Wildan. Kuciumi wajah putraku sesaat sebelum orang suruhanku mengantar ibu dan Lilis kembali ke kampung ibu. Hmmm, wangi bayi menguar memenuhi penciumanku, membuat hatiku merasakan kedamaian. "Udah, Mas. Dari tadi kok ngendus-endus Bagas terus sih. Kalau Mas Wildan kangen nanti boleh video call ke nomor Lilis," ucap Lilis padaku. "Jaga anakku baik-baik ya, Lis. Sebenarnya aku ingin sekali dia tinggal di sini bersamaku, tapi keadaan belum memungkinkan," sahutku. "Tapi kan Lilis enggak mau tinggal di Jakarta, Mas. Lilis lebih senang tinggal di rumah ibu." Lilis balas menyahutku. "Kalau kamu nggak mau, kan Bagas bisa tinggal dengan Mama Alana di sini, iya kan, Nak?" Aku masih menciumi tangan bayiku. Lilis menatapku lekat. "Bagas anak Lilis, Mas. Bukan Alana. Nggak mungkin Lilis melepasn

