"Yeay, akhirnya kita pulang juga. Makasih Ma, udah bawa aku pulang." Sebuah kecupan mendarat di pipi dari putra semata wayangku. Anak itu terlihat riang gembira saat kubawa kembali ke tempatnya tumbuh selama ini. Richie bergegas turun dari mobil dan menghambur ke halaman. Dia menggerak-gerakan gagang pintu agar lebih cepat masuk ke dalam. "Awas kejepit, Nak," pesanku agar dia tetap berhati-hati. "Aku tahu, Ma." Aku menggeleng pelan melihat ketidak sabarannya. Beberapa asisten rumah tangga menyambut di depan pintu. Mau tidak mau aku menanyakan keadaan mereka selama aku tinggal hampir dua minggu lamanya. "Semuanya baik-baik saja, tidak ada yang berubah, Bu." 'Kecuali hati dan perasaanku,' jawabku dalam hati. Membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya lalu mengedarkan pandangan ke se

