Ruangan berwarna pink, dilengkapi dengan lemari yang besar, dan cermin yang dipenuhi dengan perlengkapan make up akan menjadi tempat tinggalku untuk selamanya, aku perlahan memandangi setiap sudut kamar barbie yang akan aku huni. Satu kesempatan terakhir untuk melihat bagaimana keadaan di dunia nyata, mungkin aku tidak dapat menyebutnya sebagai kesempatan, itu lebih seperti menghabiskan waktu untuk dapat kembali ke dunia barbie ini. Sekarang yang harus aku lakukan adalah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan, aku tidak tahu apakah di sana orang tuaku tiba-tiba bertanya mengenai keadaanku atau tiba-tiba saja ada orang yang mengaku sebagai temanku, intinya sekarang aku memang harus sepenuhnya siap.
Aku mulai berbaring di atas kasur, sambil memandang langit-langit kamar, aku menarik nafas panjang sambil perlahan aku menutup mata lalu ku hembuskan, kuulangi sampai pikiranku tenang dan aku mulai memikirkan kebahagiaanku yang terjadi di dunia nyata, lebih sulit dari sebelumnya memikirkan kenangan indah, tapi aku harus berusaha agar aku dapat tinggal di sini untuk selamanya, perlahan kesadaranku mulai hilang dan akupun tertidur.
Kubuka mataku perlahan dan kupandangi sekelilingku, aku sudah di dalam kamar. Aku melihat diriku sedang tertidur di dalam kamar Barbie dengan sangat tenang, yang sekarang harus aku lakukan adalah melihat keadaan di dalam rumahku dan bertemu dengan teman-teman, untuk memastikan apakah pilihanku ini tepat atau ini cuma ilusi dari semua pikiranku.
Sekarang waktuku tidak banyak untuk memilih tinggal di dunia nyata atau di dunia Barbie, aku bergegas pergi keluar kamar untuk melihat kedua orang tuaku, apa yang sedang mereka lakukan? dan apakah mereka mengkhawatirkan diriku? Kulihat kedua orang tuaku sedang berada di ruang tamu seperti sedang mendiskusikan sesuatu, aku berpikir apakah mereka sudah berbaikan?, perlahan aku mendekati mereka tanpa banyak suara, aku mendengarkan ucapan mereka dari balik lemari, tiba-tiba kakiku terasa lemas mendengar bahwa mereka ingin berpisah, suatu peristiwa yang sangat tidak kusangka! aku terdiam tanpa suara mendengarkan percakapan mereka, tanpa kusadari air mataku terjatuh, hatiku sangat hancur remuk berkeping-keping, Aku sungguh tidak sanggup untuk tinggal di sini lagi dengan kedua orang tua yang sudah berpisah.
“Praakk!!!..."
Sebuah guci pecah yang tidak sengaja tersenggol siku tanganku, aku sangat terkejut sampai tanganku bergetar sambil menengok ke arah orang tuaku yang sontak terkejut mendengar suara pecahan itu. Orang tuaku melihatku dan langsung berlari menuju ke arahku, mereka terkejut melihat aku yang terduduk di antara pecahan guci, Ibuku segera membawaku ke dalam kamar dan ayahku membersihkan pecahan guci yang berserakan di lantai, pikiranku sekarang sangat kosong Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan dan apa yang harus kulakukan, aku sudah berada di dalam kamar di tenangkan oleh ibuku sambil mengatakan mengenai pembicaraan mereka.
"Apa yang kamu dengan itu benar Rachel," sambil memegang tanganku, "Ibu minta maaf tidak bisa menjadi orang tua yang baik, ibu akan berpisah dengan ayah dan kamu bisa tinggal bersama ayahmu."
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, hatiku terasa tertusuk akan pedang yang sangat panjang, dengan perasaan remuk ini membuatku benar-benar merasa hancur, mulutku tidak sanggup mengatakan apapun, air mataku seketika kering karena tidak sanggup menangisi diriku. Bisa-bisanya dia dengan mudah meninggalkanku dan menyerahkanku dengan ayahku, apakah begitu tidak pentingnya aku. Ibuku sepertinya benar-benar tidak menginginkanku, aku merasa sangat kesal, marah, kecewa, dengan perasaan itu aku segera berlari keluar rumah tanpa melihat ke belakang, ayahku pun tidak bisa mengejarku karena aku sudah berlari sangat cepat untuk meninggalkan rumah, tanpa mengenakan alas kaki aku berlari tanpa tahu kemana aku harus pergi. Sudah cukup bagiku mendengar jawaban dari orang tuaku mengenai keputusanku, kenapa kehidupanku di sini begitu menyakitkan? aku rasa untuk tinggal di dunia Barbie adalah pilihan yang tepat, aku terus berlari dan tanpa sadar sudah berada di depan kampusku.
Waktu terasa begitu cepat sampai aku bisa melihat teman-teman yang ada di kampus, aku berjalan dengan keadaanku sekarang tanpa alas kaki masuk ke dalam kelas dan menyapa mereka tapi memang sudah seperti dugaan, mereka tidak menghiraukan aku, bahkan mereka tidak peduli dengan kaki tanpa alas, ditengah permasalahanku dengan orang tuaku aku tetap berusaha berbicara dengan mereka berharap aku masih memiliki orang yang peduli padaku tetapi mereka hanya menjawab dengan sangat singkat seolah tidak ingin berteman denganku, melihat itu semua aku hanya tersenyum kecil dan menarik nafas dalam, percuma berusaha, kalau kehidupanku memang seperti ini. Dari kejauhan aku melihat Ales memandangku dengan wajah yang tersenyum, aku langsung mendekati Ales.
"Sepertinya kebahagiaanku ada di sana," ucapku sambil memandang Ales.
"Kalau kebahagiaanmu memang di sana pergilah, aku harap apa yang menjadi di pilihanmu tidak akan mengecewakanmu suatu saat nanti. Oh ya jangan lupa beli sendal di jalan," sambil menunjuk kakiku. mendengar perkataan ales aku hanya mengangguk tersenyum dan pergi meninggalkannya.
Aku berjalan pulang menuju rumah yang sebenarnya aku sangat tidak ingin untuk kembali ke dalam rumah, tapi kotak Barbie ku ada di dalam kamar itu, mau tidak mau aku harus kembali.
Melihat waktu yang begitu cepat aku rasa orang tuaku lagi tidak ada. Aku yang sudah berada di depan pintu rumah dengan berat hati, kubuka perlahan pintu itu untuk memastikan tidak ada siapapun di rumah, aku masuk dengan menjinjit sambil melihat ke kanan dan ke kiri merasa tidak ada siapapun di rumah aku segera masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar. Melihat kotak Barbie yang sudah ada di hadapanku dan melihat tombol power yang sudah menyala, untuk terakhir kalinya aku melihat sekeliling kamar dan mengucapkan salam perpisahan kepada kamarku yang selalu menemani aku. Kutekan tombol power itu sambil memejamkan mata dan perlahan aku mulai kehilangan kesadaran.
Perlahan kubuka mataku dan kudapati diriku sudah berada di dalam kamar Barbie seperti sebelum aku pergi dan seperti pertama kali mempunyai kehidupan yang bahagia. Perasaanku sekarang bercampur aduk seperti tenang tapi juga sedikit gelisah.
Aku berjalan keluar kamar, perlahan aku menuruni tangga dan aku mencium bau yang sangat enak dari arah dapur, kulihat Ibuku sedang memasak sesuatu, entah kenapa perasaan ini seperti pertama kali aku datang ke dunia ini, kulihat Ibuku sambil bertanya.
"Ibu sedang apa?" ucapku.
"Ibu sedang memasak sesuatu yang enak buat kamu dan teman-temanmu" ucap ibuku
"Teman-temanku?" Aku bertanya-tanya "Apakah mereka akan datang?" bingungku sambil menengok arah jendela.
"Iya sebentar lagi mereka datang, ayahmu juga sedang bersiap untuk makan."
"Ayah!! ayah ada?"
"Iya ayah baru saja pulang" aku yang bingung dengan ucapan ibuku hanya bisa terdiam sembari duduk di meja makan. Tak lama kemudian ayahku datang dengan senyum yang sangat indah.
"Bagaimana keadaanmu?" ucap ayahku sambil memandangku
"Aku baik-baik saja yah" sembari tersenyum "Mungkin ini hari terbaikku"
"Baguslah kalau begitu Ayah harap kamu akan bahagia selalu."
Selagi asik berbincang dengan Ayahku, Carla, Sana, Jack, Sebastian dan juga Ken datang, entah kenapa mereka terlihat sangat bahagia. Persis seperti perjumpaan pertama kami tapi yang berbeda hanya Ken dia terlihat lebih khawatir, Ken datang dengan wajah yang cukup cemas, melihatku sedikit membuatnya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahku dia terlihat seperti ingin membicarakan sesuatu, aku berinisiatif berjalan ke arahnya dan membawanya ke belakang. Kami berbicara berdua, Ken mengatakan padaku mengenai apa yang terjadi.
"Kejadian ini persis seperti aku memutuskan untuk tinggal di dunia ini selamanya, aku rasa pola ini terulang sama kamu Rachel."
"Benarkah Ken? tapi selama ini kamu baik-baik saja kan."
"Iya aku baik-baik saja tapi entah kenapa perasaanku mulai tidak enak, apalagi melihat pola yang terulang ini, aku harap kita baik-baik saja ya."
"Aku harap begitu" sambil memeluk Ken "Sebaiknya kita ikut berkumpul ke meja makan" Aku dan Ken berjalan ke meja makan dan sedikit terkejut melihat ada Hans di sana, yang entah kenapa orang-orang yang dekat denganku semuanya berkumpul. Raut wajah Hans sekarang terlihat berbeda, dia sedikit murung tapi harus terpaksa tersenyum aku yang melihat itu hanya bisa diam, tapi sedikit penasaran dengan apa yang terjadi, karena dia terlebih dahulu menjadi manusia di sini. Rasa penasaranku sekarang sangat tinggi, raut wajah Hans terlihat sedikit ketakutan, aku memanggil Hans dan mengajaknya ke belakang untuK berbicara. Hans melihat kepadaku dan mengangguk setuju kami sudah ada di belakang yang sedikit jauh dari orang-orang.
"Aku minta maaf tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya karena aku juga sudah diatur untuk dapat membantu orang lain memiliki kebahagiaan." ucap Hans dengan nada rendahnya.
"Apa maksud kamu Hans? apakah ada yang aku lewatkan?"
"Sebenarnya ini bukan sesuatu yang kamu lewatkan ini lebih seperti kebahagiaan yang bakal terus terulang."
"Maksud kamu?" terkejutku bertanya-tanya.
"Iya aku sudah di sini cukup lama dan aku selalu menari seolah-olah kebahagiaanku hanya terjadi di sana, tapi setelah kamu melihat tarianku aku sedikit bahagia, dan sekarang, setelah kamu menjadi bagian dari dunia ini kehidupan kamu akan selalu terulang."
"Jadi apa yang aku lakukan selama ini akan terjadi lagi seolah-olah kebahagiaanku hanya di sini?”
"Iya seperti itu"
"Bagaimana dengan Ken?"
"Sepertinya Ken akan begitu juga, ada suara menggerakkan kita dan kamu sebentar lagi akan melihat orang itu."
"Seorang yang menggerakan kita? Siapa? Apa? Apakah dia orang jahat?" aku semakin bertanya-tanya mendengar penjelasan Hans.
"Sebenarnya dia tidak jahat, tapi dia egois dia merasa dirinya paling baik, tapi yang dia lakukan dapat memperburuk keadaan."
“Tapi bagaimana keadaanmu di dunia nyata?"
"Entahlah sepertinya memang tidak ada yang mencariku makanya aku tidak bisa menjadi manusia."
"Berarti memang benar kita dapat kembali menjadi manusia apabila ada yang memikirkan kita?" pastikanku.
"Iya" dengan wajah sedihnya..
“Semua pembicaraan kita membuatku pusing, bagaimana keadaan Ken nanti? bagaimana keadaan aku nanti?”
“Rachel!!” dari jauh ibuku sudah memanggil, kami berdua bergegas untuk kembali ke ruang makan, pikiranku sedang tidak karuan setelah mendengar perkataan dari Hans, seperti baru saja dia mengatakan kebenaran yang tidak bisa diungkapkan, pikiranku hanya tertuju dengan apa yang dikatakan Hans, aku terdiam sambil melihat semua orang makan dengan bahagia. Sebenarnya ini adalah hal yang membahagiakan untukku, tapi kenapa perasaanku jadi gelisah, aku memandang ke arah Ken melihatnya yang terlihat juga bahagia, sepertinya Ken lebih bahagia di sini, aku hanya berdiam diri dan berharap semuanya akan baik-baik saja.