“Lo tenang aja, Mbak. Gue udah bilang ke Mas Yasa semuanya.” Aku menatap Gina dengan tatapan penuh rasa bersalah. Aku sudah sangat mengecewakannya. Tapi, ia masih mau membantuku. Hanya Gina yang ada di pikiranku sesampainya di terminal Jakarta. Aku tak mungkin menghubungi Alya ataupun Prabu. Yang mereka berdua tahu, hubunganku dengan Yasa baik-baik saja. Berita tentang kehadiran Kiano memang belum terekspos pihak media. Entah kapan, cepat atau lambat kebenaran itu akan segera terungkap. “Makan dulu, Mbak. Katanya laper,” ucap Gina. Kami tengah berada di restoran sebuah hotel di kawasan pusat Jakarta. Aku tidak mungkin pulang ke rumah, kan? Jadi, kuputuskan untuk tinggal di hotel selama beberapa hari ke depan. “Mumpung masih panas. Kalo udah dingin nggak enak.” “Akhir-akhir ini gue gam

