Vailla Anara Gamamentra. Wanita cantik dan berprinsip yang membuat banyak pria jatuh hati padanya. Dia dikenal sebagai wanita cerdas dan pandai berbisnis di usia muda. Nara, sapaan wanita itu, sudah mendirikan usahanya sendiri sejak umur tujuh belas tahun. Usia yang sangat amat muda untuk memulai sebuah bisnis besar tour and travel. Sejak awal merintis usahanya sendiri, Nara selalu melakukan yang terbaik. Dia pandai menggunakan sosial media untuk mempromosikan usahanya tersebut. Terlihat sekali bahwa kepawainnya berbisnis timbul sejak lama. Dan usahanya pun sukses besar dengan membuka satu cabang lagi di kota lain.
Wanita itu selalu mendapatkan tempat yang istimewa di mata orang-orang. Terlahir dari keluarga baik-baik pun menjadi nilai tambah untuknya. Nara merupakan putri pengacara kondang yang selalu memenangkan kasusnya—Eldas Gamamentra—dan seorang dokter yang sangat berpengalaman—Tarika Ilma Gamamentra. Keluarga mereka adalah cerminan keluarga bahagia yang banyak disorot di televisi. Sehingga nama Nara selalu menjadi perbincangan hangat setiap saat. Walaupun namanya sedikit tergeser karena Karen, yang dia sebut sebagai tunangannya, naik daun akhir-akhir ini.
Nara menatap ponsel pintarnya, di mana sebuah berita terpampang nyata di sana. Berita tentang acara pertunangan yang disebut sebagai acara pertunangan termegah beberapa tahun ini. Memangnya siapa yang bisa mengalahkan keluarga Andersson untuk urusan uang? Dia begitu sangat senang dan merasa hidupnya semakin sempurna. Nara mempunyai kecendrungan yang menurutnya sangat penting, dia menyukai segala kesempurnaan. Termasuk dalam hal pasangan. Tidak peduli dia mencintainya atau tidak. Yang paling penting, pasangannya adalah orang yang sempurna.
"Kau senang dengan beritanya? Papaku sudah membuat beritanya menjadi trending nomor satu pekan ini." Ucap salah satu wanita dengan jepitan rambut hitamnya, Salva.
"Papiku juga sudah sudah bekerja keras untuk melobi boyband Fastro untuk menjadi brand ambassador VAG Tour and Travel. Mereka akan datang dari negaranya besok lusa. Kau senang 'kan?" Ucap wanita satunya yang tidak mau kalah, Nesa.
Nara meletakkan cangkir kopinya di atas meja, "aku cukup senang dengan pekerjaan kalian. Aku akan memberi kalian hadiah yang pantas."
Salva dan Nesa saling pandang, mereka tampak tersenyum senang dengan tawaran Nara itu. Mereka adalah sahabat Nara, mungkin. Walaupun pada kenyataannya, seorang Anara tidak pernah menganggap pertemanan penting. Nara mengatakan bahwa keduanya adalah sahabatnya—hanya di depan kamera. Dia tidak mungkin jujur di depan semua orang bahwa dirinya tidak pernah percaya kepada orang lain. Maka dari itu, media cukup menganggap bahwa Nara, Salva, dan Nesa bersahabat baik.
Baik Salva dan Nesa, selalu menjadi pesuruh yang berlomba-lomba untuk menyenangkan hati Nara. Seperti saat ini, mereka menggunakan koneksi—orang tua mereka—untuk membuat Nara terkesan. Ayah Salva adalah salah satu pemilik stasiun televisi. Sedangkan Ayah Nesa adalah salah satu agensi artis yang mempunyai banyak koneksi. Setidaknya, agar tidak dibuang begitu saja oleh Nara, mereka harus berusaha lebih keras lagi. Mereka tidak ingin menjauh dari Nara karena populeritas mereka bisa terancam. Dan mereka tidak mau itu terjadi.
"Hm ... apa kau sudah bertemu dengan tunanganmu setelah acara pertunangan kalian? Aku mendengar dari beberapa wartawan jika Tuan Muda Karen meninggalkan rumah keluarga Andersson beberapa hari yang lalu." Ucap Salva dengan penasaran.
Nara menatap Salva dengan tatapan tajam, "bukankah kau bisa mengurus wartawan itu dengan baik? Jangan pernah mengeluarkan berita tidak benar tentang tunanganku. Jika kau masih ingin bertahan di sisiku. Kau seharusnya membereskan semuanya dengan benar, Nona Kasalva!"
"B-Baik! Aku akan membereskan wartawan yang menguntit Tuan Muda Karen. Aku minta maaf dan jangan keluarkan aku." Ucap Salva meminta maaf dengan keras karena tidak mau didepak begitu saja oleh Nara.
Nara beranjak dari duduknya, "kau seharusnya banyak belajar dari Nesa. Dia menyelesaikan masalah dengan benar tanpa menimbulkan masalah lain. Ingat baik-baik, jika sampai ada rumor tentang tunanganku muncul di media, aku akan meminta Papiku untuk menyeret stasiun televisi Papamu ke pengadilan! Kau tahu integritas Papiku, bukan?"
"Iya, aku akan berhati-hati lagi." Jawab Salva dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Nesa tersenyum lues ke arah Nara, membiarkan wanita itu pergi lebih dulu. Setelah Nara benar-benar pergi, Salva beranjak dari duduknya dan menarik lengan Nesa dengan kasar.
"Kau benar-benar bermuka dua rupanya!" Tandas Salva kesal kepada Nesa.
Nesa tersenyum sinis, "kau harus menutup mulutmu jika tidak mau kehilangan segalanya! Gunakanlah otakmu itu jika memang ada isinya."
"Diam kau! Aku hanya bertanya karena penasaran. Menurutmu apa jawaban dari pertanyaanku?" Tanya Salva kepada Nesa.
Nesa mendorong pelan tubuh Salva, "kau tebak saja sendiri! Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan yang tidak penting itu! Bye, aku pergi duluan."
Selepas Nara dan Nesa pergi, Salva hanya duduk sendirian di kursinya tanpa berniat untuk pergi. Dia akan pergi beberapa menit lagi, sambil menghabiskan minumannya lebih dulu. Pikirannya kembali ruwet karena ucapan Nara tadi. Dia hanya bertanya perihal Karen yang Salva tahu bahwasanya Nara tidak mencintainya, namun respon Nara seperti tidak ingin ada yang membuat Karen dalam masalah.
"Pertemanan antara tiga orang terkadang akan berat sebelah, bukan?" Ucap seorang wanita yang tiba-tiba menarik salah satu kursi yang berada di depan Salva.
"Siapa kau? Berani-beraninya bicara begitu kepadaku," marah Salva yang menatap tajam wanita itu.
Wanita itu menarik gelas minuman Salva, "kau sangat membenci Nara, bukan? Wanita itu seharusnya tidak dilahirkan di keluarga Gamamentra, supaya tidak banyak berulah. Nara seharusnya menjadi putri pemilik salah satu stasiun televisi, bukan putri seorang pengacara. Bukankah kau yang lebih pantas menjari Tuan Putri dalam cerita ini? Bukan Nara!"
"Mengapa kau mengatakannya kepadaku?" Tanya Salva kepada wanita itu. "Kau suruhan Nara untuk mengetes kesetianku?" Sambungnya dengan tatapan penuh menyelidik.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "aku bukan suruhan siapapun! Aku hanya datang ketika seseorang ingin menyingkirkan orang lain yang telah menghalangi jalanmu. Apa kau akan setuju? Ini hanyalah sebuah kesepakatan iblis."
Salva tertawa dengan keras, membuat beberapa orang yang berada di sana menoleh ke arahnya. Salva menatap tajam wanita di depannya dengan tatapan kesal.
"Sudahi omong kosongmu! Aku tidak tertarik dengan semua tawaran yang bodoh itu. Aku akan selalu menemani Nara dan tidak akan mengkhianati dirinya." Tandas Salva dengan suara keras.
Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya, "terserah kau saja, Nona. Tapi kau akan tertarik dengan sendirinya. Terkadang, orang yang terdesak akan lebih nekat daripada orang yang membutuhkan. Kau bisa datang menemuiku jika memang sudah terdesak."
Salva menatap wanita itu yang beranjak dari duduknya. Wanita itu melambaikan tangannya ke arah Salva sambil tersenyum dengan menakutkan. Salva bergidik ngeri ketika melihat tatapan wanita itu. Wanita yang tiba-tiba datang padanya dan tahu siapa teman-temannya. Hatinya bimbang, namun dia tidak ingin terjerumus dalam permainan Nara. Bisa saja 'kan wanita itu adalah suruhan Nara untuk mengetes kesetiaannya?
"Siapa wanita gila itu?"
***