NANA 24 : Bertemu Sang Penolong

1922 Kata

Aku dan Gina menunggu di ruang tunggu penginapan dengan perasaan tak menentu. Sudah terlambat satu jam dari waktu yang dijanjikan Pandu—laki-laki yang menemukan ponselku di warung kopi. Sama sekali tak ada pemberitahuan darinya. Mungkinkah aku sudah salah karena terlalu mempercayainya? Hari sudah semakin malam. Gina yang sedari tadi sudah sangat setia menemaniku pun berkali-kali menguap karena rasa kantuk. Berbeda denganku, aku sama sekali tak merasa mengantuk. Pikiranku terus tertuju pada ponselku. Semua hal penting ada di sana. Pekerjaanku. “Permisi.” Seorang laki-laki mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung sampai siku dengan tinggi menjulang pun sudah berdiri di hadapanku. Kacamata dengan lensa yang sedikit terpantul cahaya pun menambah kesan kalau sepertinya ia orang yang p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN