Perasaan Tak Bernama

1152 Kata
"Terima kasih, Ta," ucap Kaia begitu mereka tiba di depan kompleks apartemen Rere. "Sama-sama, Kai. Semoga nggak kapok main ke Orion, ya," ujar Asta sembari tertawa kecil. Kaia balas tertawa, "Nggak sama sekali." Setelah itu, Kaia turun dari mobil. Dia hampir menutup pintu saat Asta menahannya. "Kai, tunggu!" Gadis itu menghentikan tangan yang hampir menutup pintu mobil. "Kenapa, Ta?" Asta tampak sedikit tergesa mencari sesuatu di kantong dan ternyata pria itu mengeluarkan ponsel. "Boleh minta kontak kamu?" tanya Asta, menyodorkan ponsel pada Kaia. Gadis itu terhenyak sejenak, memproses apa yang baru saja terjadi. Lantas, tersadar dan mengangguk. "Tentu." Dia mengambil ponsel Asta dan menuliskan nomor teleponnya. Kaia dapat melihat dari sudut matanya bagaimana pria itu tersenyum. "Ini," ujar Kaia mengembalikan ponsel Asta setelah menuliskan kontaknya. "Terima kasih, Kai. Kapan-kapan kita harus mengobrol lagi." "Aku juga berterima kasih karena kamu udah mau mengantarkan. Kabari aja, aku akan cari waktu luang." Asta mengangguk. "Kalau begitu, aku pergi, ya." "Ya, hati-hati." Kaia menutup pintu mobil Asta. Pria itu melambaikan tangan dari dalam mobil sebelum mengendarai mobilnya menjauh dari kompleks apartemen Rere, meninggalkan Kaia yang membalas melambaikan tangan. Setelah mobil Asta benar-benar menghilang dari pandangan, Kaia bergegas masuk ke gedung apartemen. Senyumnya mengembang seiring lift naik menuju lantai tempat kamar apartemen Rere berada. Hatinya terasa sedikit ringan setelah melewati hari yang tidak terduga ini. Biasanya, dia tidak begitu menggemari pergi jalan-jalan keluar dan memilih untuk beristirahat di apartemen, tetapi hari ini rasanya benar-benar menyenangkan. Mungkin karena dia mengikuti acara tur buku penulis favoritnya atau pertemuannya dengan Asta—teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya. Dia akhirnya tiba di apartemen dan masuk dengan langkah riang. Dilepasnya sepatu dan menyimpan di atas rak sebelum berjalan menuju ruang tamu dan melemparkan tubuhnya ke salah satu sofa. Tubuhnya baru terasa lelah saat bersantai di atas sofa ini sebab sepanjang perjalanan tadi dia cukup tegang dan berusaha mencari topik yang asyik untuk menemani Asta menyetir. "Aku lihat-lihat ada yang moodnya sedang baik, nih." Suara Rere terdengar dari arah dapur. Kaia menoleh dan mendapati sepupunya menyender di dinding sembari menggigit sebuah apel dengan santai. Rere masih mengenakan apron dan di balik apron itu tampak baju kerjanya menyembul, menandakan bahwa gadis itu pasti langsung memasak begitu tiba dari tempat bekerja. "Re, astaga ... Ada yang perlu aku bantu?" tanya Kaia terlonjak duduk karena menyadari sepupunya pasti tengah memasak makan malam. Rere mengibaskan tangan—isyarat agar Kaia tidak memikirkan hal itu—dan melangkah santai kembali ke meja makan. Gadis itu melepas apron dan Kaia menyusul menuju dapur. "Ayo, makan malam. Semuanya udah aku siapkan, kok. Ayam asam manis dan tumis kacang panjang, apakah ada yang tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Rere begitu mereka duduk di kursi makan masing-masing. Kaia menggeleng. "Ini udah lebih dari cukup. Wangi sekali, aku baru sadar kalau aku lapar." Ternyata, sepotong kue dan segelas coffee latte tidak mampu mengenyangkan perutnya sehingga begitu indra penciumannya menangkap wangi masakan Rere, perutnya tidak sabar untuk segera mendapatkan makan. Dia bahkan lupa belum emncuci tangan sampai harus pergi mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum kembali bergabung dengan Rere. "Nah, kalau begitu selamat menikmati," ucap Rere. "Terima kasih banyak, Re. Selamat menikmati juga," kata Kaia dan mulai mengambil makanan. "Jadi ... Bagaimana cutimu hari ini? Kamu terlihat seperti orang jatuh cinta karena kulihat sejak tiba, kamu terus tersenyum," goda Rere yang membuat Kaia tersipu. "Hei, kamu serius, Kai?" tanya Rere yang tampak terkejut sebelum Kaia sempat menjawab pertanyaan gadis itu. "Apa?" Kaia balik bertanya karena tidak mengerti. "Kamu bertemu seseorang yang membuatmu jatuh cinta?" Tidak ada jawaban. Kaia berdeham gugup melihat tatapan Rere yang meminta penjelasan. "Sejujurnya, aku tidak yakin, Re." Sepupu yang hanya berjarak beberapa bulan lebih awal darinya itu meletakkan alat makan dan fokus menyimak Kaia. "Ceritakan padaku." Kaia meringis. "Ehm, kamu ingat Asta?" Pertanyaan itu hanya dijawab kernyitan dahi oleh Rere. Gadis itu berusaha mengingat keras nama yang dia sebutkan. "Asta Mahardika, teman masa kecilku dulu—" "Ah, ya." Ucapan Kaia terpotong oleh seruan antusias dari sepupunya. "Dia teman masa kecil yang suka menculikmu dan cinta pertamamu juga, bukan?" Wajah merona Kaia menunjukkan bahwa tebakan Rere benar, membuat gadis itu semakin antusias. "Ceritakan padaku." Lantas, Kaia mulai menceritakan bagaimana dia mengikuti tur buku penulis favoritnya dan tidak sengaja bertemu dengan Asta yang ternyata adalah pemilik kafe tempat diadakannya acara. Dia juga menceritakan bahwa mereka mengobrol banyak dan saling bertukar kabar, sebelum tiba pada bagian Asta menawarkan untuk memberi tumpangan pulang. "Dia tertarik padamu," putus Rere. "Bagaimana?" "Mana ada orang yang baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun bisa kembali akrab dan bahkan menawarkan untuk mengantar pulang kalau bukan karena tertarik?" "Dia memberikan tumpangan omong-omong, karena memiliki urusan di sekitar sini." Kaia mengoreksi. "Tetap aja, Kai. Itu mungkin aja alasan dia agar bisa mengantarmu pulang. Apakah dia meminta kontakmu?" tanya Rere. Kaia mengangguk dengan polosnya. "Nah, dia masih tetap ingin berhubungan dan berkomunikasi padamu, pasti dia memiliki ketertarikan padamu meski hanya sedikit." "Benarkah?" Kaia tidak begitu mahir tentang perasaan atau percintaan sehingga dia sendiri tidak tahu jika sesuatu seperti itu biasa menunjukkan ketertarikan seseorang. Seumur hidup, dia belum pernah menjalin hubungan dan dekat dengan laki-laki pun saat dia masih berteman dengan Asta. Setelah kedua orang tuanya bercerai dan mereka harus berpisah, Kaia sibuk beradaptasi di lingkungan baru seorang diri. Bahkan, saat dewasa pun dia mulai disibukkan mengurus Mama yang sakit dan tidak sempat memikirkan untuk dekat dengan seseorang atau memiliki kekasih. Selain itu, sejak awal dia memang masih menyukai Asta. Kini, ada sedikit perasaan yang kembali dan Kaia tidak yakin bagaimana dia menamai perasaan itu. Yang jelas, dia senang akhirnya bisa bertemu dengan Asta lagi dan dia tersipu saat melihat bagaimana pemuda itu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tidak pernah dia sangka. "Nggak apa-apa, Kai. Kamu memang butuh waktu untuk mengenali perasaan itu, tapi dari cerita yang kudengar Asta mungkin juga tertarik padamu," kata Rere. Gadis itu kini mulai melanjutkan makan malam yang tertunda untuk menanggapi dengan semangat bagaimana perjalanan Kaia hari ini. "Ya, aku tidak berharap apa-apa dan aku tidak tahu apakah masih menyukainya. Aku hanya merasa senang bisa bertemu dengannya dan mengetahui bahwa dia baik-baik saja," kata Kaia sembari memainkan nasi di piringnya. Rere hanya tertawa kecil, tahu jelas bahwa Kaia memang belum pernah mengalami hal seperti ini selain saat masa SMA dulu. "Baiklah, sekarang bagaimana perasaanmu setelah mengambil cuti, meski hanya satu hari?" tanya Rere. Gadis itu menjelma seperti detektif karena terus melontarkan pertanyaan seolah-olah perlu mengetahui perasaan Kaia. Namun, dia sama sekali tidak terganggu dengan itu karena memang begitulah cara sepupunya mengekspresikan rasa peduli. Dia jadi bertanya-tanya tentang perasaannya saat ini pada Asta. Apakah dia masih menyukai pria itu? Apakah Asta juga tertarik padanya? "Aku senang. Akhirnya, aku bisa mengikuti tur buku yang sejak lama ingin kudatangi." "Syukurlah, aku ikut senang." Lantas, obrolan makan malam itu terus berlanjut sampai makanan mereka tandas. Rere juga menceritakan pekerjaannya yang cukup merepotkan hari ini dan itu cukup membuat Kaia bisa mengesampingkan perasaan yang belum berani dia namai saat pertemuannya dengan Asta.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN