Rumah yang sudah lama ditinggalkan, kembali ia pijaki. Tak ada yang berbeda, semua masih sama. Kamar yang ditinggalinya, bahkan masih bersih. Tak ada barang milik orang lain yang ditinggalinya, selain seprainya yang berantakan. Reza yang selama ini menempati ranjangnya, menyimpan kerinduan terdalamnya. “Sayang, kamu gbaik-baik aja?” tanya Reza yang khawatir. Semenjak dokter mengkonfirmasi kehamilannya, wanita itu kian murung. Sesekali menghela nafas berat dan mengacak rambutnya tiba-tiba. “Apa ga ada alat buat hapus ingatan mas?” tanya Naya tiba-tiba. Reza melotot kala mendapati air mata mengucur membasahi wajah wanitanya. Naya kembali menangis. “Seandainya aku ikutin ucapan mas, kalau dunia luar itu berbahaya, mungkin aku ga akan seperti ini mas ...,” suaranya kembali serak dengan isak

