Intoxicating Torment

1511 Kata
Jung memojokkan V pada tembok di sela lorong yang begitu sempit. Hanya ada mereka berdua, dengan napas yang saling menyentuh wajah masing-masing. 'Bagaimana mungkin bahkan aroma napasnya saja begitu manis? Bagaimana mungkin seluruh bagian tubuhnya memiliki daya tarik yang begitu luar biasa?' Batin V, terbuai oleh pesona pria yang nampak baru berumur 20 tahunan di depannya tersebut. Untuk beberapa menit yang terasa begitu lama, Jung hanya mendiamkan gadis berambut sebahu di hadapannya itu. Ia memiringkan wajahnya dan menatap mata V dalam-dalam, dengan senyuman provokatif, membuat jantung V berdetak semakin kencang seiring berjalannya waktu. Sengaja menyiksa gadis di depannya itu dengan cara yang seksi. Mendengar degup jantung V yang berpacu, Jung terkekeh dan malah semakin ingin menggodanya lagi. Ia bergerak maju secara perlahan-lahan, mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, memangkas jarak antara mereka beberapa inchi. Senyumannya semakin melebar, seakan sedang menikmati irama jantung V yang terdengar seperti bunyi bedug akibat permainannya. ‘Penyiksaan macam apa ini?!’ V sontak memalingkan wajahnya ketika Jung semakin merapatkan jarak di antara mereka. Bukan karena malu, melainkan karena minder setelah menyadari bahwa wajahnya terlalu pas-pasan dan tidak ada yang menarik sedikitpun untuk dilihat, apalagi oleh pria yang setampan dirinya. Melihat V melengos, tangan kanan Jung merengkuh dagu gadis berambut sebahu tersebut, menariknya supaya kembali menghadap depan. Tangan satunya mengunci leher V sampai ia tak dapat memalingkan wajahnya lagi. 'Katakan sesuatu, V! Ayo cepat katakan sesuatu! Jangan diam saja atau dia akan terus mempermainkan-mu seperti ini!" Batin V memperingatkan diri sendiri. Namun sepertinya, pikiran dan bibir V tidak dalam keadaan sinkron kala itu. Meski pikirannya berkali-kali menyuruh V untuk bicara, namun bibirnya sama sekali tak bisa bergerak, terkunci oleh tatapan eksotis pria muda di depannya ini. "Bukankah saat pertemuan pertama kita waktu itu aku sudah pernah bilang, bahwa jika kau mempermalukanku sekali lagi, kau akan kucium... Kau ingat?" Jung akhirnya mulai bicara sambil memainkan jari-jarinya di bibir V. Menyiksa V dengan cara membuat jantungnya berdetak sangat cepat sampai rasanya mau meledak. Jantung V semakin berdebar tidak karuan. Gadis berambut hitam itu hanya bisa mematung seperti pahatan es. "Dan tadi kau telah mempermalukanku dua kali..." Lanjut Jung, "Pertama, kau memukul meja makanku. Kedua, kau menyiramku dengan air pel. Bukankah itu artinya kini kau berhutang dua ciuman padaku?--Ah, aku lupa... Mengapa kau menyiramku ketika aku hampir saja mencium wanita itu? Apa kau cemburu?" Tanyanya dengan bisikan selembut beledu dan senyum semanis madu. V benar-benar tak bisa bicara sama sekali. Ia terlalu panik, juga terlalu terbuai oleh pesona Jung yang berhasil membuatnya mabuk kepayang. Jung kembali menyeringai licik. Lalu dengan tanpa basa-basi, Jung mendekatkan bibir mereka. Namun sebelum bibir mereka bertemu, dengan secepatnya V melengos hingga bibir Jung mendarat secara tidak sengaja di rahangnya. "Kau berjanji padaku waktu itu... bahwa di pertemuan kita selanjutnya, kau akan memberitahuku alasan mengapa kau menciumku. Sekarang aku tagih janjimu, karena ini adalah pertemuan kedua kita--ah, lebih tepatnya pertemuan ketiga!" Ucap V dengan terbata-bata, setelah dapat kembali bersuara. Pria ini luar biasa pandai dalam hal memanipulasi pikiran. Mengapa ia selalu dibuatnya jadi tak bisa berkutik sedikitpun? "Sejak kapan aku pernah bilang bahwa itu adalah sebuah janji, hmm?" Sergah Jung seraya menyapukan bibirnya di rahang V hingga ke leher dengan begitu lembut namun menggelitik. 'Astaga! Ini tidak baik! Jantungku!' V mengerang seiring gerakan bibir Jung. Suara erangan sekaligus degup jantung V merupakan hiburan tersendiri bagi lelaki bersurai hitam tersebut. Satu tangannya menarik tengkuk V semakin mendekat, dengan satu tangan lain yang kini ia sandarkan pada dinding lorong. Bahunya yang kokoh bersentuhan dengan pundak V kala itu. Melihat V membelalakkan matanya ketika merasakan sentuhan bibir Jung di lehernya, Jung terkikik kecil, "Salahmu sendiri mengapa kau melengos, Agashi... Pada akhirnya kau seperti memberikanku kesempatan untuk melakukan hal yang lebih parah dari sekedar ciuman. Bukankah perbuatanku kali ini akan meninggalkan bekas di lehermu?" Bisiknya yang kemudian mulai menggigit kecil kulit leher V. Dengan gemetar, V memberanikan diri untuk mengangkat wajah Jung menggunakan kedua tangan, berupaya menghentikan aktivitasnya. "Ya ampun, Agashi! Jadi kau ingin melakukannya sendiri? Apa kau berniat untuk membayar hutang ciumanmu sekarang juga?" Tanya Jung menggoda V sambil terkikik. Seketika V melepaskan tangannya lagi dari wajah Jung. Melihat V yang tiba-tiba menjadi canggung, Jung menggelakkan tawa semakin keras. Suara tawa dari seorang pria kejam, namun sungguh enak didengar. "Sekarang, kau berhutang dua alasan padaku! Pertama, mengapa kau menciumku waktu itu, kedua, mengapa kau tiba-tiba bersikap begitu kasar dan dingin terhadapku di restoran tadi!" Akhirnya V mampu melayangkan dua pertanyaan inti yang sedari tadi menghantui di pikirannya, setelah berusah sekuat tenaga untuk dapat melepaskan diri dari pesona pria di depannya ini. "Kalau begitu, satu alasan dengan satu ciuman... Kau mau? Bukankah dengan begitu kita impas?" Tawar Jung seraya melepas coat dan menjatuhkannya begitu saja di atas tanah, kemudian menggulung lengan panjang kemejanya hingga ke siku, menampakkan lengan yang sangat kekar seperti batang kayu. Untuk sesaat V teralihkan pikirannya oleh aktivitas sederhana Jung tersebut yang entah kenapa sangat menarik perhatian. Ketika melakukannya, tatapan Jung masih terpusat di wajah V. masih belum membiakan gadis itu bebas. "Itu dua hal yang berbeda, Jung!" Sergah V menampik tawaran Jung. "Keduanya sama-sama hutang, jadi apanya yang berbeda?" V mengerutkan kedua alisnya, "Kau... Aku tidak mengerti sama sekali dengan sikapmu. Bagaimana bisa seseorang dapat berubah dalam waktu yang teramat singkat? Di pertemuan pertama sikapmu begitu lembut, di pertemuan kedua kau benar-benar begitu dingin dan kasar, dan sekarang di pertemuan ketiga kau menggodaku lagi… Apa kau ini memang punya kepribadian ganda? Atau kau memang berniat untuk mempermainkanku sejak awal?" Tanya V mengutarakan semua pikiran yang mengganjal di benaknya sedari tadi. "Tunggu dulu! Siapa bilang sekarang aku tengah menggodamu, Agashi? Aku sudah terbiasa bersikap seperti ini pada semua wanita yang kutemui, kau saja yang merasa tergoda." Ujar Jung yang lagi-lagi meralat perkataan V. Skakmat! V benar-benar tak bisa mengatakan apapun lagi. "Dan kurasa... Yang tadi itu masuk ke dalam hutangku padamu yang kedua. Tentu aku tidak akan menjawabnya sebelum kau membayar hutangmu terlebih dahulu." Lanjut Jung seraya mendekatkan jaraknya kembali dengan V. "Oke... Berarti aku hanya tinggal menciummu dua kali, lalu kau akan menjawab dua pertanyaanku, benar begitu?" Tanya V memastikan. Jung hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu dengan seluruh tubuh yang gemetar dan darah yang mengalir lebih deras, V memberanikan diri untuk mencium bibir Jung dua kali dengan singkat. Dan lagi, ini adalah pengalaman pertamanya--mencium seorang pria duluan. "Oke! Aku sudah membayar hutangku! Sekarang giliranmu!" Tukas V dengan jantung yang masih berdebar-debar. Jung menggelakkan tawanya. "Itu hanya kecupan, Agashi... Bukan ciuman. Itu bahkan tidak mampu mengenyangkanku." Sergah Jung menimpali. "Mengenyangkan? Kau pikir ciuman adalah makananmu?" Tanya V dengan skeptis, mempertanyakan kewarasan Jung. "Tepat sekali, setidaknya bagiku!" Jawab Jung tak mengelak, "Sekarang, apa kau mau tahu perbedaan antara kecupan dan ciuman?" Tanya Jung, lagi-lagi dengan diiringi senyuman seduktif. Langkah kaki Jung menjadi terror tersendiri bagi V. Selangkah demi selangkah Jung mendekatkan dirinya, napas V semakin tersengal-sengal dibuatnya. Hingga ketika Jung sudah berada tepat 30 cm di depan V, ia mulai menghentikan langkah yang menerror V sedari tadi. "Aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya..." Ucap Jung yang kemudian menempelkan bibirnya pada V tanpa peringatan terlebih dahulu. Jung mengulum bibir V dengan ganas, tangannya mengunci leher sekaligus membimbing gadis itu agar bergerak seirama. Untuk beberapa saat V terhanyut dalam pagutan bibir Jung yang manis sekaligus memabukkan, memejamkan matanya dengan takut namun penuh penghayatan. Ia hanya diam, walau secara tak sadar jemarinya kini bahkan telah bergerak sendiri merengkuh leher Jung agar lebih mendekat dan menciumnya lebih dalam lagi. Saat tiba-tiba terdengar sebuah seng terjatuh dari dalam ruko di sebelahnya, V baru bisa kembali terbangun dan sadarkan diri. Matanya terbelalak karena terkejut. Ia sendiri bertanya-tanya,  apa yang baru saja ia lakukan? Mengapa ia begitu saja mau meladeni kegiatan bastard di depannya ini? Pada saat itu juga, V menggigit bibir Jung dengan sikap defensif sampai berhasil membuat pria bertubuh besar itu melepaskan kuluman bibirnya karena kesakitan. "Ternyata kau bisa nakal juga ya, Agashi!" Seru Jung terkikik sembari mengusap darah dari bibirnya akibat gigitan V barusan. V melayangkan tatapan tajam, "Aku sudah membayar satu hutangku padamu. Sekarang giliranmu menjawab salah satu dari pertanyaanku." "Kau tidak dengar apa yang kukatakan sebelum menciummu tadi? Aku melakukannya dengan niatan ingin mengajarimu agar kau dapat membedakan antara ciuman dengan kecupan. Siapa bilang itu dapat dihitung sebagai bayaran hutangmu?" Seru Jung tergelak, membuat V ingin sekali menampar wajah pria di depannya sekarang juga. Namun V menyadari, apapun yang dikatakan Jung selalu memanipulasi pikirannya hingga ia tidak mampu lagi menyergah ataupun menimpali. Seakan pikirannya tersebut bukan lagi menjadi miliknya sendiri. Jung mengentikan gelak tawanya, mengganti ekspresi dengan sebuah senyum simpul yang masih terkesan luar biasa seksi. Tatapan matanya menggoda V secara terang-terangan, "Ah... Aku lupa menanyakan satu hal... Apa kau bisa tidur nyenyak selama 3 minggu ini?" Sayangnya, V benar-benar tidak berniat untuk menjawabnya sama sekali. "Sepertinya tidak.” Tepat sekali. “Kalau begitu, aku minta maaf karena kali ini mungkin aku telah membuatmu menjadi semakin kesulitan tertidur dengan nyenyak untuk waktu yang lebih lama. Sampai jumpa lain waktu, ingatlah selalu hutangmu, dan tetaplah merasa tersiksa oleh dua pertanyaan yang belum sempat kujawab itu agar kau dapat selalu mengingatku." Jung meninggalkan V begitu saja di sana dengan sebuah pertanyaan baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN