“Sayang, pipi kamu merah banget,” goda Reza menuruni anak tangga dengan istrinya yang berjalan disisinya. Naya menggerutu kecil. Ia merasa dikerjai dan malu. Pria yang tadi mengukungnya diatas ranjang hanya terbahak kala Naya memejamkan mata saat wajah Reza kian mendekat dan tiba-tiba pria itu bangun begitu saja, ah! Rasanya memalukan saat Naya tanpa sadar mengharapkan perlakuan lebih dari suaminya. “Gara-gara siapa?” “Aku, tapi gimana lagi. Harus ambil makanan dulu. Mau dilanjutin?” Reza mengedipkan sebelah matanya sambil menunjuk kamar lama milik istrinya. Naya membuang muka dan memilih untuk mendorong tubuh suaminya agar bisa berjalan lebih cepat. Kurir makanan pasti sudah lama menunggu. “Aku udah janji ga mau makan kamu sekarang, kamunya berharap lebih.” “Diem.”

