WARUNG GAIB GUNUNG LAWU

2725 Kata
Liburan semester sudah menanti dan Rio, dia sudah membuat sebuah agenda untuk menyambut liburan ini yaitu mendaki gunung. Rio adalah seorang mahasiswa di salah satu kota yang berada di Jawa Tengah. Setelah liburan tiba dia menghubungi teman sekampungnya yang juga merupakan teman sependakiannya untuk mengajaknya mendaki dan mereka tidak keberatan. Temannya itu adalah Yogi dan Reza. Mereka membahas rencana ini di sebuah tempat tongkrongan, “Enaknya nanjak kemana nih?” “Kamu pengennya kemana?”, ucap Reza. Dan Rio berfikir kemana dia ingin mendaki. Awalnya Reza ingin mengajak Rio mendaki ke gunung Sumbing tapi berhubung Rio sudah pernah kesana jadi dia tidak setuju dengan ajakan Reza. “Gimana kalau ke Lawu, kalian belum pernah kan?” sahut Yogi. Mendengar itu tanpa basa-basi Rio menyetujui saran dari Yogi itu begitu juga dengan Reza. Setelah panjang lebar membahas kemana mereka akan mendaki akhirnya fix mereka sepakat untuk mendaki ke gunung lawu via jalur cemoro sewu minggu depan, karena menurut Yogi jalur itu merupakan jalur yang paling sering dilewati pendaki atau bisa dibilang itu adalah jalur favorit bagi para pendaki. Karena sudah sekian lama Rio tidak mendaki 2 hari sebelum hari pemberangkatan Rio melatih fisiknya agar nantinya otot-ototnya tidak kaget. Dia juga sempat browsing tentang gunung Lawu di internet karena itu sudah menjadi kebiasaannya jika akan pergi ke suatu tempat pasti dia akan mencari tau tentang tempat itu sebelumnya. Singkat cerita tibalah hari pemberangkatan. Karena sebelumnya mereka sudah janjian, pagi itu Yogi dan Reza datang kerumah Rio dan akan berangkat dari rumah Rio dengan menggunakan mobilnya. Sebelum berangkat tidak lupa mereka meminta ijin kepada orang tuanya Rio dan minta doanya agar diberi kelancaran selama pendakiannya. Mereka berangkat dari rumah Rio jam 11 siang, di sepanjang perjalanan Yogi dan Reza terlihat sangat senang karena mungkin baru kali ini mereka naik gunung dengan menggunakan mobil pribadi. Singkat cerita sampailah mereka di Cemoro Sewu pada jam 2 siang, karena suasana cemoro sewu waktu itu lumayan sepi jadi sesampai disitu mereka tidak langsung mengurus simaksi tapi makan kemudian dilanjut ngopi dulu di warung dekat bascamp. Setelah beberapa jam kemudian barulah mereka mendaftar dan setelah selesai mendaftar sore itu juga mereka memulai pendakiannya dan tidak lupa berdoa sebelum berangkat. Mereka berjalan sangat santai sambil mengobrol hingga tidak terasa sampailah mereka di pos 1, di pos 1 itu mereka bertemu dengan 1 rombongan yang juga akan naik dan Rio dia juga melihat 1 orang kakek-kakek yang sedang duduk lumayan jauh dari pos 1 itu sambil membawa beberapa sayuran yang dipikulnya. Melihat kakek itu Rio mengabaikannya karena dia mengira mungkin kakek itu juga sedang mendaki, mereka menyapa rombongan yang ada di pos 1 itu dan istirahat. Beberapa menit kemudian Rio menoleh kearah kakek yang sedang duduk tadi tapi kakek itu sudah tidak ada, Rio berfikir, “Mungkin kakek itu sudah pergi atau udah jalan keatas”. Setelah beberapa menit istirahat mereka lanjut berjalan lagi dan rombongan yang dijumpainya itu masih tetap di pos 1. Hari sudah mulai gelap, tepat masuk waktu maghrib mereka sampai di pos 2, sesampai disitu mereka menyempatkan diri untuk sholat maghrib dan kondisi di pos 2 itu sangat sepi yang ada hanya rombongan mereka doang. Mereka sholat dipimpin oleh Reza, karena diantara