Richard masih saja terpaku seraya menatap wajah ibunya yang penuh dengan amarah. “Sekarang kamu urus semuanya sampai tuntas. Jangan sampai mama atau papa yang jadi bulan-bulanan para wartawan.” Sang ibu menghempaskan kakinya keluar dari kamar Richard. Wanita itu juga membanting pintu kamar Richard dengan sangat keras. Baru saja sang ibu keluar dari kamar, terdengar deringan dari ponsel Richard. Ada banyak pesan masuk dan ada panggilan dari healing centre miliknya. Richard mengabaikan panggilan itu dan juga mengabaikan semua pesan yang sudah masuk. Di dalam otaknya kini hanya ada sebuah kemarahan. Ia sangat marah pada Vanesha karena Richard mengira Vanesha’lah yang sudah menjebaknya. Richard seketika mencari nomor Vanesha dan membuka blokiran nomor itu. Pria itu pun segera menghubunginy

