Dendam Membara PoV Johan Hidup terasa begitu indah saat itu. Wulan tiap hari di rumah bekerja bak pembantu dan juga banting tulang di luar rumah. Semua kebutuhan kami dicukupinya, dan uangku hanya kusetor pada Ibu untuk, biaya kuliah Selfi. Sebenarnya, Sinta juga tak jauh beda dengan Wulan. Dia juga sangat baik dan bucin kepadaku. Memang wajahku ini tampan, jadi banyak wanita yang bertekuk lutut dihadapanku. Setiap hari, Sinta lah yang menraktirku makan seharian, dan juga membelikanku rokok. Jadilah uang hasil ngojekku utuh. Semua terasa indah, hingga kemudian Wulan mengetahui tentang perseelingkuhanku. Dia melabrakku, di pangkalan tepatnya di sebuah warung, tempat biasa kami makan dan bermesraan. Tak kusangka, dia berani datang, marah-marah dan menampar pipi Sinta. Dan saat itu, ten

