31. Satu Hati

1647 Kata

Qiara memberikan pukulan kecil di bahu belakangnya untuk menetralkan pegal-pegal setelah keluar dari ruang operasi, pun Ridwan mengekor di belakangnya untuk menemui wali pasien kecelakaan. Dokter mungil berbalut hijab dan kaca mata itu menghampiri wali pasien dengan profesional. Ia tak menampakkan lesunya. “Pendarahannya cukup parah akibat luka terkena ujung bamper mobil yang runc---” Tiba-tiba Qiara menghentikan kalimatnya saat mendapati air muka penuh ketakutan, serta getaran dahsyat penuh kekhawatiran dari istri serta keluarga pasien, terlebih ada pengaruh dari raut dingin Qiara. Ia juga kembali mengingat nasihat Dokter Harun yang selalu tertanam di otaknya. “Jadi, suami saya gimana, dok? Dia masih hidup, kan?” Sang istri sudah berlumuran air mata. Suaranya bergetar. “Ah~ alhamdulill

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN