DARI GN. KELUD HINGGA KE LAUT KIDUL

3254 Kata
Awal cerita, waktu itu tiba-tiba Yayan di hubungi temannya melalui telepon yang sebut saja temannya itu adalah Bela, dia menghubungi Yayan untuk keperluan meminjam peralatan gunung. Sebelum meminjamkan Yayan bertanya pada Bela, mau mendaki kemana dan sama siapa? Dia bilang akan mendaki bersama Deni pacarnya, kemudian Bela menawari Yayan, “Ayo mas sekalian ikut aja, ada Wendi dan Isma juga kok”. Mendengar tawaran itu Yayan berfikir, “Wah boleh juga nih, aku juga belum pernah mendaki ke gunung Kelud”. Yayan tanya ke Bela kapan rencana pendakiannya, dan Bela bilang minggu depan tepatnya hari selasa. Yayan bilang pada Bela dia akan ikut tapi tidak bisa janji karena disisi lain Yayan ini punya usaha toko yang pastinya akan susah kalau ditinggal, tapi Yayan mengusahakan untuk ikut, kalau gak jadi ikut biar peralatan mendakinya aja yang ikut. Yayan dan Bela tinggal di satu daerah, sedangkan Deni pacarnya Bela tinggal di daerah Kediri, cukup dekat dengan gunung yang akan didaki yaitu gunung Kelud, sedangkan Wendi dan Isma tinggal di daerah Pasuruan, sebelumnya mereka diperkenalkan oleh alam ketika mendaki ke gunung Arjuno beberapa minggu yang lalu. Jadi sudah sama-sama saling kenal. Singkat cerita, tibalah hari senin. Malam itu Bela menghubungi Yayan lagi untuk menanyakan Yayan jadi ikut apa tidak dan Yayan menyempatkan diri untuk ikut, dia meminta Bela untuk menghubungi Wendi dan Isma untuk berkumpul di rumahnya sebelum berangkat besok. Keesokan harinya Wendi, isma dan Bela berbondong-bondong datang ke rumahnya Yayan tepat jam 8 pagi, melihat kedatangan Wendi dan Isma, Yayan menyapa mereka dengan ramah, karena disisi lain mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Berhubung Yayan ikut mendaki, Bela berencana untuk berangkat dari rumah bareng Yayan aja, sementara Deni menunggunya di rumahnya Kediri. Sore itu mereka ngobrol-ngobrol di rumahnya Yayan sambil membahas pendakian mereka ke gunung Arjuno beberapa bulan yang lalu, ternyata sepulang dari gunung Arjuno itu Wendi dan Isma jadian. “Wah bakal jadi obat nyamuk nih aku”, ucap Yayan. “Tenang aja Yan, siapa tau ntar di Kelud dapat kenalan juga”, jawab Wendi. Setelah cukup lama ngobrol Yayan segera mandi dan mempersiapkan peralatan mendakinya, tepat pukul 9 mereka pun berangkat dari rumah Yayan yang berada di Mojokerto menuju kerumah Deni yang berada di daerah Kediri. Setelah menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan sampailah mereka di rumah Deni, ternyata rumahnya Deni ini tidak jauh dari gunung Kelud. Disitu mereka di sambut oleh Deni dan kedua orang tuanya dengan ramah kemudian mereka istirahat dan berencana berangkat ke nanti habis dhuhur. Sambil menunggu habis dhuhur mereka ngobrol-ngobrol membahas kehidupannya masing-masing setelah lama tidak bertemu. Jadi mereka ini bisa bertemu kalau pas lagi ada acara mendaki doang, di luar itu mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Singkat cerita, waktu sudah menujukan jam 9, mereka pun berpamitan dengan ibunya Deni dan ketika berpamitan itu ibunya Deni berpesan agar mereka hati-hati mengingat hari ini adalah hari selasa Wage. Mendengar pesan dari ibunya itu Deni bertanya, emangnya kenapa kalau selasa Wage? Deni meng-iyakan pesan ibunya dan bergegas brangkat menuju ke basecamp pendakian gunung Kelud via Tulungrejo Blitar. Sebenarnya jalur pendakian gunung Kelud ini ada yang via Kediri tapi menurut Deni jalurnya itu sangat rimbun dan lebih jarang dilalui pendaki, maka dari itu Deni mengajak mereka untuk mendakinya via Tulungrejo Blitar saja. Setelah menempuh kurang lebih 45 menit perjalanan sampailah mereka di tempat tujuan, sesampai disitu seperti biasa mereka meminta ijin mendaki ke pos setelah itu mereka mempersiapkan diri masing-masing dan perjalanan di mulai sekitar jam setengah 2 siang. Dari basecamp mereka menaiki ojek hingga sampai ke gerbang pendakian, karena kalau jalan kaki cukup jauh, sesampainya di gerbang pendakian mereka berdiri melingkar dan Deni memimpin doa, setelah itu pendakian dimulai. Nah di awal-awal perjalanan tiba-tiba Yayan ingat dengan pesan ibunya Deni tadi, sambil jalan dia tanya ke Deni, “Den, yang di maksud ibumu tadi gmn ya? Emang kenapa sama hari selasa wage?” Sambil jalan Deni bercerita, Wage, Pon, Pahing, ataupun Kliwon merupakan hitungan kalender Jawa. Mungkin kalian sudah sering mendengar tentang malam jumat kliwon yang dianggap angker. Tapi ini beda, bagi ibunya Deni dan penduduk sekitar gunung Kelud selalu waspada dengan pasaran Wage, mungkin karena letusan gunung yang beberapa kali meletus selalu jatuh pada Wage, seperti letusan pada tahun 1955, 1966, 1990, 2007, dan 2014. Nah, dari sini mereka jadi tau satu hal, mereka tidak begitu menganggap serius tapi tidak dengan Yayan, entah kenapa setelah mendengar cerita dari Deni itu tiba-tiba muncul rasa khawatir di dalam diri Yayan yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Yayan berusaha membuang rasa khawatirnya itu, setelah cukup lama berjalan sampailah mereka di pos 1 yang di namakan Srenggono Bule. Disini mereka istirahat sebentar dan terlihat jalur pendakian sangat sepi, tidak ada pendaki lain satupun yang mereka jumpai. Setelah cukup istirahat perjalanan kembali dilanjutkan. Jalur menuju ke pos 2 ini vegetasinya sangat rapat dan cukup menanjak, kontur tanahnya cujup padat dan banyak terdapat akar serta pohon tumbang. Setelah menempuh sekitar 30 menit perjalanan sampailah mereka di pos 2 yang dinamakan Rewondho Geni, karena lelah disini mereka istirahat cukup lama sambil ngemil logistik. Belum lama istirahat di pos 2 tiba-tiba kabut datang cukup tebal hingga akhirnya rintik-rintik hujan turun dan memaksa mereka untuk berhenti lebih lama lagi di pos 2, tapi syukurlah setelah kurang lebih 30 menit kemudian hujan sudah reda dan dan langit kembali cerah, mereka pun lekas melanjutkan perjalanan. Di perjalanan menuju ke pos 3 Yayan semakin merasa cemas, di dalam pikirannya terus ingat dengan pesan sekaligus cerita Deni tadi. Di pendakian-pendakian sebelumnya Yayan tidak pernah merasakan cemas seperti inim jadi baru kali ini, dia mempunyai firasat bahwa akan terjadi sesuatu pada dirinya. Karena tidak ingin terus-terusan merasa cemas dia berusaha membuang rasa cemasnya itu dengan memulai bahan bercandaan ke teman-temannya, “Eh kalian nanti kalo udah sampe diatas jangan jadiin aku obat nyamuk ya” “Wah iya nih, kasihan si Yayan gak ada gandengannya”, jawab Deni. “Mangkanya”. Ucap Yayan. “Tenang mas Yan, kita doain semoga cepet daper pacar ya”, sahut Bela. Lama kelamaan rasa cemas Yayan sedikit berkurang, mereka berjalan sambil sesekali berncanda. Di pertengahan jalan menuju ke pos 3 mereka menjumpai 1 orang laki-laki yang cukup tua, kalau dilihat dari penampilannya yang memakai tudung tani dan memikul keranjang rumput sepertinya dia ini sedang berkebun, atau mungkin mencari rumput. Mereka berjalan melewati orang itu yang sedang duduk tenang sambil mengepulkan asap rokok, “Permisi pak”, ucap Deni. Orang itu tidak menjawab satu katapun, hanya mengangguk. Yayan yang waktu itu berjalan di paling belakang terus melihat orang itu dan ketika dia sudah tepat di depannya tiba-tiba orang itu menatap kearah Yayan sambil tersenyum sinis. Melihat itu Yayan kaget, dia mengucap permisi pada orang itu tapi tetap saja dia tidak menjawab dan masih tersenyum sinis. Merasa takut Yayan mempercepat langkah kakinya dan mendekati teman-temannya, setelah cukup jauh meninggalkan orang tadi, dia melihat kearah belakang dan... orang itu masih terus melihat kearah Yayan tapi kali ini tidak dengan senyum sinis. Merasa ada yang aneh dengan orang itu Yayan bilang ke yang lain, “Eh, orang tadi kok aneh gitu ya?” “Aneh kenapa Yan?”, tanya Deni. “Serem aja tiba-tiba aja ada disitu”, jawab Yayan. “Udah biasa Yan, disini emang banyak orang cari rumput”, jelas Deni. Karena tidak ingin berfikiran negatif Yayan menganggap seperti itu, mungkin dia memang warga sekitar yang sedang mencari rumput. Setelah cukup lama berjalan sampailah mereka di pos 3 yang dinamakan Ronggo Pethak. Mengingat waktu sudah menunjukan jam 4 sore mereka istirahat dan berunding, enaknya camp dimana, disini atau di area Lembu Suro. Karena sudah sangat lelah mereka memutuskan untuk camp di pos 3 saja dan lanjut perjalanan besok. 2 tenda mereka dirikan dengan posisi berjajar setelah itu mereka lanjut masak-masak untuk makan. Sore itu keadaan di pos 3 sangat sepi, hanya ada rombongan mereka saja yang camp, setelah perut sudah dirasa kenyang mereka lanjut ngopi-ngopi dan menikmati pemandangan sunset di pos 3. Tidak terasa hari sudah mulai gelap, Yayan, Deni dan Wendi pergi mengumpulkan kayu bakar untuk mengusir suhu dingin, setelah kayu sudah terkumpul mereka membakarnya di depan tenda dan mereka lanjut duduk-duduk sambil menikmati kopi dan dinginnya malam. Tidak terasa malam semakin larut, karena udara semakin dingin mereka memutuskan untuk masuk tenda dan tidur. Bela dan Isma tidur di satu tenda, sedangkan Yayan, Deni dan Wendi tidur di tenda yang berbeda. Nah, ketika sedang nyenyak tidur, kejadian aneh mulai dialami oleh Yayan. Tiba-tiba saja dia ini merasa panas di kedua pundaknya hingga membuatnya bangun. Dalam posisi duduk dia mengamati keadaan sekitar yang disitu terdapat Deni dan Wendi yang sedang nyenyak tidur dan... di sebelah Deni juga terdapat Yayan yang juga sedang tidur. Melihat keadaan ini dia bingung, “Loh, ini aku sedang tidur? Terus ini aku juga sedang duduk?” Tidak ada rasa ngantuk yang dirasakan Yayan, karena bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya dia berniat untuk keluar tenda. Resleting tenda dia pegang dan akan membuka pintu tendanya, tapi resleting itu tidak bisa dia pegang, tangannya tembus keluar tenda. Keadaan ini membuat Yayan semakin bingung, beberapa kali dia berusaha memegang resleting itu tapi tetap saja sama. Pelan-pelan dia menerobos keluar tenda dan ternyata tubuhnya ini bisa menembus pintu tenda. Yayan semakin dibuat bingung, ada apa dengan dirinya? “Apa ini mimpi?”, ucapnya dalam hati. Beberapa kali dia mencubit tangannya bahkan sampai digigit tapi tidak ada rasa sakit sama sekali, suasana di luar tenda remang-remang seperti suasana menjelang maghrib dan suhu dingin pun tidak dia rasakan sama sekali. Yayan melihat ke berbagai arah, tempat ini sama seperti tadi sore, hanya ada 2 tenda miliknya, lalu terlihat ada seorang laki-laki tua yang sedang duduk sambil menghisap rokok, jaraknya sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri. Orang itu terlihat sedang melambaikan tangannya kearah Yayan seperti sedang memanggilnya. Tidak ada rasa takut sama sekali, dengan sendirinya kakinya ini melangkah kearah orang tua itu. Dan ternyata laki-laki itu adalah orang tua yang di temui Yayan ketika dalam perjalanan tadi, lengkap dengan tudung tani dan keranjang rumput di sebelahnya. Orang tua itu berkata pada Yayan dengan bahasa jawa, “Kowe golek opo nang kene?” (apa yang kamu cari disini?) “Kulo ndaki kaleh rencang-rencang mbah”, jawab Yayan. (Saya sedang mendaki sama teman-teman mbah) “Sukmo lan rogomu pethal le”, ucap si mbah. (Sukma dan ragamu pisah nak) “Pethal dos pundi mbah?”, tanya Yayan bingung. “Sing ngadek nang kene iki liyo rogomu le, nanging sukmomu”, jelas si mbah. (Yang berdiri disini sekarang bukan ragamu nak, melainkan sukma mu) Mendengar itu Yayan jadi semakin bingung, dia bertanya pada si mbah bagaimana caranya kembali ke raganya. Kata si mbah Yayan bisa kembali ke raganya kalau hari sudah pagi, sambil menunggu pagi tiba si mbah mengajak Yayan untuk keliling tempat ini. “Kowe ojo kuwatir, mergo isuk isih suwe kowe ayo melu aku mlaku-mlaku” (Kamu tidak usah khawatir, sambil menunggu pagi kamu ikut sama aku jalan-jalan) Si mbah kemudian berdiri dari duduknya dan mengambil sesuatu dari keranjang rumput di sampingnya, setelah di ambil ternyata itu adalah sebuah sajadah dan sajadah itu di letakan di pundak Yayan sambil berucap, “Sajadah iki ojo dicopot soko pundakmu, saiki tutno lakuku”. (Sajadah ini jangan di pelas dari pudakmu, sekarang ikuti jalanku) Tanpa ada penolakan Yayan menuruti kata-kata si mbah dan berjalan mengikutinya. Ketika sedang berjalan itu terasa ada yang aneh, Yayan seperti tidak menginjak tanah dan langkah kakinya terasa sangat ringan. Tidak lama berjalan mereka sampai di sebuah tempat di antara perbukitan yang menjulang tinggi dan dibawah tempatnya berdiri terlihat ada sebuah danau yang airnya berwarna hijau kecokelatan. Terlihat ada 2 buah cahaya putih yang bersinar cukup terang dari danau tersebut, lalu si mbah mengajak Yayan untuk menuruni bukit menuju ke danau tersebut. Cahaya putih itu terus bersinar dan sesekali meredup, sesampai di pinggir danau ternyata 2 buah cahaya putih tadi adalah 2 sosok wanita bergaun putih dan berparas sangat cantik, mereka sedang asyik berenang di danau tersebut. Melihat kedatangan si mbah dan Yayan 2 wanita itu menepi kemudian si mbah bilang pada mereka, “Nduk, kowe ning kene sik yo tak tinggal muleh sediluk” (Nak, kalian disini dulu ya kau tinggal pulang sebentar) 2 wanita itu hanya mengangguk dan kembali berenang ke tengah danau, setelah itu si mbah mengajak Yayan untuk kembali keatas bukit. Langkah Yayan masih sama seperti tadi, tidak menyentuh tanah dan tidak merasakan capek sama sekali, sambil jalan itu Yayan memberanikan diri untuk bertanya pada si mbah, “Mbah, mereka tadi siapa?” “Kae widodari sing manggon ning kene” (Mereka adalah bidadari yang menunggu sini) Yayan benar-benar tidak tau apa yang di maksud si mbah, dia memilih untuk diam dan tidak bertanya lebih lanjut lagi. Sesampainya kembali diatas bukit si mbah mengajak Yayan untuk pergi ke sebuah tempat dan Yayan