Bab 15: Si Egois

1513 Kata
Hubungan Nadia dengan Sule semakin lama semakin dekat, bahkan terkadang di sela-sela tugasnya, Sule dengan suka rela menjadi kurir pengantar makanan di kala gadis nya itu tengah kelaparan di rumah. Untungnya rumah gadis itu tidak memakan waktu lama dari pos tempatnya berjaga. Seperti siang ini, Nadia yang tengah istirahat menemukan chat dari Sule yang entah dari mana ceritanya bisa menjadi teman ngobrol nya selama seminggu ini. Sule prikitiw " Mau dibawain apa?" Nadia mengernyit kan dahinya, berfikir sejenak makanan yang akan ia titip kepada pemuda itu, pasalnya Sule sendiri yang menawarkan untuk menjadi jasa deliver khusus untuknya. "Belikan rujak yang Deket simpang itu, Bang." Ketika membaca ulang chatnya, kalau boleh jujur Nadia merasa geli, terlebih ketika panggilan itu tersemat dalam obrolannya. Tapi mau dikata apa? Dia yang memang mendapatkan dorongan dari ibunya yang entah sejak kapan menjadi fans nomor satu Sule memaksanya untuk memanggil pemuda itu dengan embel-embel Abang, seperti panggilan yang sering orang Medan ucapkan. Tak ada lagi balasan dari Sule, hanya centang dua berwarna biru yang Nadia yakin saat ini pemuda itu tengah berada di atas motornya, sebab seminggu kenal Sule ia menyadari jika Sule bukan orang bengal hukum sepertinya, jadi bisa dikatakan antara dirinya dengan Sule begitu banyak perbedaan yang signifikan, jika Sule patuh terhadap hukum, maka Nadia adalah kebalikannya. "Nad, makan gak?" Teriak Rizqi yang sedang memesan makanannya. Nadia menggeleng pelan, ia sudah terlanjur memesan makanan dari Sule, jadi sangat tidak tau diri jika ia malah memesan makanan lagi. "Ada pak pol yang ngasih dia makanan." Celetuk Rahman yang kebetulan memang tau kedekatan Sule dengan Nadia. Rizqi yang mendengar itu pun mendadak tertawa ngakak seolah-olah ada yang terdengar lucu dari ucapan Rahman. "Sekarang Nadia udah kek hewan peliharaan yah? Dikasih makan." "Anjir, iya juga yah hahaha... Ya Allah Nad." Nadia menatap keduanya dengan cengok, emang apa nya yang lucu sih? Kenapa dua manusia di depannya ini malah ngakak gak jelas. "Nadia sekarang kayak guk guk... Dikasih makan dan pake jadwal." "Halah Ki, bilang aja lu iri kan? Lemes prend, gak diingetin makan sama ayang." Sindir Nadia dengan pedas, bahkan gadis itu sambil memperagakan sesuai dengan yang sedang viral saat ini. "Jangan iri dengki Bosque... Ngatain gue hewan, lagian nih yah, harusnya gue bersyukur dong. Uang jajan gak berkurang, makanan super lengkap. " Sombong Nadia yang dengan angkuhnya mengejek Rizqi yang terdiam. Rizqi mendesis pelan, merasa tidak terima telah kalah telak dari Nadia. "Halah muncungmu itu, kemarin-kemarin siapa tuh yang ngamuk-ngamuk kalau habis jumpa sama bang Sule? Siapa yang mencak-mencak kalau kena tilang Sule? Sekarang aja jadi bucin," sahut Rizqi dengan suara yang cukup keras, bahkan beberapa orang yang berada di sebelah mereka yang tadinya tertawa langsung terdiam dan menatap meja mereka dengan heran. "Anjir, Qi. Buat malu Mulu lu akh! Diliatin sama dosen juga." Nadia mengikuti arah yang ditunjuk Rahman, dan benar saja di meja yang tak jauh dari mereka terdapat beberapa dosen mudah yang mengajar di fakultas hukum tengah menatap mereka dengan penasaran, semua ini karena suara toak Rizqi yang tidak terkontrol. "Anjir emang, buat malu aja nih bocah. Dah lah, gue nunggu di depan aja, takutnya si Sule udah sampe tapi mendadak lupa buat ngechat gue. Bay... Sahabat jomblo gue." Rizqi dengan Rahman saling bersitatapan dan menggeleng pelan begitu sadar jika Nadia yang barusan mengejek mereka masih berstatus jomblo. Emang mulutnya aja yang laknat sampai tidak mengakui kejombloannya sendiri. Lagian mana mau Sule sama model monyet liar kayak Nadia. "Sahabat lu kurang waras." "Itu sahabat lu juga Taik." Tak lama keduanya ngakak dan sibuk dengan makanannya masing-masing. Sedangkan Nadia masih harus kepanasan dan menyesal telah meninggalkan kantin, sebab Sule sampai sekarang juga belum memunculkan wajah tengil minta ditabok nya itu. Ia bahkan sudah menunggu seperti pengemis di sebelah pos satpam gerbang utama. Syukur satpam yang sedang bertugas mengenal dirinya sehingga ia tidak garis sekali karena satpam tersebut mengajaknya bercerita panjang kali lebar sampai bervolume. Setelah menunggu sangat lama, dari kejauhan Nadia bisa melihat Sule datang dengan sepeda motornya dan menenteng tiga plastik yang Nadia duga berisi makanan. Gadis itu dengan rasa dongkol dan terkesan ogah-ogahan menghampiri Sule yang berdiri di depan gerbang sambil cengengesan. Menyadari jika gadis di depannya tengah merajuk, Sule bukannya membujuk malah terus melangkah masuk ke dalam universitas dan memarkirkan motornya di depan Indomaret. Semoga saja itu motor gak hilang, karena Sule meminjamnya dari teman yang sedang jaga post. "Merajuk?" Tanya Sule begitu tiba di koridor fakultas hukum. Nadia tidak menjawab, gadis itu asyik bermain ponsel seolah tidak melihat keberadaan Sule di sebelahnya. Menghela nafas pelan, Sule mencoba memahami Nadia dan berusaha menempatkan dirinya jika menjadi gadis itu. "Maaf, tadi rujaknya antri, terus pas mau ke kampus ternyata motor aku mogok jadi pinjem motor temen." Nadia masih bungkam, bahkan gadis itu terlihat akan bersiap untuk pergi, dengan cepat Sule meraih tangan Nadia dan meletakkan kantongan plastik yang ia bawa tadi. "Makan, jangan gak dimakan, aku udah rela bayar anak SMA yang ngantri biar aku duluan yang dapat ini rujak. Maaf kalau buat nunggu lama, aku balik tugas dulu." Sule pergi dari hadapan Nadia dengan perasaan yang tidak menentu. Ini sudah kesekian kalinya terjadi, bahkan bisa dibilang hampir setiap hari jika Sule mengantarkan pesanan gadis itu, maka telat sedikit akan membuat Nadia acuh dan tidak peduli dengannya. Apa mungkin setelah perjuangan sebanyak itu Nadia tetap tidak memandangnya? Menghela nafas kasar, Sule mencoba untuk meredam emosinya, ia dengan segera melakukan motornya menuju pos jaga tanpa menatap ke arah Nadia lagi. Sedangkan gadis itu masih termenung di tempat dengan mata yang memandang tiga kantong plastik yang berisi makanan itu. Pikirannya sedang tidak tenang, apalagi melihat respon Sule yang tidak seperti biasanya. Jika biasanya ia merajuk Sule akan membujuk, maka kali ini sangat berbeda, bahkan pemuda itu seolah membiarkannya merajuk dan sengaja pergi karena bosan meladeni nya. Nadia yang sudah over thinking pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantin dengan membawa makanan tadi. Meski hatinya sudah gunda gulana bukan berarti dirinya melupakan perut yang sudah meronta minta diisi. "Wuihhhh banyak makanan, boy... Mantap juga bang Sule ini yah. " Nadia tidak meladeni Rizqi sama sekali, gadis itu malah membuka bungkusan yang berisi nasi Padang kesukaannya. "Tumben gak marah-marah biasanya lu ngamuk kalau baru ngambil makanan dari Sule. Kali ini dia gak telat yah? Wajar sih, mungkin bang Sule males dengerin elu ngomel." Nadia yang sedang mengunyah langsung berhenti dan menatap Rahman yang tanpa dosanya membuka bungkusan berisi bakso bakar. Nadia jadi berfikir apa selama ini ia terlalu kekanakan? Bahkan Rahman sampai hapal dirinya yang sering ngamuk. "Udah gak usah dipikirin omongan Rahman, lagian itu udah kodrat cewek sih, selalu merasa bener dan minta di prioritaskan, padahal bukan siapa-siapa." Jleb! Kata-kata Rizqi seolah menamparnya dari sebuah kenyataan, ia dengan Sule tidak memiliki hubungan apa-apa tapi dengan tidak tahu dirinya ia malah memanfaatkan pemuda itu bahkan setelah nya ia malah ngamuk-ngamuk gak jelas. "Inget yah, Nad. Gue gak peduli elu mau sakit hati sama kata-kata gue, tapi elu gak ada hak buat marah-marah ke dia bahkan kalau boleh gue ngomong nih yah, lu sama sekali gak berhak nyuruh-nyuruh dia buat beli makanan lu. Defenisi gak tau diri tapi sok paling bener yah elu... Udah dibeliin malah gak tau terima kasih," ujar Rizqi yang dari nadanya saja Nadia sudah tau jika temannya itu sudah dongkol. "Qi, jangan gitu kali. Yah kan wajar Nadia marah disuruh nunggu lama." Bela Rahman yang tidak enak melihat mimik wajah Nadia yang kurang bersahabat. "Nunggu lama? Yang bener aja, bahkan semalam tuh bang Sule cuma telat gak sampe lima menit, tapi ngambeknya udah kayak nunggu berjam-jam, keterlaluan sih menurut gue. Bukan karena gua jantan yah, tapi emang Nadia udah kelewat, kayak manfaatin bang Sule. Mentang-mentang bang Sule nya diem, jadi ngeremehin. Moga aja bang Sule cepet sadar. Dah lah, gue mau ke kelas, di sini panas." Rizqi pergi dari kantin meninggalkan dua orang yang tengah dilanda atmosfer kurang mengenakan. Rahman berdehem bentar lalu menatap Nadia yang juga melirik ke arahnya. "Menurut gue Rizqi bener, kalau emang lu gak suka jauhin, jangan ngasih harapan. Bukan itu atau gimana, tapi lu bersikap seolah lu lagi ada hubungan sama bang Sule, padahal enggak. Berhenti jadi egois dan sok paling tersakiti, Nad. Gue gak tau hati bang Sule terbuat dari apa, yang jelas kalau gue jadi dia udah dari lama elu gue tinggal." Rahman menatap Nadia dengan lekat. "... saran gue, coba lu tanya sana hati lu sendiri, Jangan sakiti anak orang, Nad. Inget ada Patwa yang juga seorang laki-laki, gimana kalau Adek lu berada di posisi Sule. Inget itu. Gue duluan, Rizqi suka rese kalau lagi badmood. Pikirin matang-matang semua yang gua ucapin tadi. Kedengarannya sakit sih, tapi kami berdua gak mau Lu jadi kejam kayak gini." Nadia menatap kepergian Rahman Dengan sendu, apa benar dirinya sudah keterlaluan? Dirinya egois? Astaga, ia bahkan tidak sadar dengan semua ini. Sule sudah selalu sabar menghadapi semua tingkahnya yang sangat keterlaluan. Nadia kembali melihat jejeran makanan yang dibawa Sule tadi, ia tahu jika rujak yang ia pesan merupakan rujak terlaris dan tentunya mendapatkan seporsi ini saja sangat sulit, tapi dengan tidak tau dirinya Nadia malah merajuk dan menyalahkan Sule atas keterlambatannya dan membuat nya menunggu lama. dasar Nadia egois. dirinya sangat egois.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN