Telapak tangannya yang bergetar berada tepat dibatas paha, dimana senjatanya berada saat dilihatnya Lucca tidak peduli dengan ancaman yang dilontarkan Jansen. Mengeryit merasakan nyeri, memejamkan mata, menghitung di dalam kepala demi memantapkan niat sembari berharap dia akan selamat. "Apa motif kalian sebenarnya?" tanya Lucca. Hitungannya terhenti, Abigail membuka mata, tidak jadi menarik keluar senjatanya saat Jansen mengendurkan pisaunya, dihelanya napas lega. "Kau penasaran rupanya. Kita memang pertama kalinya saling berhadapan seperti ini. Sebelumnya aku hanya mendengar desas desus eksistensi The Black Rose di dunia hitam yang terkenal dan aku ingin melihatnya sendiri." Masuklah empat lelaki berbadan besar penuh tato mengelilingi Lucca yang nampak tenang. Auranya yang