mereka Reza lah yang lebih tua. Nah ketika sholat itu tepatnya ketika salam, pas Rio salam mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dia melihat sosok kakek tadi yang dilihatnya sedang berjalan di jalur pendakian sambil memikul sayuran dan setelah Rio menoleh salam kekiri dia langsung melihat kearah jalur yang terdapat kakek tadi sudah tidak ada. Entah berjalannya terlalu cepat atau bagaimana tapi seingat Rio pas noleh ke kanan tadi kakek itu jalannya tidak terlalu cepat bahkan sangat pelan. Karena merasa ada yang janggal Rio bilang ke teman-temannya, “Eh kalian tadi lihat ada orang gak disitu?” ucap Rio sambil menunjuk kaearah jalur yang tadi terdapak kakek. Lalu Reza menjawab, “Orang sholat mana tau Yo” Lalu Yogi menyahut, “Abaikan aja Yo, bisa jadi yang kamu lihat tadi benar soalnya menurut teman-temanku gunung lawu itu syakral”. Reza menyahutnya, “Bener tuh yang penting tidak mengganggu biarin aja yok lanjut jalan lagi biar gak terlalu malam”. Rio pun mengabaikannya dan setelah sholat itu mereka melanjutkan perjalanannya. Singkat cerita sampailah mereka di Hargo dalem sekitar jam 1 dini hari, sesampai di situ mereka langsung membongkar tasnya masing-masing dan ngecamp. Setelah tenda sudah didirikan mereka memasak air untuk membuat kopi. Karena menurut artikel yang dibacanya di internet bahewa di gunung lawu banyak penjual makanan jadi malam itu mereka tidak membawa banyak perbekalan. Nah ketika sedang membuat kopi Rio pamit sama teman-temannya untuk pergi ke warung membeli makanan, “Aku ke warung dulu ya mau beli makanan” “Nitip juga ya buat kita berdua” “Siiiip”. Nah mulai dari sinilah kejadiannya dimulai. Ketika Rio sedang berjalan ke warung yang jaraknya sekitar 100 meter dari tendanya itu dia bertemu dengan seorang kakek yang tiba-tiba saja berdiri di tepi jalur pendakian. Melihat itu Rio menyapanya, “Permisi kek”. Lalu kakek itu bertanya pada Rio, “Mau kemana nak?” “Mau beli makan ke warung kek” Setelah diperhatikan ternyata kakek itu adalah kakek yang dilihat Rio disepanjang perjalanan tadi. Rio berfikir, “Ternyata orang yang kulihat itu beneran orang, buktinya dia bisa berbicara seperti manusia normal” Lalu kakek itu menawari Rio sesuatu, “Ke tempat kakek aja nak ada banyak makanan disana” “Tempat kakek yang sebelah mana?” “Ayo bareng kakek kesana” Rio menerima tawaran kakek itu dan berjalan mengikuti kakek itu tapi anehnya kakek itu tidak berjalan kearah warung melainkan berjalan kedalam hutan. Merasa ada yang aneh dengan kakek ini Rio berhenti dari jalannya dan berfikir, “Kenapa orang ini mengajaku kedalam hutan?” Lalu kakek itu menoleh kearah Rio dan berucap, “Kenapa nak? Itu tempat kakek sudah terlihat”, ucapnya sambil menunjuk kearah sebuah bangunan yang terbuat dari kayu. Melihat bangunan itu Rio tidak merasa aneh lagi, dia mengira bangunan itu adalah warung dan kakek ini adalah pemiliknya. Rio kembali berjalan mengikuti kakek itu hingga sampai di bangunan kayu yang ditujunya, sesampai disitu kakek itu mempersilahkan Rio masuk dan ternyata benar ini adalah warung yang terbuat dari kayu dan beratap jerami. Dan disitu kakek tidak sendirian dia bersama istrinya yang juga sudah berumur. Sesampai didalam kakek itu bertanya pada Rio, “Mau makan apa nak?” Karena menganggapnya itu adalah warung Rio menjawab, “Adanya maknan apa kek?” “Ada banyak tinggal kamu mau makan apa” “Nasi pecel satu deh kek”. Lalu kakek itu bilang sama istrinya untuk membuatkan Rio nasi pecel. Sambil menunggu nasi pecel jadi Rio dan kakek mengobrol, “Kamu kesini sama siapa aja nak?” “Sama 2 orang temen kek, mereka sedang membuat kopi di tenda” “Yaudah nanti kakek bungkusin nasi buat temanmu juga” Dalam hati Rio berkata, “Ternyata kakek ini orangnya baik dan ramah” Tidak lama kemudian nenek mengantarkan nasi pecel yang sudah jadi untuk Rio lalu kakek itu juga meminta nenek untuk membuatkan kopi untuk mereka berdua. Setelah makanan sudah habis mereka Rio lanjut minum kopi buatan nenek dan tidak lama kemudian Rio merasa ngantuk, mungkin karena efek kekenyangan. Karena merasa dirinya ngantuk Rio pamit sama kakek untuk kembali ke teman-temannya tapi kakek itu meminta Rio untuk menunggu sebentar karena dia akan membungkuskan nasi untuk teman-temannya Rio. Nah ketika sedang menunggu nasi yang sedang dibungkus tidak terasa Rio tertidur dan bangun-bangun ternyata hari sudah terang. Ketika bangun Rio melihat kakek sedang sibuk menjemur kayu didepan warung. Rio pun keluar dan bilang sama kakek kalau dia akan kembali ke tendanya, “Kek maaf ya saya ketiduran disini” Sambil menjemur kayu kakek itu menjawab, “Gpp nak, tunggu sebentar biar kakek antar” Karena merasa merepotkan kakek itu Rio menjawab, “Gak usah kek saya sendiri aja” “Gpp sekalian kakek juga mau ke sendang derajat ambil air” “Sendang derajat adalah sebuah tempat yang terletak di gunung lawu dan disitu juga biasanya digunakan para pendaki untuk mengambil ari minum”. Akhirnya Rio menerima tawaran kakek dan setelah menjemur kayu kakek itu mengajak Rio untuk berjalan. Nah ketika sedang berjalan itu entah kenapa Rio merasa kalau perjalanan ini terasa lebih lama dari semalam. Sudah 30 menit lamanya berjalan tapi tidak juga sampai. Merasa ada yang aneh Rio bertanya pada kakek, “Kek kok lama banget ya belum sampai?” Dengan tenang kakek itu menjawab, “Tenang, ini memang jalannya beda dari semalam kita keliling hargo dalem dulu” Rio hanya menurut sambil melihat-lihat pemandangan sekitar dia berjalan mengikuti kakek. Tidak lama ketika sedang berjalan Rio melihat ada banyak orang yang sedang beraktifitas jual beli layaknya sebuah pasar. Melihat itu Rio tersentak karena menurut artikel yang sebelumnya dibaca bahwa di gunung lawu terdapat sebuah pasar gaib yang dinakaman pasar dieng. Dalam hati Rio bertanya-tanya, “Apa ini yang dinamakan pasar dieng? Kalau memang benar berarti aku sedang berada di alam gaib dong?” Kakek itu mengajak Rio berjalan menuju ke pasar itu dengan alasan dia mau beli sayuran untuk warungnya, lalu Rio bertanya, “Kek itu beneran pasar ya?” “Benar, kakek biasa beli bahan makanan disana” Rio pun berjalan dibelakang kakek menuju ke pasar itu, sesampanya di pasar Rio merasa ada yang aneh karena semua orang yang ada dipasar itu matanya tertuju kearah Rio yang sedang berjalan. Merasa ada yang aneh dengan orang-orang yang ada disitu Rio bertanya pada kakek, “Kek orang-orang kok pada ngeliatin saya ya?” “Itu karena kamu orang baru dan mereka belum kenal” Rio pun menganggapnya begitu, lalu kakek mampir di salah satu penjual untuk membeli sayuran, setelah dibeli kakek itu membawa sayurannya sambil dipikul, terlihat persis ketika awal Rio melihat kakek ini sedang memikul sayuran. Setelah membeli sayuran mereka berjalan meninggalkan pasar itu dan Rio, lalu Rio bertanya pada kakek, “Kakek melakukan kegiatan ini setiap hari ya?” “Iya beginilah kegiatan saya sehari-hari untuk menghidupi keluarga” “Memangnya anak cucu kakek kemana?” “Mereka sudah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri”. Rio salut dengan perjuangan kakek ini karena diumurnya yang sudah begitu tua dia masih berjuang demi menghidupi keluarganya dan seketika itu juga tidak tau kenapa Rio lupa dengan kedua teman yang berasamanya yaitu Reza dan Yogi. Setelah beberapa menit berjalan kakek mengajak Rio untuk istirahat di sebuah pohon yang udaranya sangat sejuk, disitu kakek megeluarkan tembakau dan meraciknya menjadi sebatang rokok kemudian menghisapnya. Setelah tembakau yang dihisapnya habis kakek kembali meraih sayurannya dan mengajak Rio berjalan menuju ke sendang derajat untuk mengambil air. Pelan-palan Rio berjalan mengimbangi langkah kaki kakek yang terlihat sangat kelelahan, karena tidak tega melihatnya Rio menawarkan dirinya untuk menggantikan kakek membawa sayur yang dipikulnya tapi kakek menolaknya dengan alasan dia masih kuat membawanya sendiri. Lanjut berjalan menuju ke sendang derajat, ditengah perjalanannya itu mereka dihadang oleh seorang yang gagah perkasa mengenakan baju khas kerajaan. Melihat itu kakek terlihat sedikit gugup, dia menurunkan sayurannya dan bilang pada Rio, “Kamu tunggu disini dulu ya jagain sayran kakek” “Iya kek, memangnya itu siapa kek?” Tapi kakek tidak menjawab dan buru-buru menemui orang yang gagah perkasa itu. Rio melihat kakek sedang berdialog dengan orang itu tanpa Rio tau apa yang sedang dibicarakannya, tidak lama kemudian kakek kembali dan orang yang gagah perkasa itu pun pergi. Setelah kembali Rio bertanya pada kakek, “Itu tadi siapa kek?” “Dia adalah sang raja, ayok kita lanjut jalan lagi” Mendengar itu Rio berfikir, “Raja, sebenarnya ini tempat apa dan kenapa bisa ada raja disini?” Hari sudah mulai sore dan sampailah mereka di sendang derajat, sesampai disitu kakek langsung mengambil air dengan wadah timba yang ada disitu. Melihat sendang itu airnya sangat jernih Rio membasuh mukanya dan meminum air dari sumber itu, setelah selesai membasuh muka dari kejauhan Rio melihat 2 temannya yaitu Reza dan Yodi sedang berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang kebingungan. Melihat keberadaan 2 temannya itu Rio sadar kalau dia ke gunung lawu ini bersama 2 temannya itu. Rio pun berteriak memanggil temannya itu tapi mereka tidak mendengar teriakan Rio. Karena tidak mendengarnya Rio menghampiri kakek dan bilang, “Kek saya kembali ke teman-teman saya ya maaf sudah merepotkan kakek” “Memangnya kamu tau dimana teman-teman kamu?” “Mereka ada disana” ucap Rio sambil menunjuk kearah dua temannya tadi tapi seketika itu 2 temannya tadi sudah tidak terlihat. Dalam hati Rio berkata, “Loh kemana Reza dan Yogi barusan?” Lalu kakek menjawab, “Jangan khawatir, ayo kakek antar ke teman-temanmu” “Gpp kek saya sendiri aja biar gak ngrepotin kakek” “Sudah gpp, kakek juga ingin kenal dengan teman-temanmu”. Terpaksa Rio menerima tawaran kakek itu kemudian kakek itu lekas mengambil sayuran dan memikulnya kemudian meminta Rio berjalan mengikutinya. Ketika sedang berjalan kembali ke teman-temannya Rio merasa ada yang aneh, karena jalan yang dilaluinya ini lain dari jalan menuju ke tendanya, lalu Rio berucap, “Kek kok jalannya kesini, tenda saya ada disana” ucap Rio sambil menujuk kearah tenda tempat campnya semalam. Lalu kakek menjawab, “Kamu sudah ditinggal, ikutlah dengan kakek agar kamu bisa bertemu dengan teman-temanmu” “Memangnya