari sebelumnya ia selalu menolaknya. Lori melipat kedua tangannya dengan mata yang menyorot ke arah Jordan. Senyumnya semakin lebar saja ketika ia melihat pria itu begitu menikmati sarapannya tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan kehadirannya. Kehidupan seperti inilah yang ia harapkan sejak dulu. Tak lama kemudian, Jordan telah menyelesaikan sarapannya. Mereka langsung bergegas pergi ke desa Lori untuk menghemat waktu yang ada. Jordan menjalankan mobilnya dengan arahan Lori. Tak banyak perbincangan yang terjadi di antara mereka. Keduanya lebih memilih untuk diam dengan pikiran yang menghinggapi kepala  mereka masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam lamanya, mereka akhirnya sampai di sebuah desa kecil yang berbatasan dengan Inggris dan negara Wales. Keduanya segera bergegas turun begitu mobil Jordan sudah berhenti tepat di depan rumah Lori, rumah bercat putih khas pedesaan. Adik Lori yang saat itu sedang berada di beranda rumah, segera menghampiri Lori ketika ia melihat kakaknya itu baru saja keluar dari dalam mobil. "Kau kembali lagi. Dengan siapa?" tanya Beth, adik Lori, dengan kening yang berkerut penasaran. Lori melemparkan senyumnya kepada Beth. Ia kemudian menunggu Jordan yang sedang berjalan ke arahnya. "Aku bersama suamiku," jawabnya ketika Jordan sudah berada di sampingnya. Beth tampak terkesima dengan Jordan. Ia lalu membungkuk sopan kepada pria itu. "Halo, tuan. Aku Beth," ucapnya dengan sopan. Jordan terkekeh pelan. "Panggil saja Jordan," ucapnya membenari. Beth tampak menganggukkan kepalanya dengan canggung. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Lori. "Kau ingin ke makam Ibu?" "Iya, Beth. Kami akan langsung ke sana." "Baiklah. kalau begitu aku siapkan makanan untuk kalian dulu. Dan jangan berani untuk pulang sebelum kau membawa suami tampanmu ini masuk ke dalam rumah," Beth berbisik di akhir kalimatnya yang langsung membuat Lori terkikik geli. Jordan yang mendengar itu pun hanya bisa mengulas senyum geli di bibirnya. Setelah perbincangan dengan Beth selesai, Jordan dan Lori melangkah meninggalkan rumahnya untuk langsung menuju ke makam ibu Lori yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya. Lori langsung berjalan ke arah gundukan tanah yang masih basah di antara gundukan tanah lainnya. Ia langsung mengambil posisi berjongkok di samping makam tersebut. Begitu pula dengan Jordan. "Ibumu cantik," ucap Jordan yang terlebih dahulu membuka suaranya. Lori tersenyum kecil seraya menatap bingkai foto yang terletak di dekat batu nisan. Ia mengelus foto ibunya dengan perasaan sedih. Rasanya ia belum bisa merelakan kepergian ibunya yang sangat tiba-tiba. Sekarang ia sudah tak punya orangtua lagi. "Kenapa dia bisa sampai meninggal?" tanya Jordan. "Kata pihak rumah sakit, ibuku bunuh diri dengan meminum racun," jawab Lori tanpa mengalihkan pandangannya dari foto ibunya. Jordan tampak mengernyitkan keningnya. "Bagaimana bisa? Kenapa bisa ada racun di sana?" "Entahlah, aku juga tidak mengerti." "Seperti ada sesuatu yang janggal," gumam Jordan yang masih bisa di dengar oleh Lori. Lori kemudian memindahkan pandangannya ke arah Jordan. "Kau merasa ada yang janggal dengan kematian Ibuku?" Jordan mengangguk. "Rasanya aneh saja. Kenapa pihak rumah sakit bisa seteledor itu." "Aku juga merasakan hal yang sama. Padahal Ibuku tak pernah sekali pun di perbolehkan keluar ruangan karena kondisinya yang sering berubah-ubah. Lagipula adikku bilang kalau belakangan ini kondisi Ibuku tampak stabil. Terakhir kali dia mengamuk pada saat pesta pernikahan kita." Jordan tampak diam sejenak. Ia kemudian menghela napas panjang lantas menatap Lori dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Sudahlah, semoga kematian Ibumu ini benar-benar murni karena bunuh diri, bukan karena sesuatu hal yang lain." Lori menganggukkan kepalanya seraya membalas senyuman Jordan. Keduanya pun kembali berbincang-bincang kecil di depan makan ibu Lori. Sesekali Jordan juga mengajak sang ibu berbicara. Dan apa yang di lakukan Jordan kembali membuat Lori terharu. Hari sudah berganti menjadi malam ketika mereka memutuskan untuk pulang. Awalnya Beth meminta mereka untuk menginap, namun Jordan harus bekerja besok. Perjalanan pulang kali ini sama seperti saat mereka pergi tadi, tak ada yang berniat untuk melakukan perbincangan. Mereka kembali di sibukkan dengan pikirannya masing-masing. Jordan yang sibuk memikirkan tentang rasa bencinya terhadap Lori yang sudah hilang entah kemana. Ia juga sudah tak teringat dengan ibunya lagi ketika ia menatap wajah Lori. Bahkan ia merasakan kenyamanan yang luar biasa saat ini. Dan ia benar-benar sudah lupa dengan profesi Lori yang bekerja sebagai seorang p*****r. Sementara itu, Lori masih memikirkan tentang apa yang di katakan Jordan saat di makam ibunya tadi. Ia sudah memikirkan hal itu sejak kemarin. Ia merasakan ada yang aneh dengan kematian ibunya. Rumah sakit jiwa yang merawat ibunya selama ini adalah rumah sakit yang begitu aman. Bahkan ibunya sendiri mempunyai satu orang suster yang selalu setia menemaninya. Aneh saja rasanya jika ibunya meminum racun tanpa ada yang menyadarinya. Tanpa terasa, akhirnya mereka telah sampai di rumah Jordan. Keduanya segera keluar dari dalam mobil dan bergegas untuk membersihkan diri mereka masing-masing. Lori yang saat itu telah selesai terlebih dahulu, berinisiatif untuk membuat makanan yang akan menjadi santapan makan malam mereka kali ini. Tak berselang lama, Jordan menghampiri Lori yang saat itu masih sibuk dengan dapur. Ia kemudian memilih untuk mengambil duduk di meja makan, menunggu Lori yang mungkin sebentar lagi akan selesai dengan masakannya. Dan benar saja, baru beberapa menit Jordan duduk, Lori sudah berjalan ke meja makan dengan piring di kedua tangannya. Wanita itu tampak terkejut ketika mendapati Jordan yang sudah duduk di sana. Ia kemudian menyunggingkan senyumnya seraya menyusun makanan yang telah ia buat. "Kelihatannya enak sekali," ucap Jordan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, tak sabar menikmati masakan buatan Lori. "Aku harap begitu," sahut Lori seraya mengambil duduk di hadapan Jordan ketika ia sudah meletakkan semua masakannya di atas meja makan. Mereka berdua pun mulai menikmati makan malam tersebut dalam diam. Lagi-lagi hal tersebut membuat Lori merasa sangat bahagia. Kehidupan seperti ini lah yang ia inginkan sejak dulu. "Istirahatlah, Jo. Besok kau harus bekerja, kan?" ujar Lori begitu mereka telah menyelesaikan makan malamnya. Jordan menahan Lori yang sudah ingin memindahkan piring kotor ke bak pencuci piring. Hal tersebut langsung menghentikan niat Lori. Ia lantas menoleh ke arah Jordan dengan piring kotor yang masih berada di kedua tangannya. "Ada apa, Jo?" Jordan mengambil piring kotor yang berada di tangan Lori lantas kembali meletakkannya di atas meja makan. Ia kemudian menatap wanita itu dengan lekat. "Bantu aku, Lori," ucapnya yang malah membuat Lori semakin bingung. "Bantu apa, Jo?" Jordan menghela napas panjang kemudian memegang kedua pundak Lori dan kembali menatapnya dengan lekat. "Bantu aku untuk berubah. Aku... aku ingin melakukannya. Bolehkah?" Entahlah, rasanya keinginan untuk berubah kembali merangkul dirinya. Entah kenapa Jordan ingin sekali melakukannya dengan Lori. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukannya. Lori tersenyum bahagia. Ini adalah sebuah keajaiban yang patut untuk di syukuri. Niat untuk berubah kembali mendatangi Jordan. "Aku akan dengan senang hati membantumu. Lakukanlah," balas Lori tanpa berpikir panjang. Dan malam itu, keduanya pun akhirnya menyatukan diri mereka. Sungguh, ini adalah yang pertama untuk Jordan karena sebelumnya ia hanya bermain dengan seorang pria. Dan ketika tubuh mereka sudah menyatu, Jordan merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia merasa lebih lepas dan tak merasakan beban apa pun. Dan ia sangat menikmati pengalaman pertamanya bersama Lori.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN