Bab 8

1163 Kata
Sudah sebulan lamanya Chloe hidup bersama Chris. Keduanya tetap bersikap seperti biasanya, layaknya seorang teman, teman di ranjang maupun teman yang benar-benar teman. Selama satu bulan ini, Chloe merasa puas dengan pengorbanannya untuk menggantikan Lori sebagai pemuas nafsu Chris karena akhirnya, Jordan dan Lori bisa memulai hidup mereka tanpa gangguan dari Chris. Pria itu benar-benar menjalankan perjanjian mereka dengan baik. Selama satu bulan ini pula, Chloe mulai merasakan perasaan aneh yang melingkupi hatinya saat ia sedang bersama Chris. Entah perasaan yang seperti apa, ia belum bisa memastikannya. Dan ia tak ingin memastikan perasaan itu sebagai perasaan cinta karena ia tak mungkin mencintai Chris dalam kurun waktu satu bulan. Bukankah itu terlalu cepat? Sebenarnya tak heran juga kalau ia jatuh cinta dengan Chris secepat itu karena sikap yang ditunjukkan oleh pria itu kepadanya sangatlah lembut dan penuh dengan kebaikan. Dan setahunya, Chris bersikap seperti itu hanya kepadanya saja. Ya, ia sempat menanyakan soal Chris kepada salah satu temannya yang bekerja di perusahaan milik Chris. Dan dari cerita yang ia dengar lewat temannya soal Chris, ia yakin Chris sangatlah berbeda saat di kantor dan saat sedang bersamanya. Selain itu, Chris tidak pernah terlihat menganggapnya sebagai pemuas nafsunya saja. Pria itu bahkan tak pernah memaksanya saat ia sedang lelah dan tidak ingin melakukan seks dengannya. Pria itu pasti akan mengerti dan malah mengeluarkan sebuah lelucon untuk membuatnya kembali semangat. Dan Chris juga tak pernah melarang apa pun yang ingin dilakukannya. Pria itu masih membiarkannya untuk tetap bekerja. Jika dilihat-lihat, mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih saja. Chloe berulang kali mengganti siaran televisi untuk mencari acara yang bagus yang bisa menemani kesendiriannya malam ini selagi menunggu kepulangan Chris. Ya, beberapa hari yang lalu, Chris pergi ke London untuk mengurus beberapa hal penting di sana. Dan katanya, pria itu akan pulang malam ini. Maka dari itu, ia ingin menunggu kepulangan Chris. Jujur saja, beberapa hari tanpa Chris, ia merasa sedikit kesepian dan ada seberkas rasa rindu kepada pria itu yang melingkupi hatinya. Tanpa disadarinya, ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Chris. Chloe langsung bangkit dari duduknya begitu ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan cukup keras. Ia segera berderap ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan setelah ia mengetahui apa yang sedang terjadi, ia langsung memekik kaget. "Astaga! Ada apa denganmu?" Chloe segera bergegas menghampiri Chris dengan langkah panjang yang tampak terburu-buru. Ia benar-benar panik sekaligus cemas saat melihat Chris yang pulang dengan keadaan setengah mabuk dan wajah yang penuh dengan lebam. Chloe berusaha untuk membantu Chris yang tengah berpegangan pada sofa untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Ia meletakkan salah satu tangan Chris di pundaknya, bermaksud untuk memapah tubuh pria itu lantas membawanya ke kamarnya. "Biar aku saja," ucap Mark yang merupakan supir pribadi Chris yang tiba-tiba saja berada di antara mereka. Pria itu tampak cemas saat melihat kondisi Chris. Chloe menganggukkan kepalanya lantas menjauhkan tubuhnya dari Chris dan membiarkan Mark mengambil alih apa yang akan dilakukannya tadi. Ia lalu berderap ke dapur untuk mengambil peralatan yang akan digunakannya untuk mengobati Chris yang babak belur seperti itu. Sungguh, selama satu bulan ini, ia tak pernah sekalipun melihat Chris yang seperti itu. Ia tahu jika Chris memang suka minum minuman beralkohol, tetapi pria itu tahu batasannya sehingga ia tak pernah sekalipun mabuk seperti yang terjadi dengannya saat ini. Chloe tak tahu apa yang terjadi dengan Chris. Ia hanya berharap jika semuanya akan baik-baik saja karena ia benar-benar mencemaskan pria itu. "Apa yang terjadi?" tanya Chloe kepada Mark yang berdiri di sisi ranjang Chris saat ia baru saja masuk ke dalam kamar Chris dengan tangan yang penuh dengan peralatan dan obat untuk mengobati Chris. Ia bertanya kepada Mark karena ia yakin pria itu pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mark selalu ikut bersama Chris ke mana pun pria itu pergi. "Ini salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkannya tadi," jawab Mark yang tampak begitu bersalah. "Itu bukan salahmu," sambung Chris dengan suara yang terdengar begitu pelan dan mata yang masih tertutup. "Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya Mark dengan cemas sembari mendekat ke arah Chris. Chris membuka matanya perlahan. Ia lalu mengulas senyum tipis di bibirnya seiring dengan ringisan pelan yang keluar dari mulutnya. "Pulang dan istirahatlah. Aku baik-baik saja." "Tapi..." "Pulang dan istirahat, Mark. Ini adalah perintah." "Aku akan pulang dan istirahat," ucap Mark pada akhirnya. Ia lalu menoleh ke arah Chloe yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. "Nona, tolong jaga Tuan Chris," pintanya yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala oleh Chloe. Setelah itu, ia berpamitan kepada Chris dan Chloe terlebih dahulu sebelum pergi. Sepeninggal Mark, Chloe langsung mengambil duduk di pinggir ranjang Chris untuk mulai mengobati pria itu. "Kalian manis sekali. Benar-benar sudah seperti kakak adik sungguhan saja," ucapnya kemudian. Chris tersenyum kecil seraya bangkit dari posisi tidurnya lantas mengambil posisi duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. "Apa yang terjadi?" tanya Chloe yang baru saja memulai untuk mengobati Chris. "Saat aku ingin kembali ke Leicester, aku bertemu dengan Lori," jawab Chris memulai ceritanya. Dan apa yang dikatakan Chris barusan berhasil membuat pergerakan tangan Chloe yang sedang mengobati luka di wajah Chris terhenti begitu saja. Namun, hal itu hanya terjadi selama beberapa detik saja karena setelahnya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. "Aku senang sekali bisa melihatnya lagi. Aku ingin menghampirinya, tetapi aku langsung mengurungkan niatku begitu melihat Jordan juga ada di sana. Mereka terlihat mesra sekali. Awalnya aku ingin memukul wajah pria itu, tetapi aku teringat dengan perjanjian kita. Dan ya, akhirnya aku melampiaskan semuanya saat aku sudah berada di sini. Rasanya benar-benar sakit sekali melihat Lori yang terlihat bahagia dengan pria lain," Chris mengakhiri ceritanya dengan senyum miris yang terpatri di bibirnya. "Lalu, kenapa kau bisa sampai babak belur seperti ini?" tanya Chloe dengan suaranya yang tiba-tiba berubah menjadi serak. Entahlah, saat Chris menceritakan apa yang terjadi dengannya, ada segumpal rasa sakit yang langsung merasuki hatinya. "Aku lupa jelasnya seperti apa. Tapi sepertinya saat di bar tadi, aku menggoda kekasih orang," jawab Chris dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. "Setelah itu, aku pulang dengan taksi dan melupakan keberadaan Mark yang menungguku di luar. Bocah itu pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri saat ini," lanjutnya dengan senyum geli yang terpatri di bibirnya. "Lain kali, berpikirlah terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu," ucap Chloe dengan suara yang sudah kembali normal. "Selesai," ucapnya kemudian setelah ia selesai mengobati luka di wajah Chris. Chris mengulas senyum simpul di bibirnya. "Terima kasih." "Sama-sama," sahut Chloe seraya bersiap untuk mengembalikan peralatan yang tadi dipakainya untuk mengobati Chris. "Kau mau ke mana?" tanya Chris begitu Chloe mengangkat bokongnya dari atas ranjang. "Mengembalikan ini semua," jawab Chloe seraya menolehkan kepalanya ke arah peralatan yang tadi dibawanya. Chris memegang lengan Chloe lantas menyuruh wanita itu untuk kembali duduk yang langsung dituruti oleh Chloe. "Biarkan saja di situ," katanya kemudian. Chloe menatap Chris dengan bingung. Namun, sejurus kemudian, semua kebingungannya hilang saat Chris tiba-tiba saja mencium bibirnya. Detik itupula ia yakin kalau Chris menginginkannya. Dan ia tak bisa menyangkal kalau ia juga menginginkan Chris. Apalagi rasa sakit yang sempat ia rasakan beberapa saat yang lalu, membuatnya begitu menginginkan Chris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN