PETAKA MEMBAWA BONEKA

3045 Kata
Willy adalah kakak kandung Vivi, umur mereka hanya selang 4 tahun dan mereka berdua adalah saudara kandung yang saling melengkapi, selalu membela, solidaritas tanpa batas, saling menasehati, sekaligus teman setia yang selalu ada satu sama lain. Yaa meskipun sesekali Willy suka berbuiat jahil kepada Vivi. Orang tua mereka sangatlah sibuk dengan pekerjaannya sehingga jarang ada waktu untuk berkumpul, tapi mereka sudah berkomitmen untuk saling menjaga sampai akhirnya mereka bisa menemukan pasangan dan jalan hidupnya masing-masing. Mereka mempunyai hobi yang sama yaitu travelling, dan setelah melihat kegiatan mendaki gunung saat ini sedang ngetrend merekapun mencoba untuk menemukan hobi baru yaitu di dunia hiking hingga akhirnya hobi barunya ini membawa mereka ke gunung lawu setelah sebelumnya mereka telah mendaki ke beberapa gunung di jawa tengah, seperti gunung prau, gunung andong, gunung merbabu, dll. Karena merasa ingin sekali menginjakan kakinya di puncak perbatasan jawa tengah dan jawa timur Willy pun menuruti permintaan Vivi ini dan mengagendakannya, setelah mempunyai waktu luang mereka pun berangkat dari tempat tinggalnya di Semarang menuju ke bascamp gunung lawu via cetho dengan mengguanakan mobil. Kenapa memilih via cetho? Karena menurut beberapa artikel yang sudah dibaca Willy, jalur cetho memiliki view yang lebih bagus meskipun jalurnya dominan lebih panjang daripada jalur cemoro sewu dan cemoro kandang. Malam itu sekitar pukul 8 malam mereka sampai di bascamp cetho, sesampai disana mereka memutuskan istirahat dan mendirikan tenda di dekat mobilnya untuk menunggu pagi. Singkat cerita pagipun tiba, Willy yang sudah bangun lebih dulu langsung mengurus simaksi dan sengaja membiarkan Vivi tetap tidur, setelah selesai mengurus simaksi barulah Willy membangunkan Vivi dan mengajaknya untuk sarapan. Setelah sarapan mereka pun bersiap-siap untuk memulai pendakian hari ini juga, setelah semua perlengkapan sudah siap tidak lupa mereka berdoa kemudian memulai pendakian. Di dalam pendakian itu Vivi sengaja membawa boneka teddy bear dan lonceng yang digantungkan di belakang ranselnya, boneka itu adalah pemberian dari Willy sebagai hadiah ulang tahunnya Vivi yang ke 18 lalu, boneka itu selalu ikut kemanapun dia mendaki, bisa dibilang itu adalah benda yang paling disukai Vivi. Terus berjalan melewati beberapa candi yang konon peninggalan majapahit, sambil berjalan sesekali Willy berbuat usil kepada Vivi dengan membunyikan lonceng yang berada di belakang ranselnya Vivi sambil bilang, “Awas ada sapi mau lewat”. Sesampai disini masih belum ada yang aneh, mereka berjalan sambil sesekali bercanda agar tidak capek hingga akhirnya sampai di pos 1 sekitar jam 11 siang, sesampai di pos 1 mereka pun berhenti sebentar untuk melepas penat. Setelah 15 menit istirahat mereka pun lanjut berjalan hingga sampai di pos 2 sekitar jam setengah 1 siang. Singkat cerita, sampailah mereka di area sabana luas yang disebut Bulak Peperangan. Sesampainya disitu mereka sangat takjub dengan pemandangan yang disuguhkan, rumput ilalang yang hijau membuat mereka berhenti untuk mengabadikan momen, merekapun menepi ke sebelah kiri jalur pendakain yang disitu terdapat sebuah bukit dan banyak pohon berjajar. Sesampai disitu mereka pun melepaskan ranselnya masing-masing dan duduk santai sambil sesekali mengabadikan momennya. Vivi mengambil boneka yang tergantung di ranselnya untuk diajak berfoto, lalu dia menggantungkan boneka itu di salah satu pohon yang terdapat disitu, setelah boneka itu digantung mereka duduk lagi sambil menikmati cemilan. Nah mulai dari sini satu persatu keanehan mulai mereka alami. 15 menit kemudian ketika mereka sedang asyik duduk sambil memakan cemilan tiba-tiba Willy mendengar ada suara anak kecil tertawa lirih tepat dibelakangnya, sontak Willy pun terdiam dan suara terawa itu masih saja terdengar, disisi lain Vivi juga terdiam dan mendengarkan hal yang sama, lalu Willy bilang pada Vivi, “Vi, denger nggak?” Sambil memegang cemilan Vivi hanya menangguk sambil menatap tajam kearah Willy. Seketika itu bulu kuduk langsung berdiri. Karena merasa ada yang aneh Willy cepat-cepat mengajak Vivi untuk segera meninggalkan tempat itu, mereka kembali menggendong ranselnya masing-masing dan tidak lupa Vivi mengambil boneka yang tadi masih tergantung di pohon untuk di gantungkan kembali di ranselnya kemudian lanjut berjalan. Sambil berjalan Willy merasa deg-degan, dia merasa bahwa di tempat tadi ada makhluk halus yang sedang menggodanya. Willy meminta kepada Vivi agar sedikit mempercepat jalannya tapi jalannya Vivi malah semakin lambat, “Vi, ayok cepet dikit jalannya” “Tasku kok tiba-tiba berat banget ya mas”, ucap Vivi. Vivi merasakan berat di bagian ranselnya, rasanya ransel itu lebih berat 2 kali lipat dari sebelumnya. Jadi sambil berjalan Willy berusaha membopong ransel yang gendong Vivi hingga sampailah mereka di area Gupakan Menjangan ketika hari sudah sore. Sesampainya di Gupakan Menjangan Willy merasa lega karena bisa bertemu dengan beberapa pendaki lain yang sedang ngecamp, dan anehnya ransel yang tadi terasa berat itu sudah tidak terasa berat lagi dan terasa seperti biasa. “Mas, udah lepasin tasnya udah gak berat kok”. Ucap Vivi kepada Willy setelah sampai di Gupakan Menjangan. Willy merasa ini benar-benar aneh, lalu mereka bergegas membongkar ranselnya masing-masing dan mendirikan tendanya untuk ngecamp, setelah tenda sudah berdiri Willy meminta kepada Vivi untuk memasukan semua barang-barangnya kedalam tenda sementara dia sedang sibuk mempersiapkan alat masak untuk masak. Setelah semua barang dimasukan Vivi pun ikut membantu Willy memasak di depan tenda dan tidak lupa menggantungkan boneka beruang kesayangannya di tengah-tengah pintu tenda. Malam itu mereka memasak sambil bercanda, setelah masakan sudah matang mereka pun makan dan dilanjut dengan menikmati minuman hangat di depan tenda, Nah ketika sedang asyik bercanda di depan tenda itu tiba-tiba samar-samar Willy mendengar suara tangisan anak kecil dari belakang tendanya. Suara tangisan itu terdengar hanya sebentar, tapi Willy mengabaikannya dan menganggap itu hanyalah halusinasinya aja. Malam semakin larut, terlihat jam sudah menunjukan pukul 9 malam, terlihat beberapa penghuni tenda lain sudah istirahat di dalam tendanya masing-masing. Willy pun mengajak Vivi untuk masuk tenda dan beristirahat karena besok mereka masih ada perjalanan ke puncak Hargo Dumilah. Ketika akan masuk kedalam tenda, tanpa disengaja, sambil berjalan pandangan Vivi melihat kearah tenda sebelah yang penghuninya sudah tidur, dan disitu dia sempat melihat ada anak kecil berambut panjang yang mengintip kearah tenda mereka, tepatnya di sebelah tenda pendaki lain tersebut. Melihat itu Vivi sedikit tersentak, sesampainya didalam tenda dalam hati dia berkata, “Yang aku lihat tadi apa ya?”. Karena merasa itu hanyalah perasaannya saja Vivi pun mengabaikannya lalu bergegas ke posisi tidurnya, sementara Willy dia masih sibuk membereskan alat masak di sebelah pintu tenda. Setelah selesai membereskan peralatannya Willy pun masuk dan tidur di sebelah Vivi. Malam semakin larut, sekitar jam 12 malam Vivi terbangun dan mencari boneka beruangnya tapi tidak ada, setelah dicari-cari barulah dia ingat kalau bonekanya itu masih tergantung di depan pintu tenda, mengingat itu Vivi pun lekas mengambilnya dan membawa boneka itu tidur bersamanya. Beberapa jam kemudian Willy pun terbangun karena merasa ada yang menggoyang-goyangkan badannya, awalnya Willy mengira itu adalah kerjaan Vivi, tapi setelah bangun dia melihat Vivi masih Dalam posisi tidurnya dan terlihat sangat nyenyak, tanpa berfikir panjang Willy pun kembali melanjutkan tidurnya. Selang beberapa menit kemudian dia mendengar suara yang tadi di dengarnya, yaitu suara anak kecil, tapi kali ini suara anak kecil itu tidak menangis justru sebaliknya, suara anak kecil itu terdengar tertawa cekikikan. Willy mencoba mengabaikan suara itu, tapi suara itu terus terdengar di telinga Willy. Karena penasaran akhirnya Willy memutuskan untuk mengambil headlampnya dan menengok keluar untuk mencari sumber suara tersebut. Setelah membuka tenda dia menoleh ke kanan kiri sambil mengarahkan haedlampnya seirama dengan arah pandangannya, tapi yang terlihat hanyalah tenda pendaki lain dalam keadaan gelap, kemudian dia pun mengarahkan headlampnya kearah sebelah tendanya. Betapa terkejutnya Willy ketika melihat kearah sebelah tendanya, disitu dia melihat ada sosok anak perempuan berambut panjang, memakai baju putih dan wajahnya sangat pucat, dia sedang duduk selonjoran sambil bermain boneka beruang milik Vivi, posisinya pun tepat di samping tenda dekat posisi tidurnya Vivi. Melihat keberadaan sosok anak perempuan itu Willy pun cepat-cepat kembali masuk dan menutup pintu tendanya, lalu dia kembali ke posisi tidurnya. Dengan posisi tiduran Willy terus memikirkan hal yang terjadi barusan, sambil sesekali melirik kearah dinding tenda sebelah Vivi yang barusan terdapat sosok anak perempuan. Dan setelah melihat keberadaan anak perempuan tadi, Willy sudah tidak mendengar suara cekikikan anak kecil yang tadi didengarnya itu lagi. 30 menit kemudian Willy mendengar ada suara langkah kaki pendaki lain yang baru saja sampai di tempat ngecampnya, dia pun keluar dari tendanya untuk menyapa mereka yang baru datang dengan tujuan untuk menghilangkan rasa takutnya. Setelah keluar tenda dia melihat sosok anak perempuan tadi sudah tidak ada di sebelah tendanya, kemudian Willy menyapa rombongan yang berjumlah 4 orang itu dan ikut ngopi bersama mereka. Waktu sudah menunjukan jam 3 pagi, rombongan yang baru datang itu pamit untuk istirahat, terpaksa Willy pun harus kembali ke tendanya, sebelum masuk kedalam tenda sesekali dia melirik kearah sebelah tendanya lagi tapi tidak terdapat apa-apa disitu. Setelah masuk dia ingat kalau tadi sebelum tidur dia melihat Vivi menggantungkan bonekanya di depan pintu tenda, tapi setelah keluar masuk barusan dia tidak melihat bonekanya Vivi tergantung disitu. Willy tidak ingin mengingat-ingat hal itu lagi, kemudian dia berusaha melanjutkan tidurnya hingga akhirnya tertidur. Pagi pun tiba, sekitar jam setengah 6 pagi Willy terbangun, setelah bangun dia melihat Vivi sedang membangunkannya sambil memegang boneka beruangnya. Melihat itu Willy langsung bertanya pada Vivi, “Vi, semalam bonekamu kamu taruh dimana?” “Disini aku pake buat guling, kenapa?”, jawab Vivi. “Perasaan semalam kamu gantung di pintu tenda?”, tanya Willy lagi. “Iya aku lupa, semalam aku bangun terus aku ambil”. Jawab Vivi yang tidak tau apa-apa. Willy pun enggan memberitahu kepada Vivi tentang kejadian yang semalam dilihatnya. Pagi itu mereka berdua pun masak untuk sarapan, setelah selesai sarapan mereka mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk dibawa summit ke puncak. Karena ranselnya Vivi yang lebih kecil, mereka hanya membawa 1 ransel milik Vivi dan meninggalkan tenda dan barang yang tidak diperlukan disitu. Berjalan menuju ke puncak dan sampailah mereka di puncak Hargo Dumilah pada jam 8 pagi, sesampai di puncak Willy lupa tentang kejadian yang semalam dilihatnya, dia hanya fokus menikmati keindahan puncak Hargo Dumilah, akhirnya keinginan mereka untuk menginjakan kaki di ketinggian perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur terkabulkan. Setelah kurang lebih 1 jam di puncak mereka pun turun ke Hargo Dalem untuk mengisi perut di warung yang terkenal di kalangan pendaki, setelah selesai mengisi perut di warung mereka pun berjalan muter-muter area Hargo Dalem untuk mengabadikan momen. Karena terlalu asyik di Hargo Dalem tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 2 siang, karena takut kesorean mereka pun bergegas kembali turun dan kembali ke tempat campnya. Berjalan turun, sesampai di camp Willy sangat terkejut karena tiba-tiba saja boneka milik Vivi itu tergeletak di luar tepat sebelah tendanya. Melihat itu seketika Willy teringat tentang anak perempuan yang semalam dilihatnya, karena posisi tergeletaknya boneka itu tepat di posisi anak perempuan yang semalam dilihat Willy, lalu Willy bertanya pada Vivi, “Vi, boneka kamu kok ada diluar? Apa sengaja kamu jemur?” “Enggak mas, tadi sebelum berangkat ke puncak bonekanya ada di dalam tenda kok”, jawab Vivi juga heran. “Lah itu kok ada di luar?”, tanya Willy lagi. “Apa jangan-jangan ada yang masuk tenda kita?”, jawab Vivi. Mendengar jawaban Vivi Willy langsung masuk kedalam tendanya untuk memastikan, mungkin yang dikatakan Vivi barusan benar, tapi setelah mereka berdua masuk ternyata tidak ada tanda-tanda bekas orang masuk. Seketika itu suasana jadi mencekam, dan disisi lain kondisi tempat mereka camp itu tidak ada orang sama sekali, hanya ada beberapa tenda saja yang tak berpenghuni. Willy, dia sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di tempat itu, lalu Willy cepat-cepat mengemasi barangnya dan mengajak Vivi untuk turun sore itu juga. Setelah selesai berkemas mereka pun akan berjalan turun, sebelum berjalan turun Willy mengajak Vivi untuk berdo’a berharap agar tidak terjadi apa-apa selama perjalanan turun nanti, setelah selesai berdoa Willy berpesan pada Vivi, “Nanti selama perjalanan turun kalau melihat atau mendengar sesuatu yang sekiranya tidak logis abaikan ya”. Dengan perasaan takut Vivi bilang, “Iya, memangnya ada apa sih mas?” “Udah nanti aja mas Willy ceritain”, jawab Willy. Berjalan turun, ketika mereka sampai di area Bulak Peperangan lagi-lagi Willy melihat sosok anak perempuan yang semalam dilihatnya itu tepat berada di sela-sela pohon sebelah kanannya. Melihat itu Willy langsung menggandeng tangannya Vivi dan mengajaknya untuk mempercepat langkah kakinya. Vivi yang tidak melihat keberadaan anak itu pun hanya menurut kemudian mereka berjalan dengan sedikit cepat. Hari terlihat semakin sore setelah mereka mereka sampai di pos 3, sesampai disitu mereka memutuskan istirahat untuk mengisi tenaga yang tadi terkuras. Ketika sedang istirahat tiba-tiba Vivi merasa ada yang menarik ranselnya dari belakang, sontak Vivi pun menoleh kebelakang tapi tidak ada siapapun disitu kecuali mereka berdua, karena merasa takut spontan Vivi bilang pada Willy, “Mas, kayak ada yang tarik-tarik tasku deh dari belakang deh?” “Yang bener? Jangan ngaco ah”, ucap Willy. “Beneran mas ini kerasa banget kalau ditarik”, ucap Vivi meyakinkan Willy. Spontan Willy pun menoleh kebelakang dan melihat ada apa dengan rasnselnya Vivi, setelah melihat kebelakang dia tidak melihat ada siapa-siapa tapi Willy benar-benar tersentak ketika dia melihat kearah ransel yang dipakai Vivi. (tau nggak ada apa dengan ranselnya?) Ranselnya sih tidak ada yang aneh, yang aneh tuh boneka yang nempel di belakang ranselnya. Boneka beruang yang tadinya terlihat lucu sekarang berubah menjadi boneka yang sangat menyeramkan. Matanya melotot keluar, mulutnya berdarah terlihat sobek di bagian dadanya. Melihat boneka itu menjadi menyeramkan Willy pun sangat panik, melihat Willy panik Vivi bertanya sambil sesekali melihat kearah belakang, “Kenapa mas?” Dengan nafas menggebu-gebu Willy menjawab, “Lepas boneka kamu sekarang juga!” “Ada apa dengan bonekanya mas?”, tanya Vivi dengan heran. “Lepas aja dulu Vi!”. Vivi pun bergegas melepas bonekanya, kemudian memberikannya kepada Willy. Anehnya dimata Vivi boneka itu terlihat baik-baik saja, tapi tidak dalam pandangan Willy. Setelah mengambil boneka dari Vivi Willy langsung membuangnya ke semak-semak, “Mas, kok dibuang sih?”, tanya Vivi dengan bingung. “Biarin aja Vi, ada makhluk lain didalam boneka itu”, jawab Willy dengan rasa takut. “Mas Willy apa-apaan sih?”. Kemudian Vivi akan mengambil boneka itu lagi karena dia tidak mau kehilangan bonekanya, saat akan mengambil Willy mencegahnya sambil bilang, “Vi, jangan diambil!” “Kenapa sih mas? Bonekanya lo gak kenapa-napa”, jawab Vivi meyakinkan Willy. “Pokoknya jangan, nanti mas Willy beliin lagi boneka yang kayak gitu”. Vivi tetap saja ingin mengambilnya dan berusaha meyakinkan Willy kalau boneka itu tidak kenapa-napa. Akhirnya Willy pun membiarkan Vivi untuk mengambilnya lagi, dengan deg-degan Willy menemani Vivi buat ngambil boneka itu, dan ternyata setelah diambil boneka itu kembali seperti semula, menjadi boneka beruang yang lucu. Willy syok dengan keada’an ini, lalu dia meminta Vivi agar memasukannya kedalam ransel aja. Setelah boneka itu dimasukan kedalam ransel mereka pun melanjutkan perjalanan turun. Berjalan turun, dipertengahan antara pos 3 dan pos 2, Vivi yang berjalan di depan tiba-tiba “Brukk” Vivi pingsan, Spontan Willy panik, dia segera memangku Vivi sambil menepuk pipinya. Dan Willy mengira kalau pingsannya Vivi ini karena gangguan gaib bukan karena fisik. Willy tidak tau harus berbuat apa, dia hanya berharap ada pendaki lain yang lewat agar dia bisa meminta pertolongan, tapi nyatanya tidak ada 1 pendakipun yang lewat waktu itu. Sambil menidurkan Vivi dipangkuannya Willy menangis meratapi keajdian ini, dalam hati dia berucap, “Siapapun itu tolong jangan ganggu perjalanan kami, kalau kalian menginginkan nyawa ambilah nyawaku saja jangan adikku”. Beberapa menit kemudian tiba-tiba Vivi batuk dan kemudian tersadar, perasaan Willy sedikit tenang karena Vivi sudah sadar, lalu Willy bilang, “Vi, kamu gpp kan?” Setelah sadar Vivi langsung memeluk erat Willy sambil nangis, lalu dia bilang, “Mas, aku takut” “Takut kenapa Vi?”, tanya Willy. “Tadi ada anak kecil disitu”, jawab Vivi sambil menangis ketakutan. Seketika itu jantung Willy berdetak hebat, Willy berfikir, “Berarti selama perjalanan ini kami diikuti oleh sosok anak perempuan yang aku temui diatas tadi”. Willy pun membuang rasa takutnya itu demi Vivi, dia bergegas mengambil boneka di dalam ranselnya Vivi kemudian membuangnya jauh kedalam hutan sambil bilang, “Kalau memang benda ini yang kamu inginkan nih ambil, awas kalau sampai mengganggu adikku lagi”. Setelah boneka itu dibuang Willy mencoba menenangkan Vivi, beberapa menit kemudian Vivi pun sudah sedikit tenang. Lalu Willy mengajak Vivi untuk lanjut berjalan lagi agar segera sampai di bawah. Lanjut berjalan, sambil berjalan Willy terus menggandeng pundaknya Vivi karena takut terjadi apa-apa lagi kepada Vivi tapi syukurlah mereka tidak mendapat gangguan lagi hingga sampai di area candi ketika hari sudah gelap, sesampai disitu mereka dihampiri oleh 1 orang bapak-bapak dengan membawa tongkat, bapak itu terlihat seperti orang daerah sini, lalu bapak itu bertanya pada mereka, “Baru turun ya mas, mbak?” “Iya pak”, jawab Willy pada bapak itu. “Oh iya, ini milik kalian kan?”. Ucap bapak itu sambil memberi mereka sesuatu. (Tau nggak apa yang diberikan bapak-bapak itu?) Ternyata yang diberikan bapak itu adalah boneka beruang milik Vivi. Melihat itu mereka pun heran, lalu Willy bertanya pada bapak itu, “Loh pak, boneka ini kan tadi aku buang diatas?” “Iya, bapak tau ini kepunyaan kamu jadi bapak berniat mengambilnya lagi”, jawab bapak itu. “Tapi pak, boneka ini ...?” “Jangan khawatir, anak perempuan itu sudah kembali ke tempatnya, dia hanya suka dengan boneka ini, dan sekarang boneka ini sudah kembali seperti boneka biasa, kalian bisa membawanya lagi”. Ucap bapak itu kepada Willy dan Vivi. Mereka pun menerima boneka itu lagi kemudian bapak itu lanjut berucap sambil memegang pundaknya Willy, “Jaga adikmu baik-baik ya, selamat jalan”. “Iya pak terima kasih banyak”, jawab Willy. Dan mereka pun lanjut berjalan lagi, setelah beberapa langkah berjalan meninggalkan bapak-bapak tadi Willy sempat menoleh kebelakang, tapi bapak-bapak yang ditemuinya tadi tiba-tiba tidak ada, alias hilang. Willy menganggap itu bukanlah manusia, karena kalau dipikir secara logika, tidak mungkin dia bisa menemukan boneka ini dan tidak mungkin juga dia pergi secepat itu. Tapi karena beliau baik Willy tidak merasa takut sedikitpun. Singkat cerita, sesampai mereka di mobil malam itu mereka langsung bergegas meninggalkan bascamp dan kembali ke rumah dengan selamat. Dan boneka beruang itu, sekarang mereka segel di sebuah lemari kaca untuk pajangan kamar dan kenang-kenangan, dan Willy menggantinya dengan boneka beruang yang lebih besar dengan tujuan agar tidak bisa dibawa lagi kalau pendakian. Selesai...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN