Gibran merasa mendengar suara bundanya di luar, dia bergegas keluar dan yang lain pun ikut menyusul dari belakang. Pintu dibuka lebar oleh Gibran betapa terkejutnya ia, ketika melihat siapa yang datang berkunjung.
“Bunda!? Kak Radit!?” Ekspresi terkejut Gibran tampak jelas, bukan hanya terkejut, ada kekecewaan di matanya. Mengapa bundanya dan sang kakak memata-matainya sampai seperti ini. Tentu bukan hanya Gibran yang terkejut, tapi Daisy dan lainnya tampak tidak percaya.
“Kenapa Bunda dan Kak Radit ke sini?” tanya Gibran datar.
“Itu—Bunda mau—” Ayesha tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia berkata ingin menyeret anaknya pulang karena takut anaknya berbuat maksiat di kontrakan ini. Ayesha menyesal datang kemari apalagi sepertinya mereka ada acara. Tampak dari luar, ruangan kontrakan itu dihias seindah mungkin, selain Daisy ada pula Damar dan dua perempuan lainnya.
Raditya hanya menghela nafas, benar-benar bukan waktu yang tepat, bahkan sang adik terlihat kecewa akan kedatangan mereka. Ia juga berpikir sepertinya ada acara di kontrakan ini melihat pakaian mereka yang ada di sini sangat rapi. Raditya mengerutkan keningnya melihat salah satu wanita yang berdiri di dekat pintu tentunya bukan Daisy, tapi yang sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain karena ditatap olehnya. Raditya merasa pernah melihatnya, tapi ia tak ingat di mana itu.
Daisy yang melihat Ayesha tampak gugup berusaha mencairkan suasana. “Ini bunda sama kakaknya mas Gibran?” tanya Daisy sembari tersenyum ke arah Gibran. Pria itu pun mengangguk. Daisy dengan cepat menyalami tangan Ayesha yang membuat wanita paruh baya itu sedikit terkejut.
“Tante dan kakaknya mas Gibran, perkenalkan aku Daisy. Ini dua sahabatku namanya Lily dan Aster. Kami lagi mengadakan acara kecil-kecilan buat merayakan ulang tahun Lily yang ke 28 tahun,” ucap Daisy memperkenalkan dirinya serta kawan-kawannya.
“Gak usah sebut umur juga kali,” sahut Lily.
“Lah, memang kenyataannya begitu,” balas Daisy yang ingin tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.
Ayesha pun turut tersenyum mendengarnya.
“Iya Daisy, nama tante, Ayesha panggil saja Bunda Ayesha. Ini kakaknya Gibran namanya Raditya panggil saja Radit." Ayesha pun memperkenalkan dirinya dan putra sulungnya. Bunda dari Gibran itu sudah tidak merasa gugup karena putra bungsunya tampak tersenyum melihat interaksinya dengan Daisy, sedangkan Raditya masih berpikir tentang teman Daisy yang baru ia ketahui bernama Aster. Rasanya dia pernah dengar, tapi di mana, lagi-lagi ia tak ingat.
“Bunda sama Mas Radit mau jemput Mas Gibran? Tapi, acaranya baru dimulai. Bagaimana kalau Bunda sama Mas Radit ikut makan di sini saja?” tawar Daisy.
“Eh, tidak usah, Nak. Bunda sepertinya pulang saja,” tolak Ayesha karena tidak enak mengganggu acara mereka.
“Tidak apa-apa Bunda, makanannya banyak kok. Aku tadi buat tumpeng dibantu sama Mas Gibran.” Daisy masih terus membujuk. Kasihan jika sudah datang jauh-jauh tidak dijamu.
“Iya Bunda, ikut saja, biar acara ulang tahunku tambah ramai.” Sekarang Lily juga ikut mengajak. Ayesha yang dibujuk akhirnya mau dan bersama dengan Raditya ikut masuk ke dalam kontrakan.
Kontrakan itu memang kecil, tapi bersih dan sudah dihias sedemikian rupa untuk acara pesta ulang tahun kali ini.
Lily mengambil nasi kuning dan lauk pauknya lalu diserahkan kepada Damar. Tentu pria itu menjadi malu apalagi dilihat oleh Bos, kakaknya bos, serta bundanya bos. Setelah Lily mengambil juga bagiannya, barulah Daisy dengan sigap mengambilkan untuk Gibran. Ayesha yang tampak belum mengambil, Daisy juga dengan senang hati mengambilkannya. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat perlakuan manis Daisy kepadanya dan Gibran. Saat Ayesha mencicipi nasi kuning yang tersaji di hadapannya, ternyata benar-benar cocok dengan seleranya, tapi ini mengingatkannya akan masa lalu.
“Nak, ini kamu yang masak bersama Gibran?” tanya Ayesha.
“Iya, Bunda,” jawab Daisy
“Aku cuma bantu sedikit, Bun, yang buat semua ya Daisy,” sahut Gibran.
“Ini enak sekali, Nak.”
“Terima kasih, Bunda.” Daisy tersenyum senang mendengar pujian itu. Tentu mereka semua makan dengan lahap.
Di lain pihak Raditya terus saja memperhatikan Aster. Awalnya memang Aster merasa kikuk. Namun, akhirnya ia menjadi kesal, dirinya tidak bisa makan dengan lahap seperti biasa karena terganggu oleh tatapan Raditya.
“Mas Radit, kenapa sih lihat aku mulu, naksir ya?” tanya Aster. Perempuan itu bahkan tidak malu walaupun didengar oleh Ayesha.
Tentu Raditya terkejut mendengar ucapan itu, yang lain pun mencoba menahan tawa, begitu pula Ayesha yang memang melihat sedari tadi putra sulungnya memperhatikan teman Daisy yang bernama Aster.
“Tidak mungkin saya naksir kamu! Saya hanya memperhatikan cara makan kamu yang berantakan.”
“Benaran nggak naksir? Terus apa peduli Mas Radit kalau aku makan berantakan, aku bukan istrinya Mas, kecuali Mas Radit mau nikahin aku, baru sedikit-sedikit aku ubah cara makanku.”
Raditya benar-benar tidak habis pikir wanita di hadapannya bisa berbicara seperti itu, apalagi di sana ada sang bunda yang memperhatikan. Sementara Daisy dan Lily sudah cekikikan dan yang lain tersenyum mendengar ucapan Aster yang ceplas-ceplos.
“Siapa juga yang mau nikah sama kamu?!” seru Raditya yang wajahnya tampak menahan malu. Bukan hanya itu, Aster bahkan berani menggesekkan kakinya ke kaki Raditya membuat pria itu melotot tajam. Namun, Aster tidak peduli, ia malah mengedipkan mata ke arah Raditya hingga pria itu bergidik ngeri dibuatnya.
Setelah makan siang selesai Daisy, Aster, Gibran, dan Damar meminta izin untuk pergi ke luar sebentar.
Happy birthday to you, Happy birthday to you
Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday Lily
Nyanyian Daisy dan Aster menggema di seluruh ruangan kontrakan Lily. Mereka membawa kue black forest kesukaan Lily yang dibuat oleh Daisy. Sementara Giran dan Damar tampak di belakang mereka, membawa kado untuk Lily. Tentu saja Lily yang melihat itu sangat senang.
“Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih banyak buat sahabat terbaikku, Daisy dan Aster yang sudah menemani aku selama tiga tahun ini. Kalian memberikan hal berharga untukku yaitu kebebasan. Maaf sudah banyak merepotkan, aku sangat menyayangi kalian berdua,” ucap Lily dengan mata berkaca-kaca, sebelum meniup kue ulang tahunnya. Bagi Lily kedua sahabatnya itu sangat berjasa, jika tidak bertemu mereka, saat itu mungkin ia sudah dijual.
“Lily, kamu kenapa jadi mellow begitu, kamu juga udah banyak bantu kita. Love you too, Lily,” ungkap Daisy dengan mata berkaca-kaca pula, sedangkan Aster, air mata sudah membasahi pipinya.
“Oke, tidak lupa pesan aku buat Daisy jangan selalu meratapi kisah masa lalu menyedihkan, walau itu berat, tetaplah hidup untuk masa depan bukan masa lalu. Jadi, berjuanglah mendapatkan kebahagiaan kamu sendiri. Buat Aster, hampir sama dengan Daisy, tambahannya adalah jangan suka berpikiran negatif, belum tentu apa yang kamu pikirkan itu kenyataannya dan juga kurangi rasa minder dalam diri kamu,” nasihat Lily kemudian.
“Baik, Ndoro.” Daisy tidak jadi menangis karena Lily kembali dengan petuah yang membuat telinganya berdengung. Tentu Aster juga sudah berhenti menangis.
“Buat Mas Damar, Mas Gibran, Bunda Ayesha, dan Mas Radit, terima kasih sudah menyempatkan hadir di pesta ulang tahunku.”
Akhirnya Lily meniup lilin dan juga memotong kue.
“Prikitiw ... Mas Damar lagi, Mas Damar lagi yang dapat potongan pertama, kayaknya Lily udah lupain kita Aster,” ungkap Daisy ketika Lily menyerahkan potongan kue pertama untuk Damar. Hal ini diangguki oleh Aster.
“Kayak kamu nggak aja kalau udah sama Mas Gibran, dia nomor satu, kita nomor ke sekian,” balas Lily yang juga diangguki oleh Aster, sedangkan Damar dan Gibran tampak malu-malu dibuatnya.
“Mas Radit mau nggak jadi pacarku, nanti bakal aku jadiin orang nomor satu deh,” ajak Aster pada Raditya karena merasa dirinya jomblo sendiri. Dia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali menggoda pria itu.
“Dasar cewek gila!” seru Raditya.
“Bunda, aku dibilang gila sama Mas Radit,” adu Aster. Ayesha mengusap rambut Aster sambil tersenyum.
“Jangan dimasukkan ke hati ya, Nak. Kamu juga Radit tidak boleh berkata seperti itu!”
“Bunda kenapa bela cewek jadi-jadian kayak begini.”
“Radit!” seru Ayesha, sedangkan Aster terkikik geli melihat Raditya dimarahi oleh bundanya.
***
Gibran dan Damar memberikan hadiah mereka masing-masing kepada Lily. Gibran dengan laptop canggih model terbarunya dan Damar dengan boneka teddy bear besar. Awalnya Damar sempat minder karena hadiahnya hanya boneka, apa Lily akan menyukainya, tapi dia sudah menanyakan kepada Daisy bahwa Lily menyukai boneka yang imut. Benar saja mata Lily tampak berbinar melihat boneka itu, bahkan lebih berbinar daripada melihat laptop canggih kado dari Gibran.
“Terima kasih ya Mas Damar dan Mas Gibran, hadiahnya pasti aku jaga dengan baik,” ungkap Lily tulus.
“Daisy, Aster, mana hadiah kalian?”
“Aku ‘kan udah bikin tumpeng sama kue," jawab Daisy.
“Ih pamrih. Itu 'kan beda.”
“Oke gaes daripada ribut mending aku dulu.” Aster menyerahkan kadonya yaitu sebuah lukisan dengan gambar Lily yang berpose cantik, terpampang indah di mata wanita yang berulang tahun hari ini.
“Ini bagus banget, memang sih orang yang dalam lukisan juga cantik,” puji Lily kepada dirinya sendiri. Dia berterima kasih kepada Aster apalagi lukisan itu memang hasil karya dari Aster sendiri.
“Ini dari aku.” Daisy menyerahkan kotak kepada Lily dan wanita itu membukanya ternyata di dalamnya ada gaun panjang cantik buatan Daisy sendiri.
“Cantik banget. Terima kasih ya, Dai. Pokoknya kalian berdua memang the best,” ungkap Lily kepada kedua sahabatnya. Dia sangat bersyukur walau kehidupannya dulu menyakitkan, tapi saat ini ia memiliki sahabat yang tulus seperti Daisy dan Aster. Mereka pun akhirnya saling berpelukan. Sedangkan keempat lainnya yang ada di sana tersenyum hangat melihat ketulusan persahabatan Daisy, Aster, dan Lily.
Ayesha dan Raditya memberikan voucher makan gratis di restorannya untuk Lily dan kawan-kawan sebagai hadiah dadakan ulang tahun Lily. Di tengah mereka yang sedang berbincang, Damar masih ada kejutan lain, dia akan menyanyikan sebuah lagu untuk Lily. Dia bahkan sudah membawa gitar dan mulai menyanyikan lagu.
Tolong katakan pada dirinya, lagu ini ku tuliskan untuknya
Nama yang selalu ku sebut dalam doa, sampai aku mampu ucap maukah denganku.
Lagu ‘Tolong’ terdengar merdu dinyanyikan oleh Damar, membuat mata Lily berbinar cerah dan senyum tak hilang dari bibirnya. Ini adalah ulang tahunnya yang sangat berkesan.
Di sisi lain tampak Daisy sedang berbisik dengan Gibran.
“Mas Gibran sama Mas Damar cocoknya bikin duo, pasti nge-trend. Keduanya cakep, punya suara bagus, wih pasti cewek-cewek pada jatuh bangun.”
“Mana yang lebih tampan aku atau Damar?”
“Loh, kok mengarah ke sana, Mas Gibran cemburu ya?”
“Hanya bertanya, lagi pula aku yang takut kamu cemburu kalau aku digemari cewek-cewek.”
“Ih, Nggak ngaku! Tapi tenang, Mas Gibran itu yang paling tampan bagi aku. Kalau masalah cemburu, benar juga, aku ‘kan nggak mau Mas Gibran diambil cewek lain,” ungkap Daisy dan hal ini membuat Gibran tersenyum, semakin mantaplah tekadnya untuk melamar Daisy.
Interaksi mereka berdua tidak luput dari perhatian Ayesha. Sekarang wanita paruh baya itu mengerti mengapa putra bungsunya menyukai Daisy. Dia sosok wanita yang baik, ramah, dan cerdas. Ayesha juga merasa cocok mengobrol dengan Daisy beserta kawan-kawannya. Namun, dia masih heran apa sebenarnya pekerjaan Daisy, Aster, dan Lily, yang jelas ia yakin pekerjaan mereka bukan seperti apa yang ia pikirkan selama ini.
Di tengah mereka menikmati lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Damar, terdengar keributan di luar kontrakan, seperti suara seseorang yang sedang bertengkar. Mereka yang ada di dalam kontrakan Lily bergegas melihat dari jendela apa sebenarnya yang terjadi.