hanya menurut. Yayan berjalan kearah selatan mengikuti si mbah dan... ada yang lebih tidak masuk akal disini, setelah beberapa meter berjalan tiba-tiba terlihat ada sebuah jalan yang sangat panjang, lurus dan tidak begitu lebar, kiri kanannya tiba-tiba di selimuti kabut putih yang sangat tebal sampai tidak terlihat apapun kecuali jalan yang mereka lewati ini. Yayan berjalan mengikuti si mbah melewati jalan yang lurus dan panjang itu, tidak berselang lama di depan tampak jelas lautan lepas hingga posisi mereka sekarang berada tepat di pinggir laut. Melihat ombak laut yang sangat besar Yayan merasa takut, dia bertanya pada si mbah, “Mbah, kita dimana?” “Iki jenenge segoro kidul le”, jawab si mbah. (Ini namanya laut selatan nak) “Kenapa kita kesini?”, tanya Yayan. “Ditimbali nyai ratu”, jawab si mbah. (Di panggil nyai ratu) “Nyai ratu? Nyai ratu siapa?”, tanya Yayan dalam hati. Tidak berselang lama terdengar suara gemuruh dari arah laut, si mbah meminta Yayan untuk menunggunya disini kemudian dia berjalan ke laut dan masuk kedalam air. Yayan hanya diam melihat keajaiban ini, tampak si mbah tenggelam oleh air tapi tidak berselang lama si mbah keluar dari dalam air dan kembali pada Yayan. Ini benar-benar tidak masuk akal, si mbah baru saja keluar dari air ternyata dia tidak tenggelam, basah pun tidak. Lalu si mbah memberi Yayan sebuah benda aneh, bendanya sangat kecil, bersinar dan berwarna merah, “Ini apa mbah?”, tanya Yayan. “Mustika merah delima, ambilah ini bisa digunakan untuk menjaga diri”, jawba si mbah. Karena takut tidak bisa menggunakannya dengan baik Yayan menolak benda itu, disisi lain Yayan juga tidak begitu tertarik dengan benda-benda semacam itu. Karena tidak mau si mbah melemparkan benda itu ke laut kemudian dia berucap, “Sudah waktunya, ayo aku antar kembali ke ragamu”. Yayan mengangguk kemudian dia berjalan mengikuti si mbah. Jalan yang di lewati masih sama seperti tadi, tidak lama berjalan sampailah mereka di tempat awal Yayan pisah dengan raganya, lalu si mbah mengambil sajadah yang ada di pundaknya Yayan kemudian meminta Yayan agar memejaman mata. Pengelihatan menjadi gelap, Yayan tidak bisa melihat apapun lalu perlahan Yayan membuka mata dan... tiba-tiba dia berada di dalam tenda dan suhunya sangat dingin. Dia segera ambil posisi duduk dan segera melihat jam, terlihat waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi. Setelah bangun itu dia merasa haus, setelah minum beberapa teguk air dia termenung memikirkan kejadian barusan, “Ini tadi mimpi atau nyata?”, ucap Yayan dalam hati. Dia mencubit tangannya dan terlihat di lengannya masih ada bekas gigitannya, Deni dan Wendi pun masih tidur pulas dengan posisi sama persis dengan posisi tadi dia melihatnya. Yayan benar-benar tidak habis pikir, ternyata kejadian barusan itu nyata bukan mimpi. Ketika sedang memikirkan kejadian itu tiba-tiba suara alarm dari hpnya Deni berbunyi dan Deni pun bangun, “Udah bangun Yan?”, ucap Deni yang masih ngantuk. “Udah Den, baru aja bangun”, jawab Yayan. Deni membangunkan Wendi kemudian dia keluar tenda untuk membangunkan Bela dan Isma. Sambil menahan suhu dingin Yayan pun keluar dari tenda dan melihat-lihat keadaan sekitar, suasananya sama persis dengan suasana tadi, hanya saja dia tidak melihat keberadaan si mbah di tempat duduknya tadi. Pagi itu langit tampak cerah di sambut pemandangan sunrise pagi, setelah semua sudah bangun Deni merebus air untuk membuat kopi setelah itu dia mengajak yang lain untuk lanjut berjalan ke puncak. Perjalanan ke puncak di mulai sekitar pukul 5 pagi, di perjalanan menuju ke puncak Yayan masih terus kepikiran tentang kejadian itu, tapi kali ini dia berusaha melupakannya dan fokus di jalur yang di lewati. Setelah cukup lama berjalan sampailah mereka di puncak kawah Kelud sekitar setengah 7 pagi. Nah, dari puncak terpampang jelas kawah Kelud yang berwarna hijau kecokelatan dan itu kembali mengingatkan Yayan pada dua sosok wanita bergaun putih yang sedang mandi. “Apa mungkin itu danau yang digunakan mandi sama wanita itu?”. Yayan terus mengamati tempat itu untuk memastikan, dan ketika sedang sibuk mengamati terlihat ada 2 buah titik cahaya putih di tengah-tengah kawah, melihat itu Yayan coba bilang ke teman-temannya, “Eh, kalian lihat ada cahaya gak sih di kawah?” Mereka semua melihat kearah kawah, “Mana Yan? Gak ada apa-apa gitu kok?”, tanya Deni. Karena sepertinya mereka ini tidak melihatnya Yayan pun tidak memperjelas soal itu, dia meminta yang lain untuk mengabaikannya dengan alasan dia cuma salah lihat. Dari sini Yayan berfikir, kalau mungkin cahaya itu adalah 2 wanita yang pernah dia lihat sebelumnya. Dalam hati Yayan mengucapkan salam dan ditujukan pada 2 wanita itu. Setelah cukup puas di puncak mereka kembali turun ke tempat camp dan sebelum turun dalam hati Yayan pamit sama si mbah dan 2 wanita yang pernah dia temui, meskipun sekarang dia tidak melihat keberadaan mereka. Singkat cerita, sampailah mereka kembali di tempat camp dan segera masak makanan untuk sarapan, setelah itu mereka lanjut berkemas dan kembali berjalan turun. Di perjalanan turun tidak ada kendala apapun hingga sampai kembali di bawah tepat habis duhur, tanpa lama-lama lagi mereka bergegas untuk kembali pulang kerumahnya Deni. Di rumahnya Deni dia memberitahu sedikit tentang apa yang sudah dialami itu pada Deni, “Den, percaya gak kalau semalam aku merasa ketemu sama orang tua yang kita jumpai pas perjalanan naik kemarin?” “Ketemu diamana? Pas kapan?”, tanya Deni. “Semalem, aku juga bingung itu mimpi apa nyata, tapi aku sempat lihat kita semua masih tidur”, jelas Yayan. “Wah, bisa jadi itu sukmamu keluar Yan”, jelas Deni. “Itu dia, orang tua itu juga sempat bilang gitu ke aku”, lanjut Yayan. “Terus kamu sama orang itu ngapain aja?”, tanya Deni penasaran. “Aku sempat diajak ketemu sama 2 cewek cantik yang sedang mandi di danau, trus aku juga diajak jalan-jalan ke laut selatan dan di beri sebuah mustika berwarna merah”, jelas Yayan. “Trus mustika itu mana?”, tanya Deni. “Gak aku terima, aku gak tau benda2 kyak gituan”, jawab Yayan. “Harusnya terima aja, itu batu mustika merah delima, mustika itu emang adanya cuma di laut selatan dan kalo dijual mahal banget”, jelas Deni. “Enggak ah, aku gak mau tau soal gituan”, jawab Yayan. “Yaudah lah, mungkin itu bukan rejekimu Yan”. Ucap Deni mengakhiri pembicaraan. Pendakian ke gunung Kelud ini merupakan pendakian paling mistis yang pernah dialami oleh Yayan dan dari sini dia jadi tau banyak hal mengenai gunung Kelud. Setelah cukup istirahat dan bersih-bersih badan di rumah Deni mereka pamit pulang, dan Deni menitipkan Bela pada Yayan. Perjalanan pulang berjalan dengan lancar hingga sampai di rumah dengan selamat, sesampai di rumahnya Yayan, Wendi dan Isma pamit untuk lanjut pulang ke Pasuruan. Selesai...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN