*Membaca Al-Qur'an lebih utama* Aji kembali lagi ke kantornya, dengan wajah yang ia usahakan tidak terlihat ada masalah, masuk ke dalam lift dalam diam, sambil terus memikirkan ucapan istrinya. Benar apa yang dikatakan ibunya dahulu, suatu saat status dan kedudukan memang akan menjadi sebuah masalah, meski awalnya saling menerima. Ia tau maksud istrinya bukan demikian, tapi entah mengapa hatinya tetap merasakan sakit ketika mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mungil sang istri. Aji melihat rekan kerjanya yang juga sedang menatapnya dengan heran, bagaimana tidak? Dirinya kan tadi sudah pulang, bahkan kabur dari hadapan pemilik perusahaan, tapi tidak sampai satu jam, dirinya sudah kembali lagi dengan penampilan yang acak-acakan dan sangat berbeda dari yang sebelumnya. "Loh, J

