Deep Conversation

1235 Kata
V terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Namun dibuat ketakutan setengah mati ketika ia melihat tubuhnya sudah tertutup selimut dengan rapat. Lalu dengan buru-buru, ia segera membuka selimut untuk memastikan hal yang ia khawatirkan. Sedetik kemudian V menghela nafas lega. Ternyata pakaiannya masih utuh. Melihat kepanikan V, Jung tergelak di tempat ia duduk, "Hahahaha... Aku hanya menutupi tubuhmu dengan selimut karena kelihatannya kau kedinginan. Apa kau pikir aku telah berbuat macam-macam padamu selama kau tidur pulas? Atau kau sebenarnya berharap akulah yang menjadi selimutmu ketika kau tertidur tadi?" V menatap Jung yang tengah duduk di sofa seberangnya itu dengan tatapan malu, kemudian bangun dan duduk bersila di sofanya. "Kau tidak pulang? Bukankah hujan sudah reda?" "Kau tidak lihat, sudah jam berapa sekarang? Apa kau tega mengusirku, seorang pendatang dari luar kota ini?" Jung balik bertanya, membuat V dengan spontan menengok ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kini gadis itu menatap Jung dengan pandangan penasaran."Memangnya kau datang dari mana? Dan mengapa kau sekarang ada di Busan?" "Aku datang dari Seoul, untuk mencarimu..." Jawab Jung singkat. Namun jawaban itu membuat V sontak memelototinya, "Oke oke, aku bercanda... Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku merinding!!” Ralatnya. “Aku ke Busan karena ada urusan pekerjaan... Kau tau, pekerjaanku berhubungan dengan spot-spot yang bagus." "Memangnya apa pekerjaanmu? Kelihatannya kau masih terlalu muda untuk memiliki sebuah pekerjaan, bukankah kau masih seumuranku?" Tanya V lagi seraya memandang Jung dari kepala hingga ke kaki. Jung terkekeh, "Hahaha... Ini hanya fisikku saja, padahal aku lebih tua daripada yang kau pikirkan lho, Agashi! Bahkan kau mungkin lebih pantas memanggilku Harabeoji sekarang." "Aku serius." Sergah V kesal. "Oke, sepertinya kau memang bukan tipikal orang yang bisa diajak bicara serius." V menatap Jung dengan tajam seolah pria di depannya tersebut adalah seorang pelaku kejahatan. "Sekarang juga bayar hutangmu padaku!!" Tuntutnya. "Ingat, satu ciuman untuk satu jawaban." Ucap Jung santai. "Aigoo... Sebegitu terobsesinya kah kau dengan ciuman? Sebenarnya sudah berapa banyak wanita yang kau cium?" "Umm... Berapa ya? Puluhan? Ratusan? Aku bahkan sudah tak bisa menghitungnya lagi." Jawab Jung dengan ringannya, seolah itu sudah menjadi hal yang sangat lazim. "Lalu berapa banyak wanita yang kau cium tiba-tiba di jalan selain aku?" "Hei, itu kulakukan hanya jika dalam situasi terdesak saja! Tapi... Hmm, sudah berapa banyak ya? Aku juga lupa." Jawab Jung yang lagi-lagi tanpa beban. Mendengarnya, V hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, "Betapa malangnya aku yang harus melakukan ciuman pertama dengan seorang womanizer sepertimu."  "Betapa beruntungnya aku yang menjadi ciuman pertama dan pria satu-satunya yang pernah menciummu." Sahut Jung membalikkan perkataan V. Gadis itu melayangkan tatapan menantang, "Memangnya kau yakin bahwa kau adalah satu-satunya pria yang menciumku? Bagaimana jika ternyata setelah insiden di pasar malam itu, besok-besoknya ada pria lain yang melakukannya?" "Aku yakin dengan asumsiku, karena bibirku sendirilah yang merasakannya." Jawab Jung dengan seringaian licik. Kalimat itu berhasil membuat V mengeritingkan jari-jarinya. Terlalu cheesy bagi V yang seumur hidupnya belum pernah sama sekali dirayu oleh seorang pria. "Lalu..." Lanjut V dengan ragu, "sudah berapa banyak wanita yang pernah kau tiduri?" Tanya V pada akhirnya dengan tanpa menatap mata Jung. Ia tau pertanyaan itu terlalu sensitif, namun ia tak bisa menahan diri karena penasaran. Mendengar itu, Jung tertegun sejenak, kemudian beranjak berdiri dan berjalan mendekat ke arah tempat V duduk. Di depan gadis itu, Jung berhenti dan berlutut. "Sebajingan apa aku di matamu, Agashi?" Tanya Jung dengan tatapan mengintimidasi, "Sudah kubilang, aku tidak akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman jika bukan si wanita sendirilah yang memintaku, bukan begitu?" Lanjutnya sembari meletakkan kedua tangan ke samping tubuh V untuk mengapit wanita itu di tempat ia duduk. V menundukkan kepala agar dapat terbebas dari tatapan Jung yang tajam sampai membuatnya gugup, "Aku rasa, pasti sudah ada banyak wanita yang mendatangimu dengan kemauannya sendiri, benar kan?" "Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Jung lembut namun begitu menuntut jawaban. V hanya terdiam tanpa bisa memberikan jawaban apapun. Jika saja ia tidak peduli akan moral dan harga diri, maka sebenarnya iapun pasti akan melakukan hal serupa dengan wanita-wanita itu. Lagipula wanita mana yang tidak akan tergila-gila dengan pesona Jung? Kala itu tangan kiri Jung meraih dagu V, membimbingnya agar kembali mendongak, "Aku sungguh tidak suka jika kau memalingkan wajahmu ketika aku sedang menatapmu, Valerian Park." Untuk pertama kalinya, V mendengar Jung menyebut nama lengkapnya. Tapi... dari mana Jung mengetahui nama itu? Sejak kapan? Namun tak bisa ia pungkiri, panggilan itu telah  menimbulkan reaksi tersendiri. Jung menyebut namanya, dengan suara lembut dan tatapan yang hangat, tidak seperti Jung yang biasanya selalu memberikan tatapan liar dan penuh dengan tipu daya. Hari itu, V melihat sisi dari Jung yang lain. "Jelas aku juga akan mendatangimu sendiri, namun hanya jika seandainya aku menjadi istrimu saja." Jawab V pada akhirnya. Kala itu tatapan mata Jung berubah menjadi berbinar-binar. "Benarkah?" Tanya Jung tidak percaya. "Tentu saja.... Tidak." Jawaban V kali ini benar-benar merusak suasana hati Jung seketika. "Aku tidak mau menikah dengan bastard sepertimu. Dan... Pastinya mana mau kau menikah dengan wanita berwajah standar dan pasaran sepertiku sedangkan banyak wanita cantik di luar sana yang juga menginginkanmu, benar kan?" Sambungnya memberikan argumen. Jung berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah V, mengapit V dengan kedua tangannya hingga gadis itu jatuh bersandar di pundak sofa. "Lalu bagaimana jika aku mau?" Tanyanya dengan serius. Tatapan Jung kali ini benar-benar intens, tanpa senyuman sedikitpun. "Kalaupun kau mau, aku yakin kau menikahiku hanya untuk meniduriku, dan setelah kau bosan, kau pasti akan meninggalkanku begitu saja, benar kan? Aku bahkan--" sebelum V menyelesaikan perkataannya, Jung membungkam mulut V dengan bibirnya. Namun kala itu, sentuhannya terasa berbeda, kelihatannya Jung sedang tidak dalam keadaan main-main saat ini. Matanya yang terpejam terlihat gelisah bercampur kesal, raut wajahnya menandakan putus asa, bahkan tangan kanannya yang bertengger di leher V terasa lemas dan tak ada tenaga. Jung benar-benar menjadi orang yang sama sekali berbeda. Beberapa detik kemudian, Jung melepaskan ciumannya, "Aku akan bertanya sekali lagi, bagaimana jika aku mau?" Tanyanya kembali. V benar-benar dilema. Di satu sisi ia benar-benar mendambakan pria ini, namun di sisi lainnya ia sangat takut dicampakkan mengingat Jung yang kemungkinan adalah seorang playboy. Namun sepertinya sisi lain yang kontra itu kini telah kalah. Dengan pasrah V mengangguk pelan, memberikan tanda bahwa V mengatakan 'iya'. Jung menghempaskan dirinya dan duduk di samping V. Kali ini bahasa nonverbalnya mengisyaratkan rasa frustrasi yang nyata. Jung menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Jika kau tahu siapa diriku sebenarnya, maka mungkin kaulah yang nanti akan meninggalkanku lebih dulu, Valerian." Gumamnya penuh kesedihan. Namun hal itu malah membuat V semakin bingung sekaligus bertanya-tanya, mengapa Jung berkata demikian? Lalu apa maunya? "Aku juga ingin memberitahumu, bahwa semua yang kukatakan dari mulutku adalah kejujuran, meskipun kau, ataupun wanita-wanita lain yang pernah berbicara denganku, hanya menganggapnya sebagai gurauan belaka." Sambung Jung dengan sedikit berbisik. Namun kata-katanya malah membuat V semakin bingung. V hanya terdiam sambil meregangkan lehernya yang kaku setelah tidur terlalu lama di sofa. Namun kala itu juga, V termangu mengingat sesuatu. Dalam sedetik ia langsung melihat ke arah lehernya, dan kala itu baru tersadar bahwa beberapa bagian di lehernya terdapat bekas kemerahan. Kiss mark? V sontak menengok ke arah Jung, tatapannya sarat menghakimi. "Oke oke... Tadi aku lapar--ups!!" Gurau Jung dengan sengaja. V hanya terus memelototinya skeptis tanpa menyahut. "Hei, santailah Agashi... Hanya sekedar di situ saja kok, tidak lebih!! Ingat perkataanku tadi tentang komitmenku kalau aku tidak akan melakukannya sebelum diminta kan? Tenang saja." Sergah Jung untuk menurunkan tensi darah V yang kini mungkin saja sedang naik hingga ke ubun-ubun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN