Tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikendarai Arya pun berhenti di sebuah parkiran di pantai kuta—Bali. Arya memang ingin mengajak Disa jalan-jalan di pesisir panrtai kuta karena sembari menikmati cuaca yang cerah di sana. “Kamu betah tinggal di sini?” tanya Arya di tengah perjalanan mereka menikmati pesisir pantai yang indah. “Lumayan.” “Lo, kok cuma lumayan sih?” “Aku akui kalau tempat ini memang sangta bagus. Tapi tetap saja aku lebih menyukai dan mencintai kampung halamanku sendiri, Bang. Selain budaya islamnya yang kental di sana, aku lahir dan besar di sana, jadi pastinya lebih menyenangkan.” Disa tersenyum seraya menoleh ke arah Arya. “Aku salut sama kamu yang begitu mencintai tanah kelahiran. Banyak juga orang yang sudah terlena dengan sebuah tempat yang baru, lalu melupakan

