Bangunan museum itu tampak seperti gedung rumah modern alih-alih sedikit kuno seperti yang ada dalam bayangan Kaia. Bagian depan museum terdapat sebuah patung bentuk abstrak yang menambah esensi estetika pintu masuk museum.
Kaia turun dari mobil setelah Asta mematikan mesin. Netranya tidak lepas memandang ke sekitar kawasan museum yang hijau dan atapnya penuh dengan kanopi-kanopi tanaman.
"Yuk, Kai!" ajak Asta menunjuk pintu masuk museum yang tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil.
Dia mengikuti Asta menuju pintu masuk museum yang di bagian dindingnya terdapat beberapa peraturan saat mengunjungi museum. Mereka melewati peraturan itu dan membuka pintu ganda menuju sebuah ruangan luas yang dipenuhi pengunjung. Meja resepsionis tidak begitu jauh dari pintu masuk.
"Aku scan tiket dulu, ya," ujar Asta dan dibalas anggukan oleh Kaia.
Gadis itu masih mengikuti Asta hingga di depan meja resepsionis, memperhatikan pria itu menunjukkan kode bar tiket untuk ditukar dengan tiket fisik. Beberapa menit kemudian, dua tiket kunjungan museum telah berada di tangan Asta.
"Kita simpan tas dulu, ya." Asta membawakan tas Kaia untuk disimpan ke penitipan barang.
Pria itu lantas menghampirinya dan memasangkan gelang tiket ke pergelangan gadis itu. Perlakuan itulah yang membuatnya sering merasa salah paham pada intensi Asta.
"Biar kupasang sendiri coba," kata Kaia, tetapi Asta telah memasangkan gelang tiket itu dengan cepat.
"Udah," ujar pria itu sambil tersenyum dan memasang gelang tiket pada pergelangannya sendiri.
"Ayo, masuk!" ajak Asta.
Mereka melewati petugas keamanan dan mulai memasuki museum bersama beberapa pengunjung lain. Begitu masuk, pemandangan benda-benda estetis menyambut mereka. Ada beberapa mobil tua yang menjadi pameran tetap di museum itu beserta beberapa objek.
Lantas, mereka naik melalui tangga menuju lantai dua di mana pameran yang terbaru berada. Sebuah papan raksasa dipasang di dinding tangga, menunjukkan tema pameran kali ini tentang rupa kehidupan.
Cekrek.
Kaia terkejut dengan bunyi shutter kamera dan mendapati Asta tersenyum setelah menurunkan ponsel. Pria itu mengambil fotonya diam-diam.
"Sorry, kamu bagus banget di situ. Aku nggak bisa menahan untuk nggak mengambil foto. Aku bisa menghapusnya," kata Asta buru-buru.
Akan tetapi, Kaia hanya melambaikan tangan. "Nggak apa-apa. Kamu mau aku fotokan?" Gadis itu menawarkan.
Asta menggeleng. "Nanti aja. Yuk, naik! Kita belum melihat pameran di atas dan hanya punya waktu satu jam untuk menikmati itu semua."
Ruang pameran itu cukuo luas, meski jadi tampak sempit karena banyak pengunjung di sana. Berbeda dengan pameran tetap di museum yang berada di lantai dasar penuh dengan objek, di sini hanya berisi lukisan-lukisan yang merepresentasikan kehidupan manusia. Kaia terpana melihat itu semua pertama kali.
Rasanya seperti berada di dalam dunia kanvas. Semua lukisan itu terasa seperti nyata dan tidak nyata membuat Kaia tidak henti-hentinya terpesona.
"Bagaimana bisa seseorang melukis ini," gumam Kaia, menatap dengan saksama sebuah lukisan tentang orang dengan warna berbeda berdiri di tengah kerumunan orang-orang berwarna campuran hitam dan abu-abu.
"Aku bisa merasakan kesepian sekaligus keindahannya," tutur Asta.
Mereka lanjut berjalan-jalan melihat lukisan yang lain dan sesekali mengobrolkan makna atau pesan yang ingin disampaikan si pelukis. Kaia akan tertawa ketika Asta tiba-tiba mengatakan hal yang lucu, begitu pun sebaliknya.
"Lihat!" Asta menunjuk sebuah lukisan di samping lukisan yang tengah mereka perhatikan.
Kaia menoleh dan terkejut. Lukisan itu dibuat dengan bentuk cukup abstrak, tetapi bisa dilihat tentang pasangan yang menyatukan bibir dengan tangan saling bertautan dan di sekitarnya warna seperti meledak. Seketika wajah Kaia memerah saat memahami lukisan itu. Dia menepuk pundak Asta kesal.
"Apa maksudnya?"
Asta mengerling jahil dan tertawa. "Bukankah seperti itu rasanya jatuh cinta?"
Pertanyaan Asta tak dijawab oleh Kaia, alih-alih gadis itu berjalan melewati lukisan dengan wajah memerah.
"Hei, Kai, kamu melewatkan lukisan ini," panggil Asta menunjuk lukisan dua sejoli itu.
Namun, Kaia sudah berjalan menjauh dan berusaha nemfokuskan pikiran pada lukisan lainnya. Dia bisa mendengar langkah Asta mendekat. Diam-diam gadis itu merutuki dirinya yang merasa tersipu. Dia menepuk kedua pipinya agak keras.
"Hei, aku bercanda. Sorry, jangan marah," kata Asta begitu tiba di depan Kaia.
"Diam!" sentak Kaia masih dengan wajah memerah malu.
"Oke, aku nggak akan menggodamu lagi, tapi kenapa kami begitu malu?" tanya Asta sambil tertawa kecil, sukses menarik perhatian pengunjung lainnya.
Menurutmu aja, batin Kaia. Dia menepuk lengan Asta kesal dan menarik pria itu ke sebuah lukisan di pojok ruangan yang sepi pengunjung. Rasanya dia ingin berteriak pada Asta agar menghentikan tingkah jahilnya yang akan membuat Kaia justru semakin jatuh hati.
"Jangan terlalu cepat dong, Kai. Kita harus menikmati dan memaknai setiap lukisan. Selain itu, ini kali pertama kamu kemari dan kamu harus menceritakan bagaimana perasaanmu, oke?" tantang Asta.
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Karena aku ingin," jawab Asta singkat dan mencolek hidung Kaia main-main. Pria itu kembali tertawa saat melihat Kaia yang terdiam dan berusaha memproses informasi yang baru diterima oleh otaknya.
"Berhenti bercanda, Ta," ujar Kaia yang tidak bisa berhenti tersenyum.
"Aku nggak bercanda dan kali ini bersungguh-sungguh," ujar pria itu.
"Ya, ya, terserah kamu."
Kaia melewati Asta untuk pergi melihat lukisan-lukisan lainnya. Meski tampak santai, dia sedang berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ini semua karena ulah Asta. Curang betapa pria itu biaa bercanda dan Kaia justru memasukkannya ke dalam hati.
"Jadi, menurutmu bagaimana, Kai?" tanya Asta begitu mereka selesai memperhatikan dan menjelajahi setiap lukisan yang berada di dinding.
"Bagus," jawab gadis itu singkat.
"Bagus aja?" tanya Asta tidak percaya. "Ini kali pertamamu ke museum, loh. Ayo, ceritakan bagaimana perasaanmu?"
"Oke, oke." Kaia berusaha menahan ledakan rasa senang yang ada di perutnya. "Rasanta menyenangkan tentu aja. Terima kasih udah mengajakku ke sini, Ta."
"Itu aja??" Pria itu masih ingin mendengarkan lebih panjang.
"Belum selesai. Sebenarnya ada banyak yang ingin kukatakan, tetapi semuanya udah disedot dengan kekaguman pada lukisan-lukisan itu. Aku nggak tahu kalau pergi melihat pameran ini rasanya benar-benar menenangkan. Aku merasa berada di dunia lain saat menikmati setiap lukisan yang dipamerkan," ujar gadis itu dengan antusias tinggi.
Dia tersadar bahwa Asta tidak menjawab dan menoleh pada pria yang tengah menatapnya dengan intens.
"Apa?" tanya Kaia.
Asta hanya tersenyum saat menjawab, "Bukan apa-apa. Aku senang melihatmu menikmati ini semua. Lain kali akan kuajak melihat pameran yang lain."
"Ada beberapa galeri dengan koleksi pameran yang menarik," lanjut Asta.
"Dengan senang hati menerima saran dari pemandu," kata Kaia dan kali ini justru Asta yang tampak tersipu malu.
Tidak ada hari yang buruk ketika bersama Asta. Itu yang Kaia rasakan, tetapi dia tidak tahu apa yang menantinya di depan sana.[]