Part 7 | Kesakitan

1592 Kata
“Aku telah mencoba untuk melupakanmu. Melupakan bayang-bayang indah tentang dirimu. Tapi hati dan pikiranku terus saja menentang tak setuju.” *** Mengendarai mobil dengan gusar dan gelisah entah apa yang ada di pikirkan gadis cantik dengan balutan hijab pashmina serta gamis berwarna senada itu. Pikirannya sudah terlalu banyak terkontaminasi dengan beragam rasa yang membuat dadanya sesak seketika. “Bismillah gak akan terjadi apa-apa,” gumamnya yang terus saja terpaku pada jalanan Ibu kota yang padat merayap. Suara deringan gawai sedari tadi berbunyi dengan nyaring tapi tak dihiraukan gadis itu. Dia fokus mengendarai mobilnya, tak ada sedikit pun niatan untuk menjawab ataupun mengangkat panggilan tersebut. Tak lama mobilnya terparkir rapi di halaman rumah yang cukup besar dan megah. Tanpa ada sedikit pun keraguan dia melangkahkan kakinya memasuki rumah yang dia sambangi. “Assalamualaikum,” salamnya seraya menekan bel. “Wa'alaikumusalam warahmatullah,” sahut seseorang menjawab salamnya. “Maaf lama tadi biasa di jalan macet,” ujarnya yang hanya dibalas senyuman maklum dari sang tuan rumah.  “Mau langsung ke kamarnya?” Gadis itu tersenyum ramah dan mengangguk. Lalu pergi dan berlalu memasuki kamar yang dimaksud. “Ini gue Zihan,” katanya seraya mengetuk pintu kamar. Tak ada sahutan akhirnya Zihan membuka kenop pintu yang ternyata tidak dikunci. Dengan langkah pelad dia masuk ke dalam. “Loe kenapa?” tanya Zihan  khawatir dan sangat perhatian. Tak ada respons yang diberikan dia malah merasakan dekapan hangat di tubuhnya dan isakan pilu menyeruak indra pendengarannya. “Jangan nangis dong gue ada di sini,” tutur Zihan melepaskan dekapannya dan menyeka air mata orang yang ada di hadapannya. “Gue malu, Han,” ucapnya berbarengan dengan air mata yang kembali menguar dari matanya. “Malu?” tanya Zihan. Zahra mengangguk lantas berkata, “Gue udah bikin keluarga gue sama Gibran malu, Han.” “Gue ngebatalin pernikahan gue sama Gibran,” lanjutnya menunduk. Zihan terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Zihan menggeleng cepat 'Gak mungkin! Kenapa bisa?' batinnya terus saja bertanya-tanya hal yang sama. “Bukannya seharusnya kalian menikah tiga hari lagi?” Ada sesak di hati Zihan kala  mengatakan hal itu. “Gue yang nyuruh Gibran batalin semuanya, Han.” Tangisnya kembali pecah. 'Gak mungkin, ini gak mungkin terjadi bagaimana bisa pernikahan yang sudah di depan mata batal begitu saja,' pikir Zihan masih tak bisa mempercayainya. “Kenapa?” Hanya kata itu yang meluncur bebas dari bibir mungilnya. “Gue gak suka sama dia,” ungkap Zahra menghapus kasar air mata yang lagi-lagi membasahi wajah cantiknya. Zihan tak kaget ataupun heran mendengar kata-kata itu meluncur bebas dari bibir sang sahabat karena memang beberapa hari yang lalu Zahra memintanya untuk membatalkan pernikahan. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa Gibran bersedia menuruti keinginan Zahra? Rasanya ganjil dan aneh jika Gibran mundur begitu saja. Itu juga yang ada di dalam benak Zihan. “Apa loe udah pikirin baik-baik keputusan loe?” Sebagai sahabat yang baik Zihan hanya bisa mendukung sahabatnya. Zahra mengangguk mantap. “Insya Allah gue udah yakin sama keputusan gue.” “Kalau loe yakin sama keputusan loe, kenapa loe sekarang kaya gini?” tanya Zihan penuh kehati-hatian. Pasalnya Zihan datang menemui Zahra dalam keadaan kurang baik. Wajah pucat pasi dengan mata sembab dan kondisi fisik yang lemah tak bertenaga. “Gak papa, Han,”  dustanya menutupi rasa sakit yang menggerogoti tubuh sekaligus hatinya. “Bohong dosa loh, Ra,” ucap Zihan menakut-nakuti Zahra agar berkata jujur. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur,’” lanjut Zihan memperkuat ucapannya dengan sebuah hadist. Zahra termenung masih bertahan dengan gemingnya. “Ya udah kalau gak mau cerita gue cabut aja.” Zihan berpura-pura bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya untuk pergi. “Gue nyesel udah batalin pernikahan ini,” cetus Zahra yang membuat Zihan mematung dan berdiam diri di tempat. 'Menyesal?' Hatinya kembali merasakan nyeri tiada tara. Pernyataan Zahra berhasil menohok perasaannya. Dengan perlahan Zihan memutar tubuhnya dan kembali menghampiri Zahra setelah keadaannya mulai membaik dan bisa dia kendalikan. “Gue nyesel, Han,” ulangnya yang semakin membuat luka di hati Zihan menganga dengan begitu besar. Apakah Zahra akan tega melihat kedua orang tuanya menanggung malu atas pembatalan pernikahannya? Dia tidak akan tega melakukan hal itu, dia akan mencoba membuka hatinya untuk Gibran.  'Ya, gue akan mencobanya,'  batinnya bermonolog. Zihan tersenyum manis untuk menutupi luka di hatinya. “Belum terlambat untuk melanjutkan semuanya.” Rasanya air mata sudah mendesak keluar. Sesak di dadanya semakin menyeruak ke permukaan. Zahra tersenyum mendengar penuturan dari Zihan lalu memeluknya dengan sangat hangat dan erat. “Tapi loe gak papa, ‘kan?” tanya Zahra hati-hati dan melepaskan pelukannya. “Kenapa loe nanya kaya gitu?” Zihan malah kembali melontarkan pertanyaan. “Loe, ‘kan suka sama Gibran. Gue gak mau loe tersakiti gara-gara gue,” katanya menunduk tetesan bening itu kembali keluar dari pelupuk mata. Rasanya sepanjang hari ini Zahra menjadi seseorang yang cengeng. Meskipun Zihan tak pernah bercerita tentang bagaimana perasaannya pada Gibran. Namun, bisa terlihat jelas dari sorot mata Zihan yang memancarkan rasa cinta dan Zahra tahu itu. Sebagai seorang wanita yang memiliki tingkat kepekaan yang cukup bagus. “Gue bahagia kalau liat sahabat gue bahagia,” ucap Zihan dengan seulas senyum manisnya. Walau, dia sadar bahwa kini lukanya semakin kuat mengakar. Tapi dia ikhlas, ikhlas agar kedua sahabatnya hidup bahagia. “Loe emang sahabat gue yang paling baik, Han,” ungkapnya kembali memeluk Zihan. “Udah jangan berlebihan.” Rasanya Zihan ingin berlari dan berteriak sekencang-kencangnya mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. 'Ini yang terbaik,' batinnya mencoba menguatkan dirinya yang nyatanya sangat rapuh. “Makasih, Han,” kata Zahra seraya menggenggam erat kedua tangan sahabatnya. Zihan hanya mampu tersenyum dan mengangguk. “Karena sahabat gue udah kembali lagi. Sekarang gue harus cabut dulu,” ujar Zihan yang sudah tak kuat lagi untuk berpura-pura baik-baik saja. Rasanya sudah tak sabar mengadu kepada Allah Sang Maha Pemilik Cinta atas semua rasa sakitnya. “Kok buru-buru banget sih, Han,” cegah Zahra masih enggan melepas kepergian sahabatnya. “Lain waktu gue bisa main lagi ke sini.” “Tapi, Han---” “Udah yah, Ra gue harus cabut sekarang juga,” potong Zihan cepat. “Ya udah tapi loe harus sering main ke rumah gue yah. Apalagi kalau nanti gue udah nikah jangan lupain gue.” Ucapan Zahra kembali mencabik-cabik hati dan perasaan Zihan. Kini lukanya sempurna sudah. Dia sudah tak bisa lagi untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Dia ingin pergi sekarang juga! 'Sakit.' Hatinya menjerit. “Insya Allah,” hanya itu yang bisa Zihan katakan. 'Gue liat Gibran sama Siska aja sakit hati. Gimana kalau gue liat loe duduk bersanding sama gibran dipelaminan?' batinnya miris. *** Diam termenung menikmati terpaan angin malam di balkon kamar. Langit hari ini berkabut sepertinya hujan akan datang. Langit iba dan merasakan hal yang sama seperti yang tengah Zihan rasakan. Biarlah hujan melarutkan air mata kesedihannya. Biarlah petir menyamarkan teriakan serta jeritan kesakitannya. “Han, masuk hujan,” titah Windi, bundanya. “Iya, Bun bentar lagi,” Zihan masih enggan meninggalkan kesedihannya bersama dengan rintik hujan yang sudah mulai membasahi tubuhnya. “Ayo masuk,” ajak bundanya seraya membawa payung agar tubuh sang putri tak terkena rintik hujan. “Ganti bajunya terus istirahat.” Instruksi Windi setelah mereka memasuki kamar. Zihan hanya mengangguk dan menuruti perintah bundanya. “Bunda tau apa yang kamu rasakan, Nak,” gumamnya merasa iba dengan sang putri. Setiap ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada setiap hambanya adalah bukti cinta-Nya. Kalau seorang hamba diuji itu berarti Allah mencintainya. Sebagaimana dalam Q.S Al-Baqarah ayat 286 yang artinya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...” Begitulah cara Allah mencintai setiap hambanya. Luka, cinta, tangis, sedih, bahagia, bahkan air mata datang silih berganti menyapa setiap insan manusia. “Kamu putri Bunda yang kuat dan hebat,” lirihnya dengan setetes air mata yang begitu lancang keluar begitu saja. “Udah selesai?” tanyanya setalah Zihan keluar dari kamar mandi dan dengan cepat Windi menghapus sisa air matanya. Zihan hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban. “Bunda kenapa?” tanya Zihan. Dia melihat mata sang ibu memerah dan ada bekas air mata di wajahnya. Dengan cepat Windi menggeleng. “Bunda enggak papa.” “Ya udah kamu istirahat Bunda juga mau istirahat udah malem.” Windi langsung pergi berlalu meninggalkan kamar putrinya. Zihan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dilipatnya kedua tangan  lalu dia jadikan sebagai bantal untuk menyanggah kepala. Sebelum dia benar-benar terlelap ke alam mimpi, dia membaca doa sebelum tidur terlebih dahulu. *** Zihan terbangun tepat di sepertiga malam. Menumpahkan segala keluh kesah di hatinya kepada Allah Sang Pemilik Segalanya. Tepat di sujud panjang terakhir, dia mengukir doa merajut cinta kepada Sang Maha Pencipta. “Ya Allah, Engkaulah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Maka teguhkanlah hamba dengan agama-Mu. Lapangkanlah hati hamba untuk menerima kenyataan ini. Hilangkanlah perasaan di hati hamba untuknya. Berikanlah hamba keikhlasan dan kesabaran untuk bisa melihat kedua sahabat hamba bersanding dan hidup bahagia. Permudahkanlah segala urusan kedua sahabat hamba dalam menjalankan sunnah Nabi-Mu. Hamba Ikhlas jika ini adalah takdir yang sudah Engkau gariskan untuk hidup hamba.” Zihan mengakhiri salatnya dengan ucapan salam. Mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. “Inilah rasanya sakit berharap pada sesama manusia,” gumamnya. Sungguh tak bisa dia cerita bagaimana sakitnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.” Dan kini Zihan sendiri yang merasakan sakitnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN