"SUSTRINI" Kuntilanak Gunung Sumbing

3202 Kata
Kisah ini di alami oleh 6 orang pendaki, 4 cowok dan 2 cewek, sebut saja mereka adalah Anto, Wily, Fajar, Rendi, Chika dan Ana. Waktu mereka mendaki ke gunung Sumbing tahun 2019, mereka ini sempat bareng sama pendaki cewek, yang waktu itu si pendaki cewek ini sedang mendaki sendiri alias solo hiking. Tapi selama mereka bareng sama pendaki cewek itu, mereka ini sering merasakan hal yang janggal hingga pada akhirnya mereka tahu siapa sebenarnya cewek yang bareng sama mereka itu. ..... ... Waktu itu sekitar pukul 3 sore, mereka berenam ini sedang kumpul di tempat yang biasa mereka gunakan untuk nongkrong untuk membahas rencana pendakian ke gunung Sumbing. Kegiatan mendaki gunung memang rutin mereka lakukan, biasanya sebulan sekali mereka ini aktif mendaki ke gunung-gunung yang tidak terbilang berat seperti gunng Prau dll, dan biasanya setiap 3 bulan sekali mereka ini selalu merencanakan pendakian ke gunung yang mempunyai ketinggian diatas 3000 MDPL. Kenapa bisa seperti itu? Karena waktu itu mereka berenam ini lagi senang-senangnya bergelut dengan alam. Karena sudah 3 bulang terakhir mereka tidak mendaki ke gunung yang memiliki ketinggian 3000 MDPL, di tongkrongan itu mereka membahas rencana pendakian ke gunung Sumbing. Sebenarnya rencana untuk ke gunung Sumbing ini sudah lama mereka rancang tapi baru kesampaian sekarang. Setelah membahas rencana itu mereka lanjut ngobrol-ngobrol dan bercanda, hingga sekitar pukul setengah 6 sore mereka kembali pulang. Singkat cerita, tibalah hari pemberangkatan, pagi itu mereka berkumpul di rumahnya Wily dan berencana berangkat bareng dari sana, setelah semua sudah berkumpul mereka langsung bergegas menggendong kariernya masing-masing dan berkendara menuju ke basecamp gunung Sumbing via Garung dengan menggunakan motor. Kurang lebih pukul 10 pagi, sampailah mereka di basecamp, sesampainya di basecamp Wily segera mengurus izin, jadi bisa di bilang Wily ini ketua kelompok pendakiannya. Setelah itu pendakian di mulai sekitar pukul 11 siang, berhubung di situ ada jasa ojek sampai pos satu, mereka memilih untuk naik ojek saja biar lebih menghemat tenaga. Tapi ojek yang ada di sini berbeda, kalo biasanya penumpang di bonceng di belakang, ini mereka di bonceng di depan, jadi mereka ini bisa merasakan sensasi yang berbeda, apalagi tukang ojek itu jalannya cukup ngebut. Kurang lebih pukul setengah 12 siang sampailah mereka di pos 1, di situ mereka berhenti sejenak karena merasa tegang setelah di bonceng sama ojek tadi, tapi mereka juga ketawa ketika lihat ekspresi Ana dan Chika yang masih gemetar setelah menaiki ojek tadi. Setelah dirasa sudah siap mendaki mereka mulai berjalan menuju ke pos 2, dengan posisi Wily berjalan paling depan, disusul Rendi, Fajar, Ana, Chika dan Anto paling belakang. Perjalanan menuju pos 2 masih belum ada kejanggalan apapun dan di sepanjang jalan cuma ngobrol-ngobrol dan sesekali bercanda. Setelah cukup lama berjalan, sekitar pukul 2 siang sampailah mereka di pos 2, di sini mereka memutuskan berhenti lebih lama untuk masak-masak makanan ringan sambil ngopi. Sambil menikmati kopi, mereka berdiskusi dimana nanti akan bermalam dan Wily mengajak mereka untuk camp di pos 3 aja. Setelah cukup istirahat, mereka berkemas lagi dan perjalanan kembali di lanjutkan. Nah, di tengah perjalanan menuju ke pos 3 tepatnya di area engkol-engkolan, sekitar 10 meter di depan, Wily yang waktu itu berjalan paling depan melihat ada seorang cewek yang sedang duduk di pinggir jalur, dia memakai celana hitam dan kaos putih, rambutnya cukup panjang terurai dan juga membawa tas carrier, sepertinya dia juga pendaki. Melihat itu Wily bilang ke teman-temannya, “Eh itu di depan kayak ada pendaki cewek?” “Iya tuh, sendirian pula”, jawab Anto. Mereka berjalan menuju kearah cewek tersebut karena kebetulan arah jalurnya menuju ke sana, sesampai di tempat cewek itu Wily bertanya, “Mari mbak?”, “Iya mari”, jawab cewek itu dengan singkat. Karena cukup lelah mereka berhenti sebentar dan lanjut bertanya pada pendaki cewek itu, “Sendirian aja mbak, apa sama temen?” “Enggak, aku ndaki sendiri” jawab cewek itu dengan ramah. “Udah turun apa masu naik?”, tanya Wily. “Baru mau naik”, jawab cewek itu. Mendengar itu mereka semua heran, kok berani cewek mendaki sendirian? Lalu Wily mencoba mengajak pendaki cewek itu untuk berjalan bareng, dengan tujuan biar rame dan cewek itu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Disitu satu persatu dari mereka bersalaman dengan cewek itu sekalian kenalan, dia bilang kalo namanya adalah Sustrini. Willy tanya dimana dia tinggal dan dia bilang tinggal di daerah dekat sini tapi dia tidak menyebutkan alamatnya. Mereka mikirnya, “Pantes aja dia berani mendaki sendiri orang sini sendiri” Nah, pas Ana bersalaman dengan Sustrini, dia merasa sedikit gugup karena ada sesuatu yang aneh. Setelah bersalaman itu mereka kembali melanjutkan perjalanan bersama Sustrini yang berjalan di paling belakang. Di perjalanan Ana pindah posisi di belakang Wily dan jarak mereka berjalan ini cukup jauh, lalu pelan-pelan Ana berbisik pada Wily, “Wil, cewek tadi kok aneh ya?” “Aneh kenapa?”, jawab Wily. “Pas aku salaman tadi tangannya dingin banget dan lembab”, jelas Ana. “Masa sih? Perasaan biasa aja?”, jawab Wily. Ana terus meyakinkan Wily tentang apa yang dirasakannya tapi Wily tidak begitu menanggapinya hingga akhirnya Ana hanya diam. Di sepanjang perjalanan belum ada yang aneh dan berjalan normal. Setelah melewati track yang cukup menanjak sampailah mereka di pos bayangan yang disebut Seduplak Roto, disitu mereka beristirahat sejenak untuk minum. Nah, waktu sedang istirahat, Ana sempat melihat ke Sustrini yang waktu itu duduk di sebelahnya, sepertinya dia tidak kelelahan sama sekali bahkan kelihatannya dia tidak berkeringat. Disini Ana semakin merasa aneh, “Tracknya tadi nanjak banget loh, tapi cewek ini kok kayak nggak kelelahan sama sekali?”. Ucapnya dalam hati sambil melihat ke arah Sustrini yang sedang melihat kearah bawah. Dia terus memperhatikan Sustrini dan ketika sedang fokus memperhatikannya tiba-tiba Sustrini melirik ke arah Ana sambil tersenyum sinis, melihat itu Ana langsung mengalihkan pandangannya dan pindah tempat duduk di sebelah Anto yang jaraknya cukup jauh dari Sustrini. Sebenarnya Ana ingin bilang tentang apa yang dirasakan itu pada teman-temannya tapi dia tidak enak sama Sustrini, akhirnya dia memilih untuk menyimpan itu dulu dan tunggu waktu yang tepat. Setelah cukup istirahat, perjalanan kembali di lanjutkan. Sebelum lanjut berjalan Wily sempat meminta Sustrini untuk berjalan di tengah tapi dia tidak mau dan ingin berjalan di belakang aja. Sambil berjalan Ana masih memikirkan tentang Sustrini, tapi semakin dia memikirkannya dia malah jadi merinding karena teringat dengan senyuman sinis Sustrini tadi, disisi lain selama perjalanan itu Sustini hanya diam tidak mengucapkan 1 patah katapun. Di tengah perjalanan menuju ke pos 3, Ana yang waktu itu berjalan di depan Anto tiba-tiba mencium bau yang aneh, baunya ini sangat wangi seperti wangi bunga melati, tapi itu hanya sekejap. Nah, nggak tau kenapa ketika mencium bau wangi itu spontan pandangannya tertuju pada Sustrini yang berjalan cukup jauh di belakang. Sepertinya bau wangi itu bersumber dari arah Sustrini. Disini Ana bilang ke Anto, “To, kamu cium bau wangi nggak?” “Iya tadi sekilas, tapi sekarang udah enggak”, jawab Anto. “Aku kok ngerasa ada yang aneh ya sama cewek itu ?(Sustrini)”, ucap Ana. “Aneh kenapa?”, tanya Anto. “Dia dari tadi diem mulu dan gak mau jalan deketan sama kita”. Jelas Ana. Anto kemudian melihat kearah belakang begitupun dengan Ana, terlihat Sustrini ini sedang menikmati jalannya sambil terus melihat kearah bawah. “Iya ya, kok aneh gitu”, ucap Anto. “Mangkanya, tadi pas istirahat dia sempet senyum sinis ke aku”, lanjut Ana. Anto mengajak Ana untuk berfikir positif, mungkin aja dia memang begitu orangnya. Singkat cerita, sampailah mereka di pos 3 sekitar pukul setengah 6 sore, di pos 3 itu suasananya sangat sepi hanya ada 1 rombongan pendaki lain itupun jaraknya cukup jauh. Sesampainya di situ mereka segera mendirikan 2 tenda, 1 tenda untuk cowok dan satunya untuk cewek, sedangkan dia membawa dan mendirikan tenda sendiri. Mereka lanjut masak di depan tenda dan ketika mereka sedang masak itu Sustrini berada di dalam tendanya. Melihat Sustrini yang waktu itu di dalam tenda Wily mengajaknya untuk ikut gabung dengan yang lain tapi Sustrini bilang nanti dia akan menyusul. Ketika mereka ini sedang sibuk memasak, tiba-tiba Ana mencium bau wangi lagi seperti tadi. Mencium bau itu spontan Ana nyeletuk, “Eh ini bau apa ya, kok wangi gini” Mendengar ucapan Ana mereka semua memasang hidung dan ternyata benar, yang mencium wangi itu ternyata bukan cuma Ana tapi mereka semua juga. Mereka celingukan mencari sumber bau itu dan setelah dicari, sepertinya bau wangi itu berasal dari tenda Sustrini, mereka pun berhenti membahas hal itu karena mungkin di dalam tenda Sustrini sedang memakai parfum. Ana berinisiatif untuk mengatakan tentang bau wangi ini pada teman-temannya, kalau di sepanjang jalan tadi dia sempat mencium bau yang serupa tapi pas dia mau bilang tiba-tiba terlihat Sustrini keluar dari tendanya dan ikut gabung, dan anehnya pas Sustrini duduk bersama mereka, Ana sudah tidak mencium bau wangi itu lagi. Sustrini hanya terlihat menunduk dan tidak ngomong sama sekali. Ketika masakan sudah matang mereka semua makan dan tidak lupa Wily mengajak Sustrini untuk makan bareng, tapi waktu itu Sustrini tidak mau makan dengan alasan dia tidak lapar. Mereka menganggap mungkin tadi di dalam tenda dia sudah makan. Sambil makan itu tiba-tiba bulu kuduk Ana berdiri terlebih ketika dia melirik kearah Sustrini yang sedang duduk diam sambil terus melihat kebawah. Setelah selesai makan mereka lanjut ngopi di depan tenda sambil ngobrol-ngobrol. Ketika sedang ngobrol itu sesekali mereka mengajak Sustrini untuk ikut ngobrol tapi dia tidak mengeluarkan katapun, ketika di bercanadin responnya cuma senyum. Di sela-sela obrolan tiba-tiba Sustrini pamit pada mereka untuk masuk kedalam tenda dengan alasan untuk tidur. Setelah masuk kedalam tenda, dengan Ana membuka omongan, “Eh, kalian ngerasa ada yang aneh gak sih sama pendaki cewek itu?” “Kenapa?”, tanya Wily “Sejak gabung sama kita dia gak kedengeran ngomong sama sekali”, jelas Ana. “Iya juga ya, aku baru nyadar”, jawab Wily. “Trus kalian inget gak sama bau wangi tadi, sebenernya di perjalanan tadi aku juga mencium bau itu, Anto juga”. Lanjut Ana. Wily meminta pada Ana agar tidak ngomong aneh-aneh dan berfikir positif aja, mungkin aja itu memang sifatnya. Karena malam semakin larut, mereka memutuskan untuk segera tidur. Ana menempati 1 tenda bersama Chika, di dalam tenda dia menceritakan tentang kejanggalan yang dia rasakan kepada Chika, tapi tanggapannya Chika sama seperti Wily tadi. Ana mencoba membuang pikirkan negatifnya pada Sustrini tapi tidak bisa, semakin dilupakan wajah Sustrini semakin terbayang di dalam pikiran Ana. Sebelum tidur Ana berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka semua. Ketika sedang tidur Ana bermimpi, mimpinya itu seperti nyata dan sangat menyeramkan. Di tempat ini Ana merasa ingin buang air kecil dan dia keluar dari tenda untuk mencari tempat buang air. Setelah keluar tenda dia melihat Sustrini sedang duduk dengan posisi menumpangkan dagunya di atas kedua lututnya sambil mencoret-coret tanah dengan sebatang ranting kayu. Melihat itu Ana menyapa Sustrini, “Mbak, kok nggak tidur?” Sustrini melihat kearah Ana dengan senyuman sinis, lalu dia menjawab dengan nada yang sangat datar. “Enggak mbak, saya tidak ngantuk”.... Ana kemudian pergi ke belakang tenda untuk melaksanakan niatnya buang air, dan ketika dia sedang buang air, sayup-sayup terdengar ada suara nyanyian dari seorang wanita yang sangat merdu. “Tak lelo, lelo, lelo ledung, (Mari kutimang-timang engkau anakku) Cep meneng ojo pijer nangis, (cup cup, jangan menangis terus) Anakku sing ayu rupane, (ankku yang cantik) Yen nangis ndak ilang ayune”, (kalau menangis nanti hilang cantiknya) Mendengar itu Ana merasa takut dan segera menuntaskan hajatnya buang air, setelah itu dia berjalan kembali untuk masuk kedalam tenda. Sesampainya di depan tenda ternyata yang menyanyi merdu itu adalah Sustrini, dia menyanyi dalam posisi seperti tadi, duduk dan mencoret-coret tanah dengan ranting, tapi anehnya kali ini Sustrini tidak berpakaian pendaki melainkan berpakaian putih lusuh dan sangat kotor, rambutnya panjang dan berantakan. Melihat itu Ana benar-benar ketakutan, pelan-pelan dia berjalan masuk kedalam tenda sambil sesekali melirik kearah Sustrini dan ketika dia sedang melirik itu tiba-tiba Sustrini menoleh kearah Ana sambil tersenyum sinis. Ana cepat-cepat masuk kedalam tenda dan menutupnya rapat-rapat. Di dalam tenda dia benar-benar ketakutan. Suara nyanyian Sustrini masih terus terdengar di telinga Ana hingga akhirnya suara nyanyian itu membuat Ana terlelap tidur. Tidak lama setelah itu terdengar suara Chika membangunkan dan mengajaknya untuk keluar tenda mencari udara segar. Bangun tidur dia masih terbayang mimpinya barusan dan dia baru sadar kalau ternyata itu hanyalah mimpi. Ana tidak menceritakan hal itu kepada Chika dan langsung keluar tenda. Di luar tenda, terlihat mereka yang cowok sudah pada bangun dan sedang membicarakan sesuatu. Ternyata yang dibicarakan pagi itu adalah Sustrini yang pagi ini terlihat sudah tidak ada begitupun dengan tendanya. Ana dan Chika ikut nimbrung bersama mereka yang cowok dan disitu Anto bercerita kalau semalam dia sempat keluar tenda untuk pipis dan melihat Sustrini di depan tenda dengan wujud yang lain. Mendengar itu Ana tersentak karena apa yang diceritakan Anto itu sama persis dengan mimpinya semalam, termasuk Sustrini yang sedang bernyanyi. Ana pun menjelaskan itu pada teman-temannya. Mendengar penjelasan dari mereka berdua, teman-temannya hampir tidak percaya, akhirnya Wily meminta pada mereka semua untuk melupakan kejadian ini dan anggap saja Sustrini sudah jalan duluan keatas. Pagi ini Ana merasa sedikit lega karena sudah tidak bersama Sustrini lagi. Kemudian mereka masak-masak dan sarapan sebelum nanti berjalan summit ke puncak. Singkat cerita, sekitar pukul 9 pagi mereka memulai perjalan summit kepuncak dan meninggalkan tenda di pos 3, di perjalanan ini sudah tidak ada kejanggalan apapun. Sambil berjalan sesekali mereka membahas tentang Sustrini, tapi semakin di bahas malah terasa merinding, akhirnya mereka sepakat untuk tidak membahasnya lagi. Setelah cukup lama berjalan sampailah mereka di puncak Buntu gunung Sumbing, di situ mereka merasa sangat senang karena misi pendakian ke gunung dengan ketinggian diatas 3000 mdpl ini sukses. Setelah cukup puas di puncak mereka kembali turun dan sampai pos 3 sekitar pukul 3 sore. Di pos 3 Wily mengajak berhenti sebentar untuk istirahat, pas berhenti itu dia bilang, “Eh, di puncak kok aku nggak liat Sustrini ya” “Iya ya, ah mungkin dia ke puncak Rajawali kali” jawab Rendi. “Iya juga sih”, jawab Wily. Mereka menganggapnya begitu karena di jalur gunung Sumbing via Garung ini terpadapt 2 puncak yaitu puncak Buntu dan puncak Rajawali. Ana meminta pada mereka agar tidak membahas soal Sustrini lagi karena jujur saja dia masih takut meskipun Cuma dengar namanya. Setelah cukup lama istirahat mereka segera mengemasi tenda dan bergegas turun kurang lebih pukul setengah 5 sore. Di perjalanan turun, tepatnya setelah melewati area Seduplak Roto, tiba-tiba Ana mencium bau yang sangat anyir seperti bau darah, dia pun bertanya pada yang lain, apakah mereka juga mencium bau anyir? Dan ternyata mereka semua juga sama. Di sepanjang perjalanan bau anyir itu masih terus tercium dan Ana mulai merasa takut, disisi lain waktu juga sudah mulai petang. Sambil jalan Ana terus membaca doa dan seringkali matanya meng-eksplore keadaan sekitar. Di tempat mereka bertemu dengan Sustrini ketika naik kemarin, tiba-tiba bau anyir itu perlahan hilang hingga akhirnya tidak tercium lagi. Disini Ana merasa sedikit tenang dan terus berjalan hingga sampailah mereka kembali di pos 2 kurang lebih habis maghrib, di situ Wily mengajak mereka untuk istirahat sebentar untuk minum. Pas sedang istirahat itu Wily bilang, “Apapun yang terjadi jangan sampai lari, kita jalannya berdekatan” ucapnya sambil mengamati sekitar. Mendengar Wily bilang seperti itu Ana merinding. Nah, baru saja Wily bilang seperti itu, tiba-tiba tercium bau yang sangat wangi seperti wangi bunga melati, mereka yang mencium bau itu hanya saling pandang dan memberi kode untuk lanjut jalan meninggalkan pos 2. Tidak lama berjalan meninggalkan pos 2, Ana yang berjalan di tengah, sayup-sayup dia ini mendengar seperti ada suara wanita ketawa, dia bilang ke teman-temannya, “Eh, kalian denger ada wanita ketawa nggak?” Spontan teman-temannya berhenti dan memasang telinga, tapi setelah Ana bilang seperti itu tiba-tiba suara ketawa tadi sudah tidak terdengar lagi. “Mana An? Gak ada gini kok?”, tanya Wily. “Udah gak ada, tadi sayup-sayup aku denger”. Jawab Ana. Wily yang waktu itu berjalan di depan mendekati Ana dan bilang, “An, kalau denger atau ngeliat apa-apa yang sekiranya gak logis diemin aja ya jangan diomongin”. Ana mengangguk paham kemudian Wily kembali ke posisinya dan mengajak yang lain untuk lanjut berjalan. Mereka masih berjalan secara berdekatan, dan ketika mereka ini melewati area yang cukup rimbun, entah kenapa di sini Ana merasa sangat merinding, tapi mengingat perkataan Wily tadi dia berusaha untuk diam. Tidak lama kemudian Wily yang ada di depan tiba-tiba memberi arahan pada yang lain untuk berjalan pelan-pelan, sepertinya Wily sedang melihat sesuatu yang tidak logis. Mereka semua hanya menurut. Setelah beberapa langkah berjalan pelan tiba-tiba sayup-sayup Ana mendengar ada suara seperti nyanyian khas jawa, (Ilustrasi nyanyi) Setelah di dengarkan lebih jelas lagi sepertinya suara itu adalah suara nyanyian Sustrini yang ada didalam mimpinya. Mendengar itu dia melihat kearah teman-temannya tapi sepertinya mereka tidak mendengar nyanyian ini karena terlihat biasa saja. Suara nyanyian itu lama-kelamaan terdengar semakin jelas, seperti bersumber dari arah bawah. Tidak lama kemudian tiba-tiba Willy yang berjalan di depan mengucap istighfar dengan sangat keras, “Astaghfirullah haladzim”, dengan keadaan kaget. Melihat itu mereka semua pun kaget dan berhenti, kenapa Wily tiba-tiba berucap seperti itu, Fajar yang berjalan dibelakangnya Wily bertanya, “Kenapa Wil?” “Kalian semua jangan ada yang lari ya, kita jalan pelan-pelan seperti ini dan ingat! Jangan nengok ke arah kanan”. Jawab Wily dengan panik. Keadaan menjadi sangat mencekam, Ana bertanya-tanya kenapa Wily tiba-tiba bilang seperti itu? Mereka semua lanjut jalan lagi dengan pelan sesuai arahan dari Wily. Karena penasaran dengan ucapan Wily, sambil jalan Ana mencuri pandang kearah kanan dan... Terlihat dengan jelas sebuah pemandangan yang sangat menyeramkan. Di sebuah pohon terdapat sosok perempuan yang sedang duduk di dahan dengan posisi menggelantungkan kakinya, dan sosok perempuan itulah ternyata yang sejak tadi terdengar menyanyi. Melihat keberadaan sosok itu Ana benar-benar takut, dia segera mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. Sambil terus berjalan berdekatan dan ketika melewati sosok perempuan itu, terlihat Wily menundukkan badan seperti memberi salam. Setelah cukup jauh berjalan suara nyanyian itu sudah tidak terdengar lagi dan mereka mempercepat langkah agar segera sampai di bawah. Sekitar pukul 8 malam akhirnya mereka sampai di basecamp, disini mereka semua masih tegang dan ketakutan, terutama Ana. Di basecamp itu mereka tidak mau lama-lama dan bergegas mengambil motor untuk segera kembali pulang. Di perjalanan pulang mereka menyempatkan untuk mampir di sebuah warung kopi pinggir jalan untuk membicarakan kejadian barusan. Di warung kopi itu Wily menjelaskan pada mereka semua bahwasanya selama perjalanan turun itu mereka ini diikuti oleh sosok kuntilanak, itu sebabnya dia meminta pada yang lain agar berjalan berdekatan. Ana yang sudah tau akan hal itu menyimpulkan kalau mungkin sosok kuntilanak itu adalah wujud asli dari Sustrini, karena terdengar dari Suara nyanyiannya. Anto pun beranggapan seperti itu dan sebenarnya pas jalan turun tadi dia juga sempat melihat kuntilanak itu sedang duduk di atas pohon. Dan di perjalanan turun tadi mereka semua juga mendengar suara nyanyian itu tapi memilih untuk saling diam. Pendakian ke gunung Sumbing ini merupakan pendakian paling horor bagi mereka dan untungnya sosok kuntilanak itu tidak mengganggu, hanya menggoda. Tapi kejadian ini tidak membuat mereka kapok mendaki gunung lagi, selanjutnya mereka lebih berhati-hati terutama dengan ucapan. Selesai...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN