"Wah, hebat sekali bumil yang satu ini. Kamu berani bicara di depan publik, lalu mengakui siapa ayah yang ada dalam rahimmu. Aku benar-benar salut padamu, Marin," ucap Erick saat aku meminta bertemu dengannya di sebuah cafe yang cukup terjaga privasinya. Bukan apa-apa, aku hanya merasa bersalah pada orang yang selama ini selalu mendampingiku. Semoga Erick tidak tersinggung saat aku menyebut mantan suamiku dan kembali mengaitkannya dengan anak yang ada dalam rahimku. "Entah itu sindiran atau kau benar-benar mengagumiku," balasku mengulas senyum sambil duduk di depannya. Erick terkekeh menampilkan gigi-giginya yang bersih dan rapi. "Jelas sebenarnya aku cemburu. Bahkan setelah ketuk palu, Bian masih saja dikait-kaitkan denganmu." "Lalu aku harus bagaimana, hm? Masa iya aku mengakui k