mereka kemana kek?” Belum sampai kakek menjawab Rio melihat kedua temannya itu sedang berjalan terburu-buru sambil menggendong ranselnya dan ranselnya Rio. Rio pun segera berjalan kearah teman-temannya, setelah sampai mereka terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Rio. “Yo, kamu kemana aja? Kita nyariin kamu keliling hargo dalem tapi gak ketemu lo”tanya Reza dengan gugup. Lalu Rio menjawab, “Aku seharian di Hargo dalem sama kakek-kakek” “Kakek-kakek? Kakek-kakek siapa Yo?” “Itu....” jawab Rio sambil menunjuk kearah kakek yang mengantarnya tadi. “Mana ada kakek-kakek Yo?” “Itu dia berdiri disebelah pohon”. Mendengar penjelasan dari Rio Yogi menyahutnya, “Untung kamu masih bisa balik Yo, ya sudah yang penting sekarang kamu sudah disini ayo kita turun aja” “Sebentar kita pamit sama kakek dulu” Reza dan Yogi heran dengan semua perkataan Rio karena dia tidak melihat ada kakek di tempat yang ditunjuk Rio itu. Lalu Rio mengajak kedua temannya berjalan ke arah kakek yang sedang berdiri itu untuk pamit. “Kek, saya pulang dulu ya terima kasih sudah mengantarkan saya kembali ke teman-teman saya” Kakek itu hanya mengangguk dan tersenyum. Kedua temannya terlihat heran dengan tingkah lakunya Rio, setelah pamit itu mereka bergegas turun hingga sampai di bascamp dan langsung cabut pulang.  Di perjalanan Reza dan Yogi menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Rio. Ternyata, sejak semalam Rio pamit dengan kedua temannya untuk pergi ke warung itu Rio tidak kembali ke tenda. Setelah sekian lama menunggu Rio kedua temannya ini tertidur hingga pagi hari. Karena pagi itu Rio belum juga kembali ke tenda akhirnya Reza dan Yogi mencari Rio keliling Hargo dalem tapi mereka tidak menemukan Rio. Karena khawatir Reza dan Yogi bergegas turun untuk melapor bahwa mereka kehilangan Rio tapi sebelum sampai dibawah tiba-tiba Rio muncul dari arah hutan. Dan tau nggak? Ternyata, dalam padangan teman2nya kakek yang dipamitin Rio itu adalah seekor burung jalak yang hinggap di ranting semak. Mendengar penjelasan dari teman2nya Rio benar-benar terheran dan yang membuat Rio semakin heran lagi adalah soal waktu. Waktu itu Rio bersama kakek itu seharian penuh dan ketika Rio berada di Sendang derajat itu adalah sore hari tapi setelah bertemu dengan teman2nya ternyata itu masih pagi. Singkat cerita, sampailah mereka di rumah. Selama dirumah itu Rio terus terbayang-bayang soal kejadian yang dialaminya di gunung lawu waktu itu bahkan sosok kakek itu sering banget muncul didalam mimpi Rio, seakan kakek itu menginginkan Rio agar kembali ke gunung lawu lagi. Keadaan ini benar-benar membuat Rio tidak nyaman menajalani hari-harinya hingga akhirnya Rio datang ke seseorang yang tau tentang hal-hal semacam ini. Ternyata benar, menurut seseorang yang didatanginya waktu itu Rio telah dituntun kakek itu masuk ke alam gaib dan kakek itu menginginkan Rio agar datang kembali ke gunung lawu. Sosok kakek itu tidak ada niat mencelakai Rio, dia menganggap Rio sebagai cucunya sendiri sehingga dia menginginkan Rio untuk datang lagi kesana. Lalu orang itu memberi Rio sebuah amalan agar sosok kakek itu tidak lagi mengganggu Rio. Setelah sekitar 7 hari amalan itu dijalankannya Rio sudah tidak lagi dibayang-bayangi sosok kakek dari gunung lawu itu lagi hingga sa’at ini dan Rio, dia tidak berani mendaki ke gunung lawu lagi hingga sa’at ini. Selesai...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN