Alpha pamit ke Jingga untuk sedikit mengobrol dengan Wiwid karena sepertinya gadis itu sedang butuh seseorang untuk menenangkannya sesaat. Luapan emosinya itu benar-benar tak terkendali, seperti ada perasaan yang selama ini ditahannya dan tiba-tiba menemukan kesempatan untuk dikeluarkan. Alpha mengajaknya duduk di tepi danau, gadis itu menangis lagi dengan tersedu dan memeluk Alpha dengan erat. Baju anak tunggal Guzman itu basah oleh air matanya. “Maafkan aku, Kak,” katanya masih tersedu di d**a kiri Alpha. “Sudahlah, enggak perlu ada yang disesalkan lagi. Semua sudah terjadi. Lupakan saja semuanya, aku juga sudah melupakan apa yang pernah terjadi dengan kita,” hibur pemuda itu. “Aku menyesal, Kak.” “Sudahlah,” Alpha membelai rambut gadis berkuncir kuda itu dan menghapus air matanya

