*Membaca Al-Qur'an lebih utama* Dengan telaten Aji yang memangku Rasya mengobati bekas cakaran yang berada di pipi chubby itu. Sesekali Rasya mengeluh dan juga meringis ketika cairan antiseptik menetes di lukanya. "Abang kok berantem, kenapa?" Rasya menunduk semakin dalam. Ia sesekali melirik bundanya yang terlihat santai dengan memakan buah yang terdapat di ruangan sang kakek. "Abang, kenapa Hem?" Aji melirik Rasya dengan intens. Ia menunggu sang anak menjawab pertanyaannya. "Berantem." "Ya iya, berantem. Maksudnya itu berantem kenapa? Sama siapa?" ujar Aji yang merasa sangat gemas dengan anaknya sekarang. Tanpa diberitahu juga ia sudah tahu terlebih dahulu kalau anaknya ini berantem. "Sama orang!" Jawab Rasya lagi yang malah membuat Aji mendesah frustasi, sedangkan Kusuma d

