"BRAKK ... BRAKK ... BRAKK!" Gedoran di pintu kamar mandi itu membuat Emily kesal, tetapi dia memilih mengabaikannya. Pria berotak m***m itu boleh merajuk sepuasnya. Dia tidak suka bila disergap dari belakang saat sedang mandi. "Emily Sayang, buka pintunya ... aku juga ingin mandi sebelum berangkat ke kantor!" seru Rayden dari depan pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam itu. Namun, tak satu pun jawaban dari dalam kamar mandi. Hanya suara gemericik air shower yang terdengar. Namun, pria itu menunggu dengan sabar di depan pintu yang tak kunjung membuka itu. Saat keran shower diputar hingga air berhenti mengalir, Rayden bersiap-siap. Emily masih mengeringkan rambut dan tubuhnya dengan handuk besar warna putih yang terasa lembut di kulitnya. Dia menghirup aromanya khas Rayden dan Em

