Metta menundukkan kepala. Duduk di samping Aden yang kini membawanya ke pinggir pantai bersejarah bagi Aden dan kedua saudara kandungnya. Sudah setengah jam keduanya duduk sembari menikmati kelapa muda, namun Metta yang diharapkan bisa mulaii menceritakan apa yang ingin dia sampaikan, masih belum juga melakukannya. Aden melirik ke Metta. Dia tahu Metta masih gugup dan bingung untuk memulai kalimat. Aden sendiri pun sebenarnya juga merasakan hal yang sama, dia gugup dengan jawaban yang ingin diberikan Metta padanya. Sikap Aden yang frontal mengucapkan rasa di hatinya langsung di hadapan Metta, membuatnya malu bukan main. Walau tidak ada perasaan menyesal sama sekali karena sudah mengatakannya, namun rasanya untuk Aden terlalu cepat pastinya bagi Metta yang mungkin saja merasa waktu bagi k

