MAFIA - 04

2066 Kata
Bandar Udara Internasional Heathrow, London "Abi--" Thita memandanginya dengan mata berkaca-kaca. "Apa kau memang harus meninggalkan London secepat ini?" "Yah, meskipun aku senang Thomas sudah melepasmu tapi rasanya--" Sela Latisha disertai helaan napas. "Sulit sekali berpisah denganmu seperti ini." Abigail tersenyum sendu, lama memandangi Thita juga Letisha bergantian, mencoba untuk menahan air matanya tapi gagal. Selama berada di London, merekalah sahabat yang selalu ada untuknya, membuatnya merasa tidak pernah sendirian meski sia-sia saja perjuangannya menyusul Thomas. "Aku tidak mau mengambil resiko Thomas datang dan berubah pikiran." Abigail jelas berbohong, tangannya menggenggam erat pegangan kopernya, tersenyum tipis agar terlihat meyakinkan meski air matanya merebak. "Aku juga ingin tinggal beberapa hari lagi tapi--" Abi mengatupkan bibir, menahan kesedihan di dalam hatinya. Sahabatnya tidak perlu tahu apa yang akan dilaluinya setelah ini. Cukup mereka melihat dia pulang tanpa merasa khawatir. "Aku tetap harus pulang. Aku merindukan rumah." Dadanya terasa sesak, di matanya, rumah terasa lebih jauh berkali-kali lipat saat ini. Thita mengangguk,mengusap sudut air matanya dan mencoba tersenyum, "Tentu. Kami mengerti hal itu." "Aku akan merindukanmu," ucap Letisha. Abigail mengangguk, menghapus air matanya tapi bukannya berhenti, isakannya makin terdengar. Ditundukkannya kepala, menutup mulutnya dengan tangan membiarkan isakannya menguasai. Berharap dalam hati kalau suatu hari ini nanti mereka masih bisa bertemu dan melakukan banyak hal bertiga seperti sebelumnya.  "Abi--" Thita dan Letisha memberikan pelukan mereka yang di balas Abi dengan eratnya seakan saat ini pertemuan terakhir. Menenggelamkan wajah di bahu kedua sahabatnya yang mengelus punggungnya dengan sayang. "Kita masih bisa bertemu lagi. Jangan seperti ini. Kau membuatku begitu sedih," ucap Thita. "Tentu saja kita masih akan bertemu lagi. Jangan berlebihan!" balas Letisha. Abigail hanya mengangguk, tidak mau menjanjikan banyak hal. Saat mengangkat pandangan, Abi melihat lelaki itu. Berdiri cukup jauh dari tempat perpisahan kecil mereka, menunggu dengan tatapan setajam elang, tidak teralihkan. Seperti tawanan yang diperbolehkan mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang ditinggalkan. Namun, Abigail tahu kalau dia tidak hanya berpisah dengan sahabatnya, Shine juga ibunya tapi juga dunia yang sebelumnya. Abigail agak ketakutan membayangkan dunia seperti apa yang akan ditempatinya setelah ini. Mau melarikan diri, dia tidak yakin, The Black Rose akan membiarkannya begitu saja. Saat perpisahan ini pun yang di dapat Abi berkat hasil kesepakatan, anak buah Lucca tersebar di sekitarnya. Abigail mengalihkan pandangan, mengurai pelukannya dan memandangi sahabatnya untuk yang terakhir kalinya.  "Aku akan merindukan kalian. Sampai jumpa lagi." Thita dan Letisha saling merangkul dan mengangguk, "Kami juga." Abigail tersenyum, menggenggam pegangan kopernya berjalan melewati mereka masih sambil memandang sahabatnya yang melambaikan tangan. Abigail balas melambai, berjalan mundur  dengan hati yang berat dan berbalik meninggalkan mereka disertai air mata yang kembali merebak. Abigail mengangkat dagunya, mengusap air matanya, berjalan semakin ke dalam bandara di antara banyaknya orang yang berseliweran dan yang pasti Thita juga Letisha sudah tidak terlihat lagi di belakang. Sebelum mencapai bagian imigrasi, lengannya di tarik membuatnya menoleh kaget dan menemukan The Black Rose berdiri di sampingnya. Tanpa mengatakan apapun, Lucca menariknya pergi ke arah lain, setengah menyeret Abigail yang berusaha menyeimbangkan langkah seraya mempertahankan koper yang digeretnya, mencoba menguatkan hati. Sampai di landasan pesawat dimana ada pesawat pribadi yang siap terbang, Lucca melepas cekalannya dan berbalik menghadapnya. "Wanita selalu saja menggunakan air mata agar terlihat lemah dan butuh dikasihani. Kau pikir, aku tidak tahu arti tatapan kesedihanmu tadi," desisnya. Abigail bergeming di tempatnya saat Lucca maju dan menghunuskan mata biru yang bercampur dengan warna keemasan miliknya. "Apa itu satu-satunya senjata yang kalian miliki agar dikasihani?" Abigail mengerutkan kening, tidak terlalu mengerti dengan kemarahan Lucca. Toh dia tidak melawan hanya menangis. "Tidak seperti lelaki bodoh lainnya yang tidak tahan melihat wanita menangis, aku peringatkan dari sekarang, kalau aku tidak akan pernah mempedulikannya. Setetes air matamu tidak akan ada artinya bagitu, tidak peduli kau mengemis sekalipun untuk dibebaskan." "Apa sebenarnya salahku sampai harus menanggung kemarahanmu seperti ini?" tantang Abi. "Aku menangis bukan untukmu, tapi untuk sahabat yang aku tinggalkan tanpa tahu apa-apa." Lucca diam, Abigail semakin berani. "Tidak perlu kau beritahu, aku bisa melihat lelaki seperti apa kau. Seseorang yang hatinya mulai mati, jiwanya semakin rusak hanya untuk membentengi diri. Aku menangis karena aku punya perasaan, lelaki diluar sana juga menangis karena mereka masih memiliki hati, tapi tidak denganmu!" Mereka saling melempar tatapan tajam, Abigail jelas tidak mau lagi memohon pada lelaki itu untuk dibebaskan karena dia sekarang sudah tidak bisa kembali. Lucca mencengkram lehernya membuat Abi terkesiap kaget dan menatapnya dalam jarak dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Hati yang lemah, mulut yang berani, hidup dengan kepasrahan,  itulah dirimu," desisnya. "Setelah ini, kau akan lihat kehidupan seperti apa yang aku berikan hingga nanti kau juga akan mengeraskan hati untuk menghadapinya." Lucca melepas cekalannya, Abigail termundur seraya memegangi lehernya dan melihat Lucca berjalan menaiki tangga masuk ke dalam pesawat. Abigail bergeming sesaat, melihat ke  belakang dengan tatapan nanar disertai helaan napas panjang.  Abigail berbalik, menyeret kopernya diikuti pengawal Lucca, naik ke dalam pesawat. Selamat tinggal, London. Selamat tinggal Thita dan Letisha Selamat tinggal, Mama Dan.... Selamat tinggal saudariku, Shine Aurora *** Napoli, Italia Italia masuk dalam daftar negara yang harus dikunjunginya saat travelling bersama adiknya, Shine.  Abigail ingat, heboh berdua dengan Shine membicarakan hal itu. Menghabiskan obrolan semalaman suntuk ketika kompak tidak bisa tidur. Mulai dari negara Asia, Amerika, Eropa bahkan ke bagian terjauh bumi. Tidak peduli itu hanya serupa omongan juga rencana, mereka merangkainya berdua. Jalan-jalan ke Roma mengunjungi Colosseum, merambah ke Piazzo di Venice, mengunjungi katedral Gothic di Milan,menikmati galeri Uffizi di Florence dan diakhiri melihat peninggalan kota Pompeii. Saat itu terasa begitu menyenangkan, momen-momen masa lalu yang perlahan memudar seperti kumpulan debu yang terbang tertiup angin. Takdir malah membawanya ke tempat lain. Abigail sama sekali tidak excited saat melihat gemerlapnya kota Napoli yang terlihat tentram dari dalam mobil yang membawa mereka entah ke mana. Terpisah dari Lucca yang berada di mobil depan, Abi duduk bersama seorang wanita cantik berambut lurus panjang yang diikat rapi dan hanya diam. Namun gerakannya yang tangkas mengisyaratkan kalau dia salah satu bodyguard Lucca. Tiba-tiba Abigail tertawa tertahan saat mengingat sesuatu. "Apa yang kau tertawakan?" wanita itu buka suara. Abigail menoleh sekilas lalu kembali memalingkan wajah ke arah luar. "Sesuatu yang lucu." "Lucu?" ulangnya. "Hidupmu bukan lagi milikmu saat ini tapi kau masih bisa tertawa dan menganggap sesuatu lucu." Abigail hanya diam. "Tidakkah kau tahu kalau di setiap sudut kota Napoli bahkan Italia, banyak mafia bertebaran." "Itulah yang membuatku tertawa," ucapnya saat menoleh, memandang balik wanita itu. "Dari film, aku mengetahui kalau Italia sarangnya Vampir dan mengira-mengira apa bisa bertemu dengan yang setampan Edward Cullen saat berkunjung suatu hari nanti." Tidak ada ekspresi di wajah wanita itu tapi Abigail tetap melanjutkan. "Tidak tahunya, Italia sarangnya Mafia, gengster dan penjahat. Menggelikan." Wanita itu memalingkan wajah ke depan tapi sekilas yang terasa samar, Abi melihat senyuman di sudut lain bibirnya. "Kau beruntung menemukan lelaki tampan yang serupa meski dia bukan vampir." "Bedanya, vampir itu masih punya hati sementara lelaki di depan sana hati nuraninya sudah mati." Abigail terdiam sesaat. "Meski dia masih hidup." Hening, tidak ada yang mejawab perkataannya membuatnya mengira kalau wanita itu marah tapi dia enggan untuk melihat.  "Kau tidak bisa mengambil kesimpulan terlalu cepat." Wanita itu buka suara. Abigail menoleh dan melihatnya memandang jauh ke depan. "Manusia tidak bisa memaksakan hatinya untuk benar-benar mati. Mereka hanya bisa melarikan diri dan menganggap hati nuraninya sudah mati." Abigail jelas terganggu dengan perkataan wanita itu, ingin bertanya lebih jauh tapi diurungkan. "Siapa namamu?" tanya Abi. "Untuk apa kau tahu namaku." "Setidaknya aku tahu harus memanggilmu apa." Wanita itu terdiam sesaat, entah sedang memikirkan apa. "Serafine." Abigail tersenyum, "Kau mirip seperti adikku. Bolehkah aku menganggapmu seperti saudara?" Serafine menoleh, "Tidak." Abigail menghela napas, duduk tegak di tempatnya dan memandang ke arah depan. Mobil melambat, Abigail mencoba untuk melihat apa yang tersembunyi di kejauhan. "Kenapa  kau meminta seseorang yang belum kaukenal untuk menjadi saudaramu?" tanya Serafine tiba-tiba. "Bukankah itu terlalu berbahaya." Abigail meremas kedua tangan di pangkuannya, merasa gugup menghadapi sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya dan menjawab pertanyaan Serafine dengan suara lirih. "Supaya aku tidak merasa sendirian di tempat yang asing." Abigail mengalihkan tatapannya keluar, tidak melihat saat Serafine memandanginya dalam diam. *** Mansion mewah bergaya italia itu berdiri di pinggir tebing teluk Napoli. Begitu megah tapi juga menakutkan. Memiliki banyak paviliun yang berdiri di bagian barat dan selatan terpisah dari rumah utama yang tengah di pandangi Abigail setelah keluar dari mobil. Maskulin, misterius, menakutkan tapi mempesona. Seperti gambaran pemiliknya, The Black Rose. "Kau sekarang adalah budakku." Abigail menoleh saat Lucca berjalan mengampirinya. "Melakukan apapun yang aku perintahkan tanpa terkecuali dan bantahan. Jangan sekali-kali menangis di depanku untuk meminta belas kasihan. Ini adalah harga yang harus kau bayar karena telah berhasil lolos dariku dan membebaskanmu dari lelaki tua itu." "Sampai kapan?" tanya Abi. Lucca menarik sudut bibirnya, menyeringai, memandangi lekat Abi yang bergeming. "Sampai aku yang membebaskanmu." Memajukan kepalanya dan berbisik di telinganya. "Tapi itu tidak akan terjadi." Abigail memalingkan wajah, menjauhkan kepalanya dari Lucca. "Bawa dia ke tempatnya," perintah Lucca ke Serafine yang berdiri di sampingnya. "Baik tuan." Lucca berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah utama meninggalkan Abigail menatap punggungnya dengan nanar. "Kau ikut denganku." Abigail menggeret kopernya, berbeda dengan jalan yang dilalui Lucca, Serafine membawanya berbelok ke pavilun di bagian barat melewati taman yang asri, pohon-pohon hias yang hijau diiringi suara deburan ombak  juga angin laut yang berhembus cukup kencang. "Ada beberapa hal yang harus kau pahami," ucap Serafine, Abigail diam mendengarkan. "Rumah utama hanya digunakan jika ada acara juga tamu yang diundang oleh tuan Lucca. Semua pelayan dan bodyguard tinggal di pavilun yang tersebar di sekitar Mansion. Satu lagi bangunan besar yang terpisah dari rumah utama juga pavilun merupakan area pribadi tuan Lucca." Abigail mengikuti arah tangan Serafine yang menunjuk bangunan megah lainnya di belakang rumah utama yang dikelilingi tanaman hias juga taman bunga. "Kau tidak boleh berada di sana kecuali diizinkan oleh Tuan sendiri. Sebut saja itu daerah terlarang." "Apa yang akan terjadi jika aku nekat masuk?" Serafine menatapnya, "Banyak senjata di dalam sana. Kalau kau berpikir lebih baik mati dari pada hidup menjadi b***k Tuan, kau bisa menerobos masuk." "Saran yang bagus," Abigail tersenyum miris, kembali mengikuti Serafine menjauh dari rumah utama semakin ke area paling belakang. Melewati taman kecil yang memiliki air mancur cantik di tengahnya. Bangunan yang tersendiri dan berada lebih dekat dengan pinggir tebing. "Apa yang harus aku lakukan di sini?" tanya Abi, belum mengerti dengan tugasnya. "Serafine--" Wanita itu menoleh saat Abigail memegang lengannya. "Aku di sini bukan untuk melayani tuanmu kan?" Serafine menaikkan alis, berbalik sepenuhnya menghadap Abigail. "Bagi wanita di luar sana, menjadi pemuas Tuan Lucca merupakan sebuah penghormatan." "Aku punya harga diri. Aku bersedia melakukan apapun selain hal itu." Serafine mengangguk, "Kita lihat seberapa kuat kau menjalani tugasmu mulai malam ini." Serafine kembali berbalik, Abigail mengikutinya dengan perasan was-was sampai mereka berdiri di depan pintu yang tertutup. Serafine membukanya, mempersilahkannya masuk dan Abigail disambut ruangan luas yang begitu mewah di dalamnya. Seperti ruang tamu dengan sofa-sofa nyaman dan perabotan mahal. Bagunannya terdiri dari dua lantai, di tengah ruangan menggantung lampu kristal cantik yang menerangi keseluruhan. Abigail masuk, memperhatikan sekitarnya dengan keterpanaan. Banyak pintu yang tersebar di sekitarnya, entah kamar atau mungkin juga lain. "Aku akan perlihatkan apa fungsi dari bangunan ini," ucap Serafine, mendekati hiasan di dekat sofa yang serupa dengan lonceng gereja lalu menyentuhnya hingga menciptakan bunyi yang menyebar ke seluruh ruangan. Tidak berselang lama, lima pintu terbuka dan muncul lima wanita dengan kecantikan rupawan keluar dari sana mengenakan gaun tidur mahal dan seksi. Abigail termundur saat mereka menuruni anak tangga menuju ke arahnya. Semuanya menatap terang-terangan dirinya dari atas sampai bawah seperti merendahkan dengan tatapan marah yang sulit untuk dijelaskan. "Serafine--" Seorang wanita berambut blonde, tinggi semampai layaknya model, yang Abigail pikir tercantik mendekati Serafine yang berdiri di sampingnya. "Apa tuan sudah pulang?" Jangan-jangan mereka.... "Ah syukurlah. Aku sudah rindu padanya," sahut yang lain. "Semoga saja dia memanggilku malam ini," balas yang lainnya lagi, Oh tidak... "Siapa wanita ini?" tunjuk wanita berambut coklat kemerahan. "Jangan bilang, Tuan Lucca mencari p*****r selama dia berpegian di luar sana dan membawanya pulang." Pelacur.. "Dia sama sekali bukan tipe Tuan Lucca," ucap wanita blonde itu. "Namanya Abigail. Dia di sini memang dibawa langsung oleh Tuan Lucca dari London." Abigail mengatupkan bibir saat kelima wanita itu menelanjanginya dengan tatapan tidak suka. "Tapi bukan untuk melayani Tuan seperti kalian, para pelacurnya." Abigail menggenggam erat pegangan kopernya. "Dia di sini untuk melayani semua kebutuhan kalian--" Serafine menoleh ke arahnya. "Tanpa terkecuali." Abigail tidak lagi bisa mengeluarkan sepatah katapun. Wanita berambut blonde itu maju dengan senyuman iblisnya, mendekati Abigail. "Good. Aku memang membutuhkan pembantu di sini." "Dan kau Bellatrix--" Wanita itu menoleh ke Serafine. "Tuan memanggilmu. Siapkan dirimu sekarang. Jangan membuatnya menunggu." Bellatrix tertawa penuh kemenangan, mengedip ke empat wanita di belakangnya yang nampak kesal. "Malam ini milikku." Lalu kembali menatap Abigil dan menunjuk tepat di depan wajahnya. "Dan kau Abigail, ikut denganku sekarang!" Bella berbalik dengan anggun, berjalan melewati wanita yang lain menuju ke arah kamarnya sementara Abigail bergeming di tempatnya. Lucca benar-benar membawanya ke neraka. Demi Tuhan, berapa banyak p*****r yang dia simpan di mansionnya? *** Jangan lupa komen dan lovenya yaa 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN