Ketakutan

2284 Kata
"Bian, gak bohong bunda.. Kejadian itu gak akan terulang lagi. Bian, kan udah janji sama, Bunda." Ucap Bian berusaha meyakinkan bundanya. Saat ini Bian dan Aini sudah berada di dalam kamar Bian. Setelah Bian dibuat bingung oleh bundanya yang tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Kini wanita itu mulai mengintrogasi Bian seperti seorang jaksa penuntut yang meminta pengakuan dari terdakwa. Ini sulit untuk Aini,  sangat sulit. Mengetahui bahwa putranya masih mengonsumsi obat itu membuat Aini takut setengah mati bahwa kejadian buruk itu akan terulang lagi. Karena luka yang di berikan oleh mantan suaminya sangatlah besar hingga membuat Bian trauma. Aini menghembuskan nafas panjang lalu menatap putranya lekat."Kalau begitu, Bian gak boleh minum obat itu lagi, ya.. Bunda gak suka kamu minum obat itu lagi." Tawar Aini lembut dan penuh harapan. Namun Bian tak langsung menjawab. Ada raut keraguan di wajahnya. Kemudian gelengan pelan pun mengawali jawaban Bian. "Gak bisa, bunda..." Jawab Bian dengan kepala tertunduk dan suara lemah. Dan tentunya hal itu membuat Aini kecewa. "Bian.." "Bunda... Bian gak minum obat itu setiap hari, Bian minum obat itu sesuai aturan. Bian cuman minum kalo Bian kambuh dan gak bisa tidur. Tapi Bian benar-benar gak bisa kalo harus berhenti minum obat itu. Maafin Bian, Bunda.. " Air mata itu kembali mengalir membasahi pipi mulus Aini. Melihat wajah bersalah Bian membuat wanita itu tak tega. Rasanya perih. Kemudian Aini pun kembali menjatuhkan Bian ke dalam pelukanya. "Maafin Bunda, ya, sayang... Maafin Bunda yang gak bisa ngelakuin apa-apa saat itu dan membuat kamu menderita seperti ini." *****R A B I A N**** Ozil merampas botol kaca yang ingin kembali dibuka oleh Kelvin. Ini adalah botol keduanya, kalau sampai anak itu menghabiskanya, bisa- bisa Kelvin akan benar-benar mabuk. Setelah kedua orangtuanya bercerai Kelvin memang berubah menjadi lebih nakal. Dia jadi suka nongkrong di Bar untuk minum-minum dan ngeroko. Padahal dulu dia paling anti dengan kedua benda itu. Tapi setelah ayahnya dan bundanya bercerai dua benda itu bagaikan sahabat terbaik bagi Kelvin. Disetiap malam setelah kedua orangtuanya resmi berpisah, Kelvin selalu menghabiskan malamnya di sana. Minum sampai mabuk lalu menginap di apartemen Bagas. Dia jarang pulang ke rumah. Hingga hal itu pun terjadi.  Kejadian dimana Bian ditemukan overdosis di kamarnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Bian saat itu hingga dia memutuskan bunuh diri. Tapi satu hal yang pasti, tragedi overdosis Bian menjadi pukulan berat untuk Kelvin. Karena bagaimana tidak, kalau saja saat itu Bian terlambat semenit saja ditemukan mungkin nayawanya tidak akan terselamatkan dan Kelvin akan kehilangan adiknya untuk selama-lamanya. Jadi setelah itu perlahan-lahan Kevin pun kembali berubah menjadi Kelvin yang dulu. Dia sedikit menjauh dari minuman haram itu dan roko. Yaa.. meski bila sedang banyak pikiran dia masih suka minum, seperti saat ini, tapi tak separah dulu. Dan satu hal lagi, itu adalah sebab kenapa saat ini Kelvin sangatlah over pada Bian. Dia takut kehilangan Bian. Sejak kejadian itu rasa kawatir dan takut selalu menemani hati Kelvin. Trauma yang di berikan ayahnya pada Bian dan kenyataan pahit bahwa Bian suka mengonsumsi obat penenang menjadi faktor utama kecemasan Kelvin. Apalagi hampir setiap malam trauma Bian sering kambuh. Hingga anak itu tidak dapat tidur di dalam kamar. Maka dari itu, dengan kondisi Bian saat ini tidak menutup kemungkina bila kejadian itu akan terulang lagi. Makanya, Kelvin jadi protektif pada Bian. Dan dia sangat kesal bila Bian tak mau menuruti kemauanya seperti tadi. Padahah Kelvin kan sangat menghawatirkan Bian tapi, Biannya malah batu. Bagas menghempaskan nafas berat saat menemukan Kelvin yang sudah setengah mambuk. Setelah selesai mengantar Bian pulang cowo itu langsung bergegas ke Bar tempat Kelvin biasa nongkrong. Dan benar saja apa yang dia duga benar-benar terjadi. Untuk sejenka Bagas menatap Ozil meminta penjelasan. Tapi Ozil hanya angkat bahu. "Mending kita bawa nih anak ke apartemen, lo. Sebelum dia ngabisin semua minuman di sini. "Usul Ozil sembari melingkarkan tangan Kelvin ke bahunya, namun seperti tidak setujuh dengna apa yang ingin dilakukan Ozil, Kelvin langsung menurunkan tangnya dari bahu Ozil. Kemudian kembali menelungkupkan kepalanya ke atas meja Bar. Melihat Kelvin yang sepertinya masih enggan pergi dari tempat itu Bagas pun memosisikn dirinya duduk di samping Kelvin. Anak itu kalau sedang bertengkar dengan adiknya udah kaya orang abis putus cinta. Tidak,  bahkan saat putus cinta sekalipun Kelvin tak pernah sekacau ini. Karena cuman Bian seseorang yang bisa membuat seorang Kelvin kacau. "Gua cuman takut dia kenapa-napa, emang gua salah? "Gumam Kelvin tiba-tiba dengan suara pelan, namun masih dapat terdengar jelas oleh ke kedua sahabatnya dan membuat kedua sahabatnya itu saling berpandangan. "Dia nyuruh gua buat gak ikut campur... Dia itu bego... t***l. Mana bisa gua gak ikut campur terlebih lagi soal kesehatanya." Kali ini tangan bagas mengelus punggung Kelvin. Meski Kelvin tak mengatakanya secara jelas tapi dia tau hal apa yang benar-benar sangat ditakutkan Kelvin saat ini. "Gua takut, Gas.. " **** "Apa kamu yakin dia orangnya?" Tanya seorang pria berjas hitam dengan sedikit ragu, dan lawan bicaranya pun menganguk tanpa keraguam. "Gua bisa jamin 100 % kalo dia orangnya. semua tes nya positif." Jawab sih lawan bicara meyakinkan, lalu sebuah seringai pun terhias di bibir pria itu. "Bagus," ucapnya senang,"kita hanya perlu melaksanakna rencana selanjutnya." pria itu menyandarkan punggungnya semberi melempar foto yang semula dia pegang ke atas meja. ****** Bian langsung berjalan menghampiri Kelvin saat melihat anak itu masuk ke dalam rumah. Sudah lebih dari 3 jam dia menunggu kakaknya pulang di ruang tamu, dan akirnya orang yang dia tunggu pun datang juga. "Udah jam 12, kenapa baru pulang?" Tanya Bian penasaran. Anak itu mengekori Kelvin berjalan menujuh kamar. "Telpon lo juga gak di angkat, lo tau Bunda kawatir sama lo.." "Gak usah ikut camput." Potong Kelvin tiba-tiba. Dia menghentikan langkahnya lalu menatap Bian tajam. "Itu, kan, yang lo minta dari gua tadi?! Jadi gak usah ikut campur sama urusan gua dan gua gak akan ikut campur urusan, lo!" Lanjut Kelvin lalu kembali melangkah melewati Bian yang masih mematung dan masuk ke dalam kamarnya. Untuk sejenak, Bian masih mematung di tempat. Mematung dengan wajah sedih. Jujur saja rasanya sakit diperlakukan seperti itu. Sungguh. Nada bicara Kak Kelvin dan tatapan mata sinis tadi berhasil merobek hati Bian. Untuk sesuatu yang paling Bian takutkan di dunia ini, kebencian Kak Kelvin kepadanya adalah hal yang begitu Bian takutkan. Karena saat Kak Kelvin membencinya, Bian punya siapa lagi di dunia ini. Dia cuman punya Bunda dan Kak Kelvin saja. Setelah perceraian kedua orangtuanya, bian melakukan aksi mencoba bunuh diri dan itu semua Bian lakukan karena Kak Kelvin. Karena saat itu dia tak sanggup melihat kesedihan bundanya dan kebancian sang kakak kepadanya. Perceraian itu terjadi karena Bian, Bian sangat tau hal itu. Di setiap malam saat ayahnya mulai memukuli Bian, Sang Bunda akan datang untuk membela Bian dan memulai pertengkaran dengan Sang Ayah. Hal itu terus terjadi setiap harinya dalam waktu yang cukup lama. Keluarga itu pun berubah menjadi keluarga broken. Selalu ada pertengkaran di setiap harinya dan penyebapnya tidak lain adalah Bian. Hingga kehancuran itu pun mencapai puncak saat bunda memutuskan untuk bercerai, dan Kak Kelvin pun menjadi korban atas perpisahan itu. Karena nyatanya anak mana, sih yang ingin kedua orangtuanya bercerai. Tidak ada satupun anak yang menginginkan hal itu. Terlebih lagi sumber masalahnya hanya karena Sang Ayah membenci Bian. Itulah yang membuat Kelvin begitu marah dan kecewa. Lalu setelah perceraian itu, Kelvin pun mengorbankan Bian sebagai tempat pelampiasan atas semua perasaan kecewanya terhadap perceraian kedua orangtaunya. Dia pun memperlakukan Bian sangat buruk. Bian menengadah kepalanya sembari memutar bola matanya, menghalau air mata yang ingin merosot jatuh. Rasanya sesak. Dia benar-benar lemah bila harus berhadapan dengan kakaknya itu. Kemudian setelah sudah merasa lebih baik, Bian pun melangkah mendekati pintu kamar Kelvin yang sudah tertutup rapat. Meski dia tau apa yang akan dia lakukan sia-sia tapi dia tetap akan mencobanya. Dia harus membujuk Kelvin untuk memaafkannya. Untuk sejenak Bian masih mematung di sana dengan perasaan ragu hingga tanganya pun bergerak mengetuk pintu kamar sang kakak pelan. "Kak, aku boleh masuk?" tanya Bian lembut tapi tak ada jawaban dari dalam kamar yang langsung membuat Bian kecewa. "kakak masih marah ya sama aku?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Bian. Sangat terliha bahwa kakaknya masih marah tapi, dia malah menanyakan hal itu. Sungguh bodoh. Tapi mau bagaimana lagi Bian juga bingung harus memulai pembicaraan bagaimana. "Adek minta maaf... Adek janji hal kaya tadi gak akan terjadi lagi, jadi Kakak maafin adek, ya.." kali ini suaranya tampak lirih namun masih tak ada jawaban dan Bian pun memutuskan untuk pergi dari depan pintu kamar kakaknya itu. Kelvin butuh waktu untuk berpikir. Dia butuh waktu untuk memaafkan Bain, dan Bian tau itu. **** R A B I A N **** Di dalam kamar, Kelvin termenung. Ada perasaan bersalah di hatinya setelah memperlakukan adiknya dengan buruk barusan. Sebenarnya Kelvin tak ingin memperlakukan Bian dengan keras seperti tadi. Saat ini Kelvin sangat ingin pergi ke kamar Bian, meminta maaf dan tidur di sana menemani Bian seperti biasa. Namun untuk kali ini hal itu tidak dapat Kelvin lakukan. Karena dia harus memberi pelajaran ke Bian supaya anak itu tak keras kepala. ***** Keesokan paginya... Dengan seragam putih abu-abu yang sudah membalut tubuh bidang Bian, Bian berjalan menujuh ruang makan. Jam baru menunjukan pukul 05.30 masih ada waktu satu jam untuk berangkat ke sekolah. Dan Bian berharap kalau sebelum berangkat sekolah dia bisa bermaafan dengan kakaknya terlebih dahulu. Karena rasanya sungguh tidak enak marahan dengan Kak Kelvin. Namun harapan Bian hancur seketika saat bundanya mengatakan bahwa Kak Kelvin sudah berangkat lebih awal tadi. Pasti Kak Kelvin berusaha menghindari Bian makanya berangkat sekolah lebih cepat. "Tapi ini kan baru setengah 6, Bun.. Kenapa Kak Kelvin udah berangkat? Tumben banget." tanya Bian tak percaya sembari mengerucutkan bibirnya dan duduk di kursi meja makan. Aini yang sebelumnya sibuk membuat s**u untuk Bian pun menoleh pada Bian dan berjalan mendekati putranya itu. "Bunda juga gak tau, tadi dia bilang kalau hari ini ada latihan basket, jadi Kakak kamu berangkat lebih awal." Jelas Sang Bunda. Wanita itu meletakn gelas berisi s**u coklat ke hadapan Bian. Tak seperti Kelvin, Bian lebih suka s**u coklat. Untuk sejenak mata Aini menatap lekat wajah Bian. Kemudian alisnya pun saling bertautan saat dia menyadari betapa pucatnya wajah Bian pagi ini. "Kamu sakit, Dek?" dengan lembut wanita itu menyentuh kening Bian lalu menyentuh lehernya, dan benar saja, tubuh anak bungsunya sangat hangat. "Masyaallah kamu demam." Aini mulai khawatir. Sedangkan Bian yang melihat wajah khawatir bundanya, cepat-cepat menjauhkan tangan bundanya yang masih menempel di lehernya lalu menggenggamnya lembut dan menyunggirkan senyuman teduhnya pada sang bunda. Dengan senyuman yang terhias di bibirnya itu, Bian pun mengatakan kebohongan pada sang bunda, bahwa dirinya baik-baik saja. Karena Sebenarnya kalau boleh jujur, tubuh Bian memang terasa sangat tidak enak sejak kemarin. Lebih tepatnya sejak mimisan di kelas dan bertambah parah setelah mendapatkan serangan dari Devan di UKS yang menghadiahkan Bian sebuah memar biru di dadanya. Setelah Kelvin pergi dari UKS, Devan masuk ke dalam UKS dan menghajar Bian habis-habisan. Padahal cowo itu tau bahwa Bian sedang sakit, tapi dia tak peduli dan tetap menghajar Bian. Dia melancarkan serangan di bagian tubuh Bian yang tak terlihat seperti punggung, d**a, dan perut supaya tak ketara tentang aksi penghajaran itu. Karena benar saja, Devan pasti akan kena masalah bila ketauan menghajar seseorang di sekolah, meski pun ayahnya adalah donatur terbesar di sekolah itu. Dan hingga saat ini d**a Bian masih terasa nyeri, terlebih lagi semalam, dia hampir tak bisa tidur karena rasa sakit di dadanya. Tapi sebisa mungkin saat ini Bian menyembunyikan rasa sakitnya itu di depan sang bunda. Karena bisa gawat kalau bundanya sampai tau. "Bunda, jangan ngeliatin Bian kaya gitu ah, Bian beneran gak papa, kok." Protes Bian saat tak menemukan perubahan dari wajah khawatir bundanya. Sedangkan Aini wanita itu menghembuskan nafas berat. Beginilah Bian, meski jelas-jelas terlihat sakit tapi dia tak akan mau mengakuinya. "Gak papa gimana, kamu demam gini, muka kamu pucat banget. semalam kamu tidur di luar lagi, ya?" "Enggak, Bun. semalem Bian tidur di dalam kamar, kok." "Yaudah, hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu, ya...nanti siang kita cek up di rumah sakit!" Ucap Aini seraya berjalan menujuh kotak P3K yang tertempel pada dinding. Sedangkan Bian yang mendengar bundanya mengajak dia untuk pergi cek up, langsung mengagah kemudian cepat-cepat menggeleng. "Gak mau Bunda! Bian gak papa! Jadi gak perlu ke rumah sakit." Tolak Bian cepat. Cowo itu langsung mendekati bundanya mengambil obat yang ada di tangan sang bunda lalu menelanya dengan segelas air. "Bian udah minum obat, sebentar lagi juga demamnya turun. Yaudah Bian berangkat sekolah dulu ya, Bunda." Anak itu buru-buru memberikan gelas s**u yang sudah kosong pada bundanya lalu mencium pipi bundanya dan berlari ke luar rumah. Aini yang terpaku karena keterkesima dengan kelakuan Bian pun akirnya sadar saat sosok putranya menghilang dari balik pintu. "Biaannn... " teriakan aini menggema ke seluruh sudut ruang. Wanita itu langsung berlari ke luar rumah untuk mengejar Bian, tapi sayang saat Aini sudah berada di luar rumah sosok Bian sudah tak ada. Untuk sejenak Aini menatap ke arah langit yang masih tampak gelap karena mentari baru sedikit menunjukan sosoknya, seulas senyum sendu pun terhias di bibir Aini saat kembali mengingat tingkah putranya tadi. "Dia sangat mirip dengan kamu, Mas... Kalau saja kamu masih di sini.. " gumamnya pelan, kemudain wanita itu pun kembali masuk ke dalam rumah. ******** Di jalan raya ibu kota. Seorang cowo berseragam putih abu-abu berlari sekuat tenaga menyusuri trotowar jalan. Dengan dua orang berjas hitam yang saat ini berusaha mengejarnya. Cowo itu mencoba melepaskan diri dari kejaran ke dua orang itu. Tapi sial, karena meski dia sudah berlari cukup jauh dari mobilnya dan menggunakan berbagai cara guna melepaskan diri dari dua bodyguard  yang mengejarnya, namun tetap saja itu sulit. Hingga sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan cowo itu dan menghentikan lari cowo itu. "Ah, s**t!" ***** R A B I A N *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN