2

1188 Kata
tiga kalinya. "cepat..." bisiknya panik. Pintu lift akhirnya terbuka. Dinda masuk dan langsung menekan tombol lantai dasar. Begitu pintu tertutup, ia bersandar pada dinding lift. Napasnya memburu. Pikirannya masih di penuhi kejadian semalam. ia ingin mengingat. Namun semakin keras ia mencoba, semakin kepalanya terasa sakit. Dinda memejamkan mata. "kenapa aku bisa sebodoh ini ?" Sebuah air mata jatuh tanpa disadarinya. Ia buru-buru menghapusnya. Tidak. Ia tidak boleh menangis di sini. Tidak boleh membuat dirinya semakin panik. Yang terpenting sekarang adalah pulang. Setelah sampai di lobi, Dinda langsung memesan kendaraan melalui ponselnya. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan hotel. Dinda masuk masuk tanpa banyak bicara. "ke Alamat ini, mbak ?" "iya" sepanjang perjalanan, Dinda hanya menatap jendela. pemandangan kota yang mulai di penuhi aktivitas pagi terasa begitu jauh. Ia bahkan tidak menyadari ketika ponselnya bergetar berkali-kali. Rani. Sasa. Keduanya mengirimkan pesan. Rani: "Din, kamu sudah sampai ? Sasa: Jangan lupa kabari kalau sudah sampai di hotel. Dinda menatap pesan tersebut cukup lama. jarinya bergerak. Dinda: Aku sudah pulang. Ia tidak mengatakan apa pun lagi Tidak tentang kamar yang salah. Tidak tentang pria asing itu. Tidak tentang apa yang terjadi. Dinda bahkan belum yakin dirinya sanggup menceritakankanya. sesampainya di apartemen, ia langsung masuk ke kamar. Tas di lempar ke kursi. Sepatu dilepas sembarangan. Kemudian Dinda berdiri di depan cermin. Ia menatap dirinya sendiri. Wajah pucat. Mata sembap. Rambut berantakan. "lupakan." Dinda mengucapkan satu kata itu kepada dirinya sendiri. "Anggap saja nggak pernah terjadi." Ia menarik napas panjang. "lupakan, Dinda." Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu sesuatu. Ia tidak akan pernah bisa melupakan pagi itu semudah yang ia inginkan. Sementara itu di hotel. Resky akhirnya terbangun. Kepalanya terasa berdenyut. Ia mengerang sambil menekan pelipis. "Gila...." Resky membuka mata Kamar terlihat berantakan. Botol minum masih berada di atas meja. Namun ada sesuatu yang membuatnya berhenti. Sebuah anting kecil tergeletak di lantai. Resky mengambilnya. Ia mengernyit. Ini bukan miliknya. Ingatan malam tadi datang seperti potongan film yang rusak. Pintu terbuka. Seorang perempuan. Wajahnya yang tidak begitu jelas. Kemudian... Resky memejamkan mata. Ia mengusap wajah kasar. "siapa dia ?" Pertanyaan itu menggantung di udara Resky bangkit dari ranjang. Barulah ia menyadari bahwa perempuan itu sudah tidak ada. Ia berjalan menuju pintu. Tidak ada siapa-siapa. Resky menatap lorong hotel. Kemudian pandangannya jatuh pada kertas akses yang masih berada di meja. Ia mengambilnya. Nomor kamar tertera jelas. Resky terdiam. Lalu wajahnya berubah. Ia melihat nomor tersebut sekali lagi. " ini bukan kamar yang seharusnya." Ingatan perlahan tersusun. Malam itu ia sebenarnya memesan kamar di lantai yang berbeda. Entah bagaimana, kartu akses yang digunakannya ternyata tertukar dengan kamar lain. Setelah rapat. Dan perempuan itu.... Mungkin juga masuk kamar yang salah. Resky menghela napas panjang. "jadi kita berdua salah kamar." Ia menatap anting kecil itu di tangannya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. Ia ingin menemukan perempuan itu. Bukan untuk memperumit keadaan. Ia hanya ingin memastikan bahwa perempuan tersebut baik-baik saja. Senin pagi. Dinda kembali ke kampus. Ia mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam seperti biasanya. Dari luar, tidak ada yang berbeda. Namun pikirannya masih kacau. "Din!" Dinda menoleh. Rani berlari kecil menghampirinya. "kamu kenapa nggak balas chat aku semalam?" Dinda tersenyum tipis. "Ketiduran." Rani menyipitkan mata. "kamu yakin ?" "Yakin." Sasa ikut datang. "Untung kamu pulang, Aku kira kamu malah keluyuran sampai pagi." Dinda tertawa kecil. "Nggak." Ia berusaha terdengar biasa. Namun ketika Rani tiba-tiba bertanya, "Eh, kamu masih ingat nggak jalan pulang dari klub ?" Dinda langsung terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat. "Kenapa?" "Karena kamu mabuk banget". Dinda menelan ludah. "Aku ingat." Itu bohong. Ia hampir tidak mengingat apa pun. Rani tidak menyadarinya. "Untung hotelmu dekat." Dinda hanya mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju gedung fakultas. Dinda mencoba memastikan pikirannya pada skripsi. Hari ini ia harus bertemu dosen pembimbing. Ia tidak boleh membiarkan satu malam buruk menghancurkan hidupnya. Setidaknya, inilah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri. Di tempat lain, sebuah mobil berhenti di depan gedung universitas. Resky turun dengan langkah tenang. Kemeja biru tua dan jas hitam membuat penempilannya terleihat jauh berbreda di bandingakn malam sebelumnya. seorang pria yang berjalan di belakangnya membawa bebrapa dokumen. "Pak Resky, rapat dengan pihak yayasa di majukan menjadi jam sepuluh." Resky mengangguk. "baik." Ia berjalan memasuki langsung. Berapa orang yang melihatnya langsung memberikan salam. "Selamat pagi, pak." "Pagi." Selamat datang, Pak." Resky hanya membalas dengan anggukan kecil. Namun ketika ia melewati lorong menuju ruang pemimpin fakultas, langkahnya tiba-tiba berhenti. Di ujung lorong berdiri seorang perempuan. Kemeja putih. Rambut panjang tergerai. Membawa beberapa buku di dadanya. Resky membeku. Wajah itu. Meskipun malam atdi hanya terlihat samar, ia mengenalinya. Perempuan yang sama. Perempuan dari kamar hotel. Dinda. Namun Resky belum mengetahui namanya. Begitu juga Dinda. Ia menyadari keberadaan pria itu. Sampai seseorang di sampingnya menyapa. "Pak Resky, ini mahasiswa kedokteran yang akan mengikuti program penelitian yayasan. Dinda yang mendengarkan nama di sebut langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti. Dinda membeku. Wajahnya berubah pucat. Pria itu. Pria yang ada di kamar hotel. Pria yang ada ingin ia lupakan. Sekarang berdiri tepat di hadapanya. Dan yangn lebih mengerikan.... semua orang di sekitarnya terlihat mengenal pria tersebut. "Pak Muhammad Resky Anugraha," lanjut pria tadi. Dinda hampir menjatuhkan buku di tanganya. Muhammad resky anugraha. Nama itu pernah ia dengar. Bahkan sangat sering. Pemilik yayasan yang bekerja sama dengan Universitasnya. Salah satu angota keluarga terpandang yang memiliki jaringan rumah sakit di beberapa kota. Dan yang paling penting membuat Dinda tidak percaya... Pria itu teryata merupakan salah satu orang yang akan menemukan kelanjutan progaram penelitian mahasiswa kedokteran kampusnya. Resky menatap dinda. Tatapannya tenang. Namun ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seolah ia juga baru menyadari betapa rumit keadaan mereka. "Dinda Putri ?" Suara resky membuat jantung dinda serasa berhenti. Dinda menatapnya. Bapak.... Tahu nama saya ?" Reskky tidak langsung menjawab. Ia justru mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah benda kecil. Anting milik Dinda. Dinda langsung mengenalinya. "itu..." "Punya kamu,kan ?" Dinda terdiam. Tanganya mengepal. Ia ingin mengembilnya. Namun sebelum tanganya terulur, Resky berkata pelan, "Kalau kamu ingin melupan kejadian malam itu, aku tidak akan memaksamu untuk mengingatnya." Dinda menatap resky dengan napas tertahan. "Tapi ada satu hal yang ingin kamu tahu." "apa" Resky mengulurkan anting itu kepadanya. "Semalam kita memang sama-sama masuk ke kamar yang salah." Dinda tidak bergerak. "Dan aku tidak ingin kejadian itu membuatmu merasa takut setiap kal melihatku." Dinda akhirnya mengambil anting tersebut. jari mereka saling bersentuhan. Dinda buru-buru menarik tanganya. Resky memperhatikan dalam diam. Ada jarak di antara mereka. Jarak yang bahkan tidak bisa di jelaskan dengan hanya dengan kata SALAH KAMAR. Dinda memasukkan anting itu ke dalam genggamanya. "Terima kasih, Pak. Resky mengangguk. "Sama-sama. Dinda hendak pergi. Namun suara resky kembali menghentikan langkanya. "Dinda". Ia menoleh. Resky menatapanya bebrapa detik. "Mulai hari ini, kita mungkin akan sering bertemu." Dinda terdiam. kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak. KArena baru saja ia berusaha menyakinkan dirinya untuk melupakan satu malam. Dan sekarang... Pria yang ingin ia lupakan teryata akan menjadi bagian dari kehidupan kampusnya. Dinda menggenggam erat anting di tanganya Ia tidak tahu bahwa pertemuan pagi itu bukanlah akhir dari masalah. Justru... Itulah awalan dari sebuah hubungan yang sama sekali tidak perah ia rencanakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN