Happy Reading
*****
Keluar dari ruangan si Bos, sekujur tubuh Kiran dibanjiri keringat. Jilbab yang dikenakannya saja terlihat basah di bagian kepala padahal dia menggunakan dalaman jilbab. Si gadis berjalan gontai menuju ruang produksi yang disiapkan untuknya, diantar Syaif.
Satu senyuman diberikan oleh sang manajer HRD pada seorang perempuan yang mejanya bersebelahan dengan meja Kiran. Gadis itu melirik dan saat itulah wajahnya berubah. Dua perempuan itu saling melempar senyum.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Syaif.
"Dia sahabat saya, Pak," jawab gadis di hadapan si manajer yang bernama Fitriya.
"Oo, begitu. Tolong bantu dia, Fit. Jelaskan apa-apa yang harus dikerjakan di sini. Walau di pusat dia sudah ahlinya, tapi keadaan di cabang berbeda."
"Siap, Pak." Fitri antusias menyambut sahabatnya.
"Saya tinggal dulu. Selamat bekerja, semoga kamu betah berada di cabang ini," kata Syaif sambil mengulurkan tangan pada Kiran. Namun, ditolak secara halus oleh gadis dengan menangkupkan kedua tangannya di depan. Setengah malu, sang manajer HRD langsung meninggalkan keduanya.
"Ke mana aja, sih, Ran? Aku udah nunggu dari tadi, lho," tanya Fitri saat Syaif sudah pergi.
"Ban motorku bocor. Untung aja ada bengkel buka," jelas Kiran. Dia menaruh tas di atas meja dan mulai menyalakan komputer. Sebelum pindah, Wijananto sudah memberinya tugas merancang pengeluaran produksi untuk diajukan pada bagian keuangan.
"Terus, tadi kenapa lari?"
"Ish, kamu Fit. Dah kayak para petinggi perusahaan aja nanyanya."
"Kamu yang aneh," kata Fitri disertai lirikan, "Sudah sampai kantor malah lari kayak ngelihat hantu."
"Udah... udah. Ngobrolnya lanjut nanti, aku mau ngerjain tugas dari big father."
Fitri melongo. "Big Father siapa, Ran?"
"Siapa lagi kalau bukan Pak Wijananto. Emang kamu enggak tahu sebutan itu?"
"Nggak."
Lama, mereka berbincang-bincang hingga suara telepon di meja Fitri terdengar. Gadis dengan rambut diikat ke belakang semua, hanya menyisakan poni belah kanan itu mengangkat. Keningnya berkerut sesekali mengucapkan kata iya dan maaf.
"Siapa, sih?" tanya Kiran.
"Putra mahkota. Heran, deh. Kenapa juga dia matai-matai aku. Baru sekali ini, aku ditelpon cuma ngasih peringatan." Fitri ngedumel sendiri, sementara Kiran lebih fokus lagi pada layar komputer. "Ran, kamu denger aku ngomong, 'kan?"
"Denger," sahut Kiran, tetapi tetap fokus pada layar komputer. Tak mau lagi dia mendengar kata keras si bos.
"Terus kenapa diem aja nggak nanggepi?"
Kiran meletakkan jari telunjuk ke bibir sambil mendesis. "Fokus kerja! Jangan sampai si bos nelpon lagi."
Bekerja di perusahaan Wijananto selama lebih tiga tahun tentu membuat Kiran tahu siapa putra mahkota yang dimaksud sahabatnya. Putra tunggal sang pengusaha yang tadi pagi bersuara keras. Lebih dari itu, si gadis tak mengetahui apa pun.
Waktu terus berputar hingga jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Fitri bangkit dan mengajak sahabatnya makan siang. Mereka berdua pergi ke kafe yang letaknya di sebelah kanan kantor.
"Kamu pesen apa, Ran?" tanya Fitri.
"Apa menu andalan di sini? Aku sebenarnya masih kenyang."
"Duh, jaga bodi banget. Dari dulu kayak nggak sahabatan sama nasi dan lain-lainnya."
Kiran memainkan mata lucu, gelak tawa mereka menggema. Dari arah pintu masuk, dua orang petinggi perusahan berjalan mendekati keduanya. Pada jam-jam istirahat seperti ini, pengunjung kafe selalu banyak. Fitri menyenggol lengan sahabatnya dan berbisik akan memesan makanan.
Syaif yang melihat Fitri berdiri segera mendekat, sementara Amir masih mengedarkan pandangan mencari tempat duduk.
"Di meja anak baru aja, Mir," kata Syaif, "mereka cuma berdua. Rasanya nggak masalah kalau kita semeja dengannya. Meja lain udah penuh semua."
Amir menoleh dan mengangguk, kakinya melangkah mendekati meja Kiran dan hal itu sukses membuat si gadis gemetaran tak karuan. Begitu santai si bos duduk di sebelahnya, tanpa ucapan permisi atau yang lain. Alih-alih menyapa, si bos malah mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jemarinya mulai sibuk mengetikkan sesuatu, mata sedikit melebar dengan muka mulai memerah.
Tak sabar, pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga kiri. Bersamaan Fitri datang membawa semangkok soto yang kuahnya terlihat mengepul.
"Bapak itu gimana!" bentak Amir, "sering kali dibilang jangan teledor kalau kerja. b***k apa bodoh?"
Tangan Kiran gemetaran mendengar perkataan keras Amir. Gadis itu sudah akan meraih mangkok soto yang diberikan sahabatnya. Namun naas, suara menggelegar si bos membuatnya menjatuhkan mangkok karena terkejut. Sialnya, kuah panas itu mengenai paha lelaki yang tengah emosi.
"Bodoh!" ucap Amir sambil matanya melotot ke arah Kiran. "Bisa lebih hati-hati!"
Kiran berlari meninggalkan kafe tanpa meminta maaf atau membersihkan sisa kuah yang tertinggal pada celana si bos. Fitri yang melihat semua itu, hanya bisa melongo. Belum pernah dia mendapati sahabatnya ketakutan seperti tadi.
"Nasehati temanmu untuk lebih sopan pada atasan." Amir meninggalkan kafe tersebut setelah berkata.
Beberapa detik kemudian, Syaif datang. "Pak Amir kenapa, Fit?" tanyanya.
Jawaban Fitri membuat si manajer HRD makin penasaran. Pria itu duduk dan menatap bawahannya. "Ceritakan ada apa sama Pak Amir dan sahabatmu tadi," pintanya.
Fitri duduk dan mengaduk jus jeruk yang dipesan. Menarik ujung pipet dan mengarahkan ke mulut. Sebentar saja, minuman itu sudah masuk ke tenggorakan. Selesai meneguk minumannya, dia mulai berkata, "Saya nggak tahu ada apa, Pak. Pas saya datang, Pak Amir sedang menelepon dan berkata keras pada seseorang. Entah mengapa Kiran seperti ketakutan dan akhirnya menjatuhkan mangkok soto itu."
Si staf produksi melirik mangkok makanan di lantai yang kini sedang dibersihkan oleh pelayan kafe. Syaif memberi selembar uang kertas berwarna biru pada karyawan dan mengatakan sesuatu. Setelah itu, si karyawan tersenyum dan meninggalkan keduanya.
"Apa Kiran punya hubungan sama Pak Amir sebelumnya?" tanya Syaif serius.
Gadis itu menggelengkan kepala, beberapa saat kemudian menggerakkan kedua bahunya ke atas. "Saya nggak tahu, Pak. Selama saya mengenal Kiran belum pernah dia berhubungan sama cowok."
"Yakin, Fit?" selidik Syaif yang diangguki oleh si gadis. "Masalahnya, tadi pagi, Kiran juga lari ketakutan setelah melihat Pak Amir."
Mata Fitri menyipit, "Maksud Bapak mereka punya hubungan spesial gitu? Nggak mungkin, Pak. Kiran itu cewek anti pacaran," jelasnya.
"Terus, kenapa dia selalu lari pas ada Pak Amir?"
"Au ah, Pak. Perut saya udah bunyi, laper. Ngobrol terus nggak bakal bikin kenyang."
Meninggalkan sahabatnya di kafe kini perempuan itu sampai di pos satpam kantornya. Kiran terengah-engah. Dia mencoba duduk untuk menetralkan ketakutan serta napasnya. Namun, baru saja jantungnya kembali normal suara lelaki tadi terdengar kembali.
"Hei, kamu!" kata si bos.
Gadis itu melirik sekeliling, sepi. Selain mereka berdua, tak ada orang lain di sana. Sebelum duduk tadi, satpam terlihat berjalan masuk ke kantor. Jantung Kiran berpacu dengan cepat.
Jangan lagi, Ya Allah. Tolong jauhkan lelaki itu dari hamba. Doa Kiran dalam hati.
*****