Punggung seseorang yang berjalan menjauhinya itu terkesan berbeda di matanya. Nampak kaku disertai kepalan tangan yang menguat. Abigail tidak tahu, bagian mana dari kalimatnya tadi yang membuatnya bereaksi seperti itu. Tidak ada yang aneh, hanya sebentuk doa sederhana yang tulus agar suatu hari nanti lelaki itu memiliki seseorang yang bisa mengubah sikap dinginnya menjadi hangat. Seorang wanita yang akan menjadi malaikatnya sekalipun dia seorang iblis agar hidupnya menjadi lebih baik di tengah dunianya yang keras. Serafine maju menghalangi pandangan setelah Lucca menghilang di balik pintu dan mengulurkan sesuatu di tangannya. "Surat dan tiketmu. Pesawat berangkat dua jam lagi. Kau bisa menunggu di dalam." Abigail tersenyum, tanpa ragu mengambil alih surat juga tiketnya, "Ter

