Dua Minggu kemudian, Entah kenapa, dia masih hidup dan bernapas sampai detik ini meski rasanya penderitaannya tidak ada habisnya. Kendra benar-benar menyiksanya habis-habisan. Seluruh tubuhnya terasa sakit, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mungkin dia memang harus pasrah menunggu kematian seperti yang selalu dikatakan Kendra untuk menakutinya. "Kau terlihat berantakan." Abigail sontak mengangkat kepalanya dengan susah payah saat mendengar seruan seseorang yang sangat dikenalnya itu. Ada begitu banyak pertanyaan yang menggema di dalam kepalanya meski yang dia lakukan saat ini hanya bergeming memandangi lelaki yang duduk di sofa merah maroon tidak jauh darinya sembari menyesap sebotol vodca dan memandanginya dengan tatapan yang sama sekali tidak dikenal

