“Kamu akan terus mendebat Kakak?” tanyaku pada Sean yang terus menanggapi perkataanku. Sejujurnya, belakangan ini, aku dan Sean lebih banyak berdebat. Tidak, tidak. Kami mulai sering menyerang setelah Izza pergi dari rumah Sean. Saat itu mereka punya sedikit masalah. Izza memutuskan pergi karena menganggap Sean tidak tegas dalam menyelesaikan permasalahan mereka. Itu memang benar. Aku sendiri sangat marah pada Sean. Umurnya sudah lebih dari cukup untuk dikatakan dewasa. Tapi, sikapnya masih saja plin-plan. Harusnya dia malu pada Izza yang jauh lebih muda dari pada dia. Izza pintar menyelesaikan masalah dibandingkan Sean. Aku sempat khawatir karena Izza terlihat sangat mencintai Sean. Semoga Sean tidak menyakitinya lagi. Lagi pula, kenapa Mama membuat permainan yang mengerikan untuk Sean

