"Halo,Abigail." Abigail duduk kaku, tangannya mencengkram erat pinggiran kursi hingga terasa sakit saat mendengar kembali suara iblis yang telah menghancurkan kehidupannya selama dua puluh tahun ini. Meskipun Ravel tidak berada di depannya dan dia berbicara hanya melalui sambungan video call yang Abigail duga untuk menghindari pelacakan. Walau tidak bisa melihat, Abigail bisa membayangkan wajah iblis itu di dalam kepalanya. "Senang sekali bisa melihatmu masih hidup dan bernapas walaupun yah, kau tidak bisa melihat wajah bahagiaku ini karena matamu buta. Itu karena kesalahanmu sendiri hingga harus hidup di dalam kegelapan total." Amarah itu menggelegak dalam hatinya. "Aku kembali untuk memulai sebuah permainan." "Dasar b******n!" Abigail marah, semua hal yang dipendamnya selama bertahun-

