Aku berusaha membaca tulisan pada buku tugas yang kupegang. Keningku sampai mengkerut. Aku melepas kacamata untuk mengucek mata supaya tulisan tangan ini terlihat lebih jelas. Namun tulisan-tulisan itu tetap terlihat tidak jelas. Tadinya kupikir kadar plus mataku bertambah. Tapi tidak .... Ini karena tulisan tangan Harland yang memang terlalu 'rapi dan cantik' sampai-sampai tak terbaca oleh mataku ini. "Kenapa, sih, Ga?" Harland terheran-heran. "Kok muka kamu keliatan kecut banget? Mirip bau keteknya Mohan! .... Aduh ...." Harland mengaduh karena mendapat auto-tempeleng dari Kian. Padahal Mohan yang jelas-jelas dikatai secara terang-terangan, terlihat biasa-biasa saja. "Sekecut-kecutnya ketek Mohan, masih kecutan ketek lo, Mas!" Kian sampai

