Nisa menaburkan bunga di makam kecil yang terletak di belakang rumah, tepatnya di samping rumah para pengawalnya. Ada pohon rindang yang sengaja ditanam Adit, sekedar menenangkan suasana area pemakaman anak pertamanya yang harus tiada akibat kekejian orang lain. Nisa duduk seorang diri, menatap pilu ke makam yang di batu nisannya bertulliskan nama Miya Ranisa Putri. Helaan napas terdengar dari Nisa, lantas berusaha tersenyum walau terlihat jelas di kedua matanya, ada kesedihan yang teramat dalam yang kini dia rasakan. “Apa kabar, Sayang, bunda rindu sama kamu,” ucap Nisa dengan nada suara ergetar menahan tangis. “Andai saja kamu terlahir ke dunia, pastti sekarang kamu jadi kakak tadi Zyo, Zenia dan juga Zidane, eh iya, bunda belum cerita sama kamu, Tante Ameliya ngelahirin adek baru lagi

