BAB 22 . ADRIAN tengah duduk di roftoop. Ia memandang malas ke arah langit biru. Hari ini Adrian habiskan membolos. Ia berdecak kesal, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Kenapa?” Adrian menoleh pada lelaki yang berjalan mendekatinya sekarang. “Berisik lo,” ketus Adrian. Chandra tertawa. “Udahlah, lo ngalah aja. Lo nggak akan menang.” Chandra tertawa geli dan mengejek Adrian. Adrian mencebik kesal. Di saat seperti ini, Chandra malah sempat-sempatnya mengejek. Seharusnya Chandra menghiburnya, Adrian lagi dilanda kegalauan sekarang. Chandra merangkul Adrian untuk lebih dekat dengan lelaki tersebut. “Bro, mungkin dulu cara kita kenalan cukup buruk. Tapi jujur gue lihat ada cinta untuk Ratu di mata lo. Tapi lo-nya aja sih yang gengsi. Bego sih!” Adrian menepis tangan Chandra denga

