“Sebuah fakta, realitas, dan kenyataan yang tak bisa dibendung dengan kata. Semuanya menyakitkan, menyesakkan, dan menyisakan tangis peluh serta air mata kesia-siaan.”
***
Kembali pada rutinitas seperti biasanya menjadi seorang pustakawan adalah pekerjaan yang paling Zihan sukai. Pekerjaan yang tak begitu banyak memerlukan otak ataupun otot berlebih. Berkutat dengan berbagai macam buku-buku kedokteran. Menata dan merapikan buku sesuai rak yang sudah tersedia, adalah kegiatannya di pagi hari sebelum perpustakaan di buka. Di tengah kesibukannya menata buku tiba-tiba saja gawainya berbunyi dengan sangat nyaring, dengan cepat dia langsung mengangkat teleponnya.
“Assalamualaikum,” salamnya menyapa gendang telinga Zihan.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,” sahut Zihan menjawab salam orang yang ada diseberang sana.
“....”
“Apa gak bisa nanti siangan.”
“....”
“Oke gue otw sekarang.”
“Assalamualaikum,” salamnya mengakhiri panggilan.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,” sahut Zihan menjawab salam. Zihan langsung bergegas dengan cepat membereskan pekerjaannya terlebih dulu baru setelahnya dia langsung pergi entah kemana.
“Key, gue cabut ada keperluan mendadak,” teriak Zihan seraya membereskan barang-barang ke dalam tasnya.
“Masih pagi, Han masa iya loe mau cabut,” sahut Keyra, teman seprofesinya.
“Gue hari ini free yah, ada urusan,” katanya memberitahu.
“Ya udah hati-hati di jalan,” sahut Keyra.
Zihan menunjukan jari jempolnya sebagai jawaban.
***
Sesampainya di tempat tujuan Zihan langsung disuguhi pelukan serta tangisan dari seseorang yang telah menunggunya. “Loe kenapa? Kok nangis?” Zihan melepaskan pelukannya dan menyeka air mata lawan bicaranya.
Tak ada jawaban ataupun sahutan dia masih betah dengan gemingnya. “Duduk dulu biar loe tenang.” Zihan mendudukannya.
“Loe kenapa? Cerita sama gue.” Zihan sudah kepalang penasaran dengan tingkah sahabatnya yang pagi-pagi begini sudah menyuruhnya untuk bertemu, dan kini malah menangis di depannya.
“Cerita sama gue, Ra,” pinta Zihan karena tak kunjung mendapatkan penjelasan dari Zahra, sahabatnya.
“Gibran, Han... Gibran---” Zahra tak bisa melanjutkan kata-katanya.
‘Loe nangis gara-gara Gibran. Gibran apain loe?’ batin Zihan sudah berspekulasi ke mana-mana.
“Gibran kenapa, Ra?” tanya Zihan sebisa mungkin dibuat biasa saja.
“Gibran, Han---” Zihan gemas sendiri dengan penuturan sang sahabat yang selalu saja terpotong dan tersenggal-senggal karena isak tangis.
“Iyah kenapa, Zahra?” Zihan kembali menyeka air mata sahabatnya. Mata bengkak dan sembap Zahra sudah membuat pikiran Zihan terbang ke mana-mana.
Zihan memanggil salah satu waiters untuk datang ke mejanya. Tak lama waiters itu datang. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Mbak, tolong ambilkan segelas air putih,” pinta Zihan.
Waiters tersebut mengangguk dan segera pergi mengambil pesanan Zihan.
“Makasih,” ucap Zihan setelah waiters tersebut menyerahkan segelas air putih. Waiters tersebut hanya mengangguk dan tersenyum lalu kemudian pergi.
“Minum dulu, Ra.” Zihan menyodorkan air putih itu kepada Zahra.
“Istigfar, biar loe tenang,” titah Zihan setelah isak tangis tak terdengar lagi dari mulut sahabatnya.
“Astaghfirullah,” ucap Zahra beberapa kali.
“Cerita sama gue,” desak Zihan setelah suasana lebih membaik.
Zahra menarik napas panjang lalu membuangnya, “Semalem Gibran ke rumah gue, Han.”`
“Mau ngapain?” tanya Zihan antusias dan penasaran.
Zahra mengingat-ngingat kembali kejadian semalam di rumahnya.
***
Zahra dan kedua orang tuanya tengah asik menonton televisi di ruang keluarga. Namun tiba-tiba suara ketukan pintu membuat mereka menghentikan sejenak aktivitas menontonnya.
“Siapa sih malem-malem begini bertamu,” gerutu Zahra merasa terganggu.
“Gak boleh ngomong gitu,” peringat Prawira, ayahnya.
Zahra hanya cengengesan menanggapi ucapan ayahnya yang seringkali dia dipanggil Abi. “Ya udah biar Umi yang bukain pintunya,” ujar Hanna lalu bangkit dari duduknya.
“Biar Zahra aja.” Zahra langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumahnya. “Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh,” sahut Zahra menjawab salam dan membuka pintu rumahnya.
Zahra terperangah tak percaya dengan tamu yang ada di depannya saat ini. “Ngapain loe malem-malem ke sini?” tanya Zahra menghadiahi tamunya dengan pertanyaan yang terdengar tidak sopan.
“Emang gue gak boleh ke sini?” Dia malah balik bertanya pada Zahra.
“Ya udah masuk,” titah Zahra mempersilakan masuk tamunya.
“Siapa yang datang, Ra?” teriak uminya dari ruang keluarga. Zahra tersenyum kikuk pada tamunya, karena tingkah sang umi yang berteriak-teriak sudah seperti di hutan belantara saja.
“Maaf itu tadi Umi,” ucap Zahra tak enak. Tamunya hanya tersenyum maklum.
“Silakan duduk.” Zahra mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
“Zahra ke belakang dulu.” Izin Zahra untuk membuatkan minuman dan mengambil beberapa makanan.
“Siapa yang datang, Ra?” tanya Hanna pada saat Zahra berjalan menuju dapur yang kebetulan melewati ruang keluarga.
“Gibran, Umi,” jawab Zahra dan langsung melanjutkan langkahnya menuju dapur.
“Mau ngapain ke sini malem-malem?” tanyanya lagi sembari mengejar sang putri hingga dapur. Zahra mengangkat kedua bahunya tak peduli.
“Sendirian?” tanyanya lagi semakin antusias.
Zahra menggeleng, “Sama orang tua dan Kakaknya,” terang Zahra.
“Kenapa gak bilang dari tadi sih? Umi, ‘kan jadi malu tadi teriak-teriak.”
Zahra terkekeh melihat sang ibu yang sudah kepalang malu. “Ya udah Umi temuin dulu mereka,” pamit Hanna langsung melesat pergi menuju ruang tamu.
Zahra datang dengan nampan yang sudah berisi beberapa gelas minuman dan juga beberapa camilan. Baru saja Zahra memutar tubuhnya untuk kembali ke dapur. Namun, urung saat suara sang ayah menyuruhnya untuk tetap berada di ruang tamu.
“Duduklah,” titahnya. Zahra hanya menurut dan duduk di sebelah abinya. Raganya memang diam namun pikirannya terus saja berkelana ke mana-mana.
“Apa sih, Bi?” tanya Zahra setengah berbisik pada Prawira.
“Nak Zahra,” panggil Prasetya yang merupakan ayah dari Gibran dan Galang.
Zahra hanya tersenyum tipis menanggapi panggilan Prasetya. Tiba-tiba saja ia merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.
“Kedatangan kami kemari berniat untuk mengkhitbah, Nak, Zahra,” jelasnya yang membuat Zahra terperangah tak percaya.
'Mengkhitbah?' batinnya tak percaya.
“Untuk?” Hanya kata itu yang lolos dari bibir mungil Zahra.
“Putra kami,” balasnya. Namun, bukan itu jawaban yang Zahra ingin dengar.
‘Gibran? Ah gak mungkin dia, ‘kan sahabat gue. Kak Galang? Itu lebih gak mungkin lagi dia gak pernah nunjukkin kalau dia suka sama gue. Tapi kalau emang kak Galang sih gue gak bakal nolak,’ batinnya bertanya-tanya sendiri.
“Siapa?” tanya Zahra lagi. Jelas dia bertanya seperti itu ya karena memang di sana ada dua laki-laki dan mereka adalah putra dari Prasetya.
“Gibran,” katanya menjawab pertanyaan Zahra. Jangan ditanya lagi seberapa kaget dan bingung Zahra saat ini. Sulit untuk dipercaya. Bahkan sangat sulit.
'Gue gak salah denger, ‘kan? Gak mungkin. Gibran, ‘kan sukanya sama Zihan bukan gue,' batinnya menepis tak percaya. Ya, semenjak kejadian di kafe beberapa hari lalu itu membuat Zahra berasumsi bahwa kedua sahabatnya itu memiliki hubungan lebih dari sekadar hubungan persahabatan.
Tepukan lembut di tangannya membuat Zahra tersadar dan kembali ke alam nyata. “Jadi bagaimana, Nak Zahra?” tanya Prasetya menuntut jawaban dari Zahra.
Dia masih tak percaya dan tak bisa mempercayainya, masih teringat jelas di otaknya kemarin, Gibran seperti memiliki perasaan lebih pada Zihan. Terus kenapa malam ini jadi begini?
“Gimana, Ra?” Gibran ikut angkat bicara karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Zahra.
“Zahra kok malah bengong,” tutur Hanna menyadarkan putrinya.
“Eng...eng...enggak papa.” Zahra langsung menggeleng cepat.
“Gimana, Ra kamu menerima khitbah dari Nak Gibran?” tanya sang abi pada putrinya.
'Kalau ini mimpi tolong bangunkan Zahra segera ya Allah.' Dengan sekuat tenaga dia menepis kenyataan yang baru saja didengarnya.
***
Kenyataan baru yang semakin membuat rasa sakit di hati Zihan terbentuk dengan sangat sempurna. Sesempurna luka yang dirasakannya saat ini. Gibran mengkhitbah Zahra? Sulit untuk dipercaya. Mengapa bisa? Kandas sudah harapannya.
Kalah sebelum bertarung itulah yang saat ini tengah gadis itu rasakan. Rencana Allah itu indah, Zihan kamu harus mempercayainya, sisi baiknya menguatkan. Namun sisi buruknya juga tak kalah hebat meracuni pikiran Zihan.
Zihan speechless tak bisa berkata apa-apa lagi. Kebingungan dan kegundahannya kini terjawab sudah. Dia bukan jodoh loe, itulah jawaban yang Zihan dapatkan atas do'a-do'a yang selalu dia panjatkan di sepanjang malam.
“Gue harus gimana, Han?” tanya Zahra membuyarkan Zihan dari lamunan panjangnya.
“Apa, Ra?” Zihan tak begitu fokus dengan pertanyaan yang baru saja sahabatnya lontarkan.
“Gue harus gimana, Han?” ulangnya.
Bertanya dan bercerita seperti itu pada Zihan sama saja seperti membunuh dia secara perlahan-lahan. Zihan hanya menggeleng sebagai jawaban. Jujur dia juga bingung dan tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
“Bantuin gue, Han.”
“Apa?” Rasanya Zihan ingin mengakhiri semuanya saat ini juga.
Stop Zahra jangan bertanya lagi mengenai hal itu. Itu hanya akan melukai dan menghancurkan perasaan Zihan semakin dalam.
“Gue gak mau nikah sama Gibran, Han,” adunya yang membuat sedikit kelegaan di hati Zihan.
“Kenapa?”
“Gue gak suka sama dia,” jawabnya yang membuat Zihan semakin bisa bernapas dengan lega karena perasan Gibran tak terbalaskan.
“Terus gimana, Han?” tanyanya semakin frustrasi.
“Loe tau yang terbaik buat diri loe sendiri dan itu hanya loe yang tau,” sarannya.
“Gue gak tau, Han makanya gue nanya ke loe.”
“Jangan nanya gue, Ra karena gue juga gak tau. Salat malam minta petunjuk sama Allah, bukan sama gue yang hanya seorang hamba biasa.”
“Tapi, Han---” Zahra takut kalau jawaban yang akan diterimanya nanti jauh dari ekspektasi.
“Kalau dia emang jodoh yang Allah kirimkan buat loe. Loe harus menerima takdir yang telah Allah gariskan.” Air matanya sudah mendesak ingin keluar. Ada rasa sesak dan tak ikhlas pada saat mengatakan hal itu. Namun sebisa mungkin Zihan tahan dan bersikap kuat serta sabar.
Zahra menggeleng keras, tak suka dengan ucapan yang baru saja sahabatnya katakan. “Jangan tutupin luka loe sama senyuman palsu, Han.” Zahra muak melihat senyum yang selalu sahabatnya tampilkan untuk menyembunyikan kesakitan.
Zihan menggeleng dan kembali tersenyum manis bahkan sangat manis. Namun jangan tanya seberapa terlukanya dia. Sungguh tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Cukup, Han jangan buat gue ngerasa bersalah sama loe,” ungkapnya.
Zihan menggeleng tak setuju dengan penuturan Zahra. “Loe gak salah.”
“Gue salah, Han gue salah.” Air mata Zahra kembali lolos dari pelupuk mata indahnya.
“Qadarullah.”
Zahra yang kini menggeleng tak setuju. Dua perempuan yang sama-sama memendam rasa cinta dan kesakitan dalam waktu yang bersamaan. Cinta yang seharusnya memberikan kebahagiaan kini malah memberikan banyak kesedihan. Cinta seperti apa yang tengah mereka rasakan?
-Bersambung